Deeptalk.co.id – Menjadi korban kekerasan atau penculikan tentu merupakan situasi yang sangat tidak diharapkan. Kondisi semacam itu juga bisa menimbulkan trauma mendalam bagi para korban, dan mempengaruhi kondisi mental dari korban itu sendiri. Salah satu gangguan mental yang sering kali dikaitkan dengan korban kekerasan dan penculikan adalah gangguan stress pasca trauma atau PTSD.
Namun tahukah kamu bahwa selain PTSD, korban kekersan atau penculikan juga rawan mengalami stockholm syndrome. Berbeda dengan korban kekerasan dan penculikan pada umumnya, para penderita stockholm syndrome justru merasa mengalami ikatan psikologis dengan pelaku kekerasan atau penculikan mereka. Hal tersebut tidak jarang menimbulkan simpati, bahkan rasa cinta terhadap pelaku.
Walaupun apa yang dialami oleh penderita stockholm syndrome ini cukup tidak wajar, namun pada kenyataannya beberapa orang memang mengalami kondisi tersebut. Untuk mengenal lebih jauh dengan kondisi penderita stockholm syndrome, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut.
Namun sebelum kita masuk ke pembahasan mengenai stockholm syndrome, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa kondisi yang sama dengan apa yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan pemeriksaan dan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai stockholm syndrome.
Pengertian Stockholm Syndrome

Seperti yang sudah dipaparkan secara singkat di atas, stockholm syndrome merupakan salah satu masalah psikologis yang menyerang para korban kekerasan atau penculikan. Alih-alih membenci atau menantang perbuatan pelaku kekerasan atau penculikan, penderita stockholm syndrome justru menyimpan rasa simpati bahkan cenderung menyukai pelaku penculikan atau kekerasan tersebut. Hal inilah yang akhirnya membuat para penderita stockholm syndrome membela pelaku dan membenarkan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pelaku kekerasan atau penculikan tersebut.
Pada umumnya penderita stockholm syndrome ini adalah orang-orang yang menjadi korban penculikan. Namun seiring dengan perkembangan yang terjadi, kondisi stockholm syndrome ini tidak hanya dialami oleh korban penculikan, namun juga kepada mereka yang menjadi korban toxic relationship. Kondisi stockholm syndrome yang dialami akhirnya membuat mereka kesulitan untuk keluar dari perilaku-perilaku toxic yang didapatkan dari pasangannya.
Stockholm syndrome merupakan salah satu bentuk dari coping mechanism yang dilakukan oleh korban kekerasan atau penculikan dalam menghadapi situasi sulit atau situasi yang dapat menimbulkan stress. Kondisi stockholm syndrome yang dialami oleh korban merupakan cara untuk dapat meningkatkan peluang bertahan hidup.
Korban kekerasan atau penculikan memiliki upaya untuk bertahan, khususnya secara emosional. Hal tersebut membuat mereka mencoba melihat sisi baik yang dimiliki oleh pelaku. Sayangnya jika hal tersebut berlangsung lama, korban justru bersimpati lebih dan cenderung menciptakan ikatan emosional dengan pelaku kekerasan atau penculikan mereka. Hal tersebutlah yang akhirnya menimbulkan kondisi stockholm syndrome.
Baca juga : Histrionic Personality Disorder : Selalu Menginginkan Perhatian
Penyebab Stockholm Syndrome

Sayangnya hingga saat ini belum ditemukan secara pasti penyebab dari kondisi stockholm syndrome. Meski demikian, dari pengertian stockholm syndrome itu sendiri dapat diketahui bahwa kondisi ini tumbuh saat seseorang menjadi korban kekerasan atau penculikan. Namun kembali lagi, tidak semua korban penculikan dan kekerasan mengalami kondisi stockholm syndrome. Berikut beberapa kondisi yang dipercaya dapat menjadi faktor pemicu stockholm syndrome:
Toxic relationship
Terjebak dalam toxic relationship memang sering kali menimbulkan ikatan psikologis antara keduanya. Kondisi yang dialami oleh korban dari toxic relationship bisa berupa kekerasan fisik maupun mental yang berlangsung dalam jangka panjang. Beberapa korban justru mencoba untuk melihat sisi baik dari pasangan toxicnya, yang berujunga pada kondisi stockholm syndrome.
Pelecehan anak
Pada dasarnya anak-anak sangat membutuhkan perhatian dari orang dewasa. Selain karena itu memang kebutuhan mereka, anak-anak juga masih dalam proses mempelajari cara untuk menjadi mandiri. Sayangnya tidak semua anak mendapatkan perlindungan dari orang dewasa. Misalnya anak-anak korban kekerasan. Dalam hal ini kekerasan yang dimaksud cukup beragam, mulai dari kekerasan fisik, mental, hingga kekerasan seksual.
Kekerasan pada anak tidak selalu menunjukkan sisi negatif. Dalam beberapa kondisi pelaku bisa bersikap sangat manis yang akhirnya menimbulkan kebingungan bagi anak. Hal inilah yang akhirnya meningkatkan rasa simpati kepada pelaku, dan justru mengarah pada kondisi stockholm syndrome.
Pembinaan olahraga
Kondisi yang satu ini mungkin cukup tidak familiar. Pada dasarnya pembinaan olahraga merupakan situasi yang positif. Namun sayangnya dalam beberapa kasus pembinaan olahraga justru berdampak negatif.
Beberapa atlet dilatih dengan sangat keras, bahkan diluar batas kemampuan mereka. Namun ungkapan pelatih bahwa itu semua demi kebaikan diri sendiri membuat seseorang justru menimbulkan kebingungan yang akhirnya mengarah pada kondisi stockholm syndrome.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai stockholm syndrome dan faktor-faktor pemicu stockholm syndrome. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Kleptomania : Dorongan Untuk Mencuri
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



