Deeptalk.co.id – Hidup di era modern seperti sekarang membuat kita dengan mudah mendapatkan banyak informasi. Namun, ada saja orang-orang yang menutup mata akan fakta di lapangan, dan lebih percaya dengan asumsi awal yang diyakininya. Fenomena semacam itu dalam kacamata psikologis dikenal dengan istilah confirmation bias.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai confirmation bias, dan bagaimana cara untuk mengatasi kondisi tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa didapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Apa Itu Confirmation Bias?

Confirmation bias atau bias konfirmasi adalah fenomena psikologi dimana individu memiliki kecenderungan untuk menafsirkan, mencari, mengingat, dan lebih mempercayai informasi yang mendukung asumsi awal atau keyakinan yang dimiliki. Di sisi lain individu tersebut justru mengabaikan atau meremehkan segala bentuk informasi yang bertentangan dengan asumsi awal atau keyakinannya. Individu yang mengalami confirmation bias bisa mempengaruhi cara mereka dalam mengambil keputusan.
Confirmation bias bisa dilihat pada para perokok yang yakin bahwa rokok membawa dampak positif, seperti ketenangan untuk dirinya. Hal tersebut membuatnya mengabaikan segala bentuk informasi terkait dampak negatif rokok, termasuk yang jelas tertera pada bungkus rokok. Mereka juga akan menafsirkan positif untuk informasi-informasi bias terkait dampak rokok terhadap kehidupan.
Baca juga: Confirmation Bias dan Proses Rekrutmen: Ketika Perekrut Salah Menilai Kandidat
Bagaimana Cara Mengatasi Confirmation Bias?

Pada dasarnya confirmation bias bukan salah satu jenis gangguan mental. Meski demikian, perlu diingat bahwa bias kognitif yang satu ini bisa mempengaruhi individu dalam mengambil keputusan. Maka dari itu, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi confirmation bias:
Sadari dan kenali keberadaan confirmation bias
Untuk mengatasi suatu kondisi, langkah utama yang perlu kita lakukan adalah mengenali keberadaan kondisi tersebut. Tentunya dengan mengenali ciri-ciri confirmation bias dalam diri sendiri maupun orang-orang disekitar kita. Jika sudah menyadari adanya kondisi tersebut, barulah kita bisa melakukan cara-cara lainnya untuk mengatasi confirmation bias.
Latihan metakognisi
Cara kedua untuk mengatasi confirmation bias adalah dengan melakukan latihan metakognisi. Metakognisi sendiri adalah kemampuan individu dalam menyadari, memahami, dan mengendalikan proses berpikir diri sendiri. Kemampuan metakognisi inilah yang melatih individu untuk lebih selektif dalam proses pengambilan keputusan. Melatih kemampuan metakognisi bisa dengan menulis jurnal atau melakukan latihan mindfulness.
Mendengarkan pendapat yang berlawanan
Cara ketiga untuk mengatasi confirmation bias adalah dengan belajar mendengarkan pendapat yang berlawanan. Pasalnya, individu dengan confirmation bias memiliki kecenderungan hanya akan mendengarkan informasi yang sejalan dengan pandangan awalnya saja. Dengan mendengarkan pendapat yang berlawanan, individu bisa menyeimbangkan perspektif, dan mengurangi kecenderungan mencari informasi yang sejalan.
Uji hipotesis secara objektif
Cara keempat untuk mengatasi confirmation bias adalah dengan melakukan uji terhadap hipotesis secara objektif atau ilmiah. Dengan demikian individu bisa mendapatkan kebenaran dibalik hipotesis awal yang dimiliki. Uji berbasis data, saintis, atau ilmiah bisa memperkuat hipotesis dapat dipercaya atau tidak dapat dipercaya. Pada akhirnya keputusan yang diambil tidak hanya tentang keyakinan awal saja, melainkan berdasarkan penilaian yang jelas.
Gunakan teknik perspektif-taking
Cara kelima untuk mengatasi confirmation bias adalah dengan menggunakan teknik perspektif-taking. Teknik yang satu ini merupakan upaya untuk melihat dan memahami situasi dengan sudut pandang orang lain. Teknik perspektif-taking akan membantu individu memperluas wawasan, dan tentunya mengurangi penilaian yang bias. Teknik perspektif-taking bisa dengan tidak langsung menolak pendapat orang lain yang bertentangan, melainkan memikirkan kenapa orang tersebut bisa memiliki pendapat yang bertentangan.
Evaluasi kembali keyakinan awal secara berkala
Cara keenam untuk mengatasi confirmation bias adalah dengan melakukan evaluasi secara bertahap terhadap keyakinan awal yang dimiliki. Pada dasarnya manusia memiliki kebiasaan untuk mempertahankan padangan awal yang mereka miliki. Sedangkan cara ini bisa membantu individu untuk meninjau kembali keyakinan, dan memberikan ruang terhadap perspektif baru. Jika keyakinan awal benar, maka langkah ini bisa memperkuat keyakinan. Namun jika salah, maka individu bisa keluar dari keyakinan tersebut.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai confirmation bias dan cara untuk mengatasinya. Mengingat dampak dari confirmation bias itu sendiri, tentu kondisi ini bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Jika beberapa cara di atas sudah dilakukan dan tidak merubah apapun, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Efek Confirmation Bias dalam Dunia Psikologis: Ketika Diagnosis Terpengaruh oleh Keyakinan Awal
Sumber:
Nickerson, R. S. (1998). Confirmation Bias: A Ubiquitous Phenomenon in Many Guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.2.175
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
Flavell, J. H. (1979). Metacognition and Cognitive Monitoring: A New Area of Cognitive–Developmental Inquiry. American Psychologist, 34(10), 906–911.
Lord, C. G., Ross, L., & Lepper, M. R. (1979). Biased Assimilation and Attitude Polarization. Journal of Personality and Social Psychology, 37(11), 2098–2109.
Klayman, J. (1995). Varieties of Confirmation Bias. Psychology of Learning and Motivation, 32, 385–418.
Galinsky, A. D., & Moskowitz, G. B. (2000). Perspective-taking: Decreasing Stereotype Expression, Stereotype Accessibility, and In-group Favoritism. Journal of Personality and Social Psychology, 78(4), 708–724.
Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases. Science, 185(4157), 1124–1131.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



