Deeptalk.co.id – Salah satu hal yang membahagiakan bagi orang tua adalah memiliki anak-anak yang sehat di sekeliling mereka. Merawat dan mendidik anak bagaikan hiburan yang tidak ternilai harganya. Kehadiran anak juga mengusir rasa sepi di kehidupan orang tua.
Sayangnya anak tidak selalu berada di dekat orang tuanya. Saat tumbuh dewasa, anak-anak akan mulai disibukan dengan kehidupan duniawinya. Mulai dari melanjutkan pendidikan, mengejar karir, hingga membangun keluarganya sendiri. Semakin sibuk anak dengan dunianya, maka akan semakin mendekatkan orang tua dengan masa pensiunnya. Artinya, selain sudah tidak produktif lagi secara pekerjaan, orang tua juga menjadi lebih kesepian karena jauh dari anak-anaknya. Kondisi semacam inilah yang membuat orang tua rentan mengalami sindrom sarang kosong.
Lantas seperti apa itu sindrom sarang kosong? Dan bagaimana dampaknya terhadap orang tua? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai sindrom sarang kosong. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mu mengalami beberapa gejala seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut penjelasan mengenai sindrom sarang kosong.
Pengertian Sindrom Sarang Kosong

Sindrom sarang kosong atau yang juga dikenal dengan empty nest syndrome, merupakan kondisi yang menggambarkan perasaan kosong atau hampa yang dialami orang tua akibat ditinggalkan oleh anaknya untuk kepentingan pendidikan maupun menikah.
Walaupun di sisi lain orang tua merasa bahagia akan upaya anak dalam menjalani kehidupannya, namun rasa sepi bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Dalam kondisi sindrom sarang kosong ini, penderitanya cenderung merasakan berbagai emosi negatif. Misalnya merasa sedih, mudah marah, hampa, hingga emosi tidak terkontrol.
Sindrom sarang kosong pada dasarnya bisa dialami oleh pria maupun wanita. Namun kondisi ini lebih umum dialami oleh wanita, sebab wanitalah yang umumnya lebih sering menghabiskan waktu di rumah, dan lebih dekat dengan anak-anaknya. Kondisi sindrom sarang kosong akan semakin memburuk jika bersamaan dengan menopause, pensiun, atau kematian pasangan.
Baca juga : Terapi Perilaku Dialektis : Penanganan Masalah Kesehatan Mental Dengan Fokus Pada Emosi
Gejala Sindrom Sarang Kosong

Pada dasarnya perasaan sedih dan hampa setelah ditinggalkan oleh anak dan orang tersayang merupakan hal yang wajar. Umumnya perasaan tersebut akan berlangsung selama 6 hingga 12 bulan, karena masih dianggap sebagai proses adaptasi. Namun akan menjadi tidak wajar jika perasaan tersebut tidak dapat dikendalikan dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Jika rasa sedih dan hampa pada orang tua yang ditinggalkan anaknya ini berlangsung selama 2 tahun bahkan lebih, maka bisa menjadi tanda adanya sindrom sarang kosong. Sindrom sarang kosong juga biasanya diiringi dengan gejala-gejala sebagai berikut:
Kesedihan
Orang tua yang mengalami sindrom sarang kosong tentu merasakan kesedihan yang mendalam. Kesedihan menjadi salah satu gejala dari kondisi yang satu ini. Bagaimana tidak, mereka merasa jauh dari anak-anaknya yang sudah sibuk dengan dunianya. Disisi lain, mereka juga tidak mungkin memaksakan anak-anaknya selalu berada di dekat mereka. Tentu kondisi ini cukup sulit bagi sebagian besar orang tua.
Perasaan hampa dan kesepian
Tadinya rumah terasa ramai dengan kehadiran anak-anak, menjadi semakin sunyi dengan sibuknya anak-anak mereka. Maka tidak heran jika perasaan hampa dan kesepian ini menjadi salah satu gejala dari sindrom sarang kosong. Perasaan hampa dan kesepian ini akan semakin terasa jika orang tua tidak memiliki aktivitas di luar rumah.
Kehilangan arti dari kehidupan
Terutama bagi orang tua yang banyak menghabiskan waktu dengan anak-anaknya, sibuknya anak dengan dunianya akan membuat mereka merasakan kehilangan arti dari kehidupan. Mereka bahkan menjadi lebih melankolis dan selalu bernostalgia akan waktu-waktu yang telah lampau.
Susah tidur
Beberapa orang tua bahkan mengalami susah tidur setelah anak disibukan dengan dunianya. Bukan karena orang tua sibuk memikirkan nasibnya, melainkan karena terlalu khawatir akan kondisi anaknya di luar sana. Tidak bisa dipungkiri bahwa rasa sayang yang sangat besarlah yang menghadirkan perasaan ini.
Merasa tidak akan sebahagia dulu
Orang tua dengan sindrom sarang kosong merasa bahwa kebahagiaan yang mereka miliki adalah masa-masa dimana mereka menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Saat anak-anaknya sudah disibukan dengan dunia mereka, maka orang tua merasa tidak akan bisa memiliki kebahagiaan seperti dulu lagi.
Sering menangis dalam waktu lama
Perasaan sedih, kesepian, rindu, hampa, dan emosi-emosi negatif lainnya tidak jarang membuat orang tua menangis dalam waktu yang cukup lama. Hal ini merupakan bentuk dari ekspresi seluruh emosi negatif tersebut. Bahkan tidak jarang mereka akan menangis hanya karena mengenang masa-masa dimana anak-anaknya masih kecil.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai sindrom sarang kosong. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Mengenal Gejala dan Penanganan Gangguan Kepribadian Dependen
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



