Semua artikel
Sindrom Psikologi

Sindrom Peter Pan : Perilaku Kekanak-Kanakan yang Dialami Orang Dewasa

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Orang dewasa seharusnya sudah melalui segala aspek perkembangan yang berlangsung di masa kanak-kanak. Dengan demikian, mereka seharusnya sudah bisa mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Hal tersebut disebabkan oleh kematangan secara psikologis, sosial, serta seksual mereka. Namun tahukah kamu bahwa beberapa orang dewasa justru masih berperilaku kekanak-kanakan. Kondisi semacam ini dikenal dengan istilah sindrom peter pan.

Untuk mengenal lebih dalam mengenai kondisi sindrom peter pan, artikel kali ini akan secara khusus membahas sindrom yang satu ini. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Berikut pembahasan mengenai sindrom peter pan.

Pengertian Sindrom Peter Pan

Sindrom peter pan merupakan kondisi dimana orang dewasa tidak mengalami kematangan dalam perkembangan psikologis, sosial, maupun seksual. Kondisi ini umumnya dialami oleh pria, namun tidak menuntut kemungkinan wanita juga mengalami kondisi yang sama.

Istilah sindrom peter pan ini pertama kali dicetuskan pada buku psikoanalisis berjudul “The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up”, yang ditulis oleh Dan Kiley dan diterbitkan pada tahun 1983. Dimana pada buku tersebut dijelaskan bahwa sindrom peter pan merupakan situasi dimana seseorang mengalami penuaan secara fisik, namun tidak secara emosional.

Orang-orang yang mengalami sindrom peter pan ini memiliki kecenderungan untuk menghindari tanggung jawab dan ketergantungan kepada orang lain. Dengan kata lain, penderita sindrom peter pan masih belum dewasa secara psikologis, sosial, dan seksual mereka.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th edition (DSM-5) yang merupakan pedoman diagnosis psikologi, sindrom peter pan tidak masuk dalam kategori gangguan mental. Meski demikian, gejala yang ditimbulkan oleh kondisi tersebut sedikit banyak mempengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya. Untuk itu, penting bagi kita memberikan perhatian terhadap kondisi yang satu ini.

Penyebab Sindrom Peter Pan

Sayangnya penyebab pasti dari kondisi sindrom peter pan ini belum diketahui hingga saat ini. Meski demikian, banyak ahli yang menghubungkan sindrom peter pan dengan polah asuh yang didapatkan pada masa kecil.

Contohnya, orang tua yang overprotective akan membuat anak tumbuh dengan rasa takut untuk memikul tanggung jawab dan berkomitmen dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh sikap orang tua yang cenderung mengontrol segala ruang gerak anak, sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar bertanggung jawab terhadap pilihan mereka.

Saat seseorang mendapatkan pola asuh overprotective dari orang tua, orang tersebut memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengalami kecemasan berlebih serta rasa tidak percaya diri akan kemampuan yang dimiliki, terutama saat mereka mulai lepas dari orang tua. Hal tersebut disebabkan oleh kebiasaan mereka yang selalu mendapatkan arahan dari orang tua.

Baca juga : Self Gaslighting : Kebiasaan Memanipulasi Diri Sendiri

Gejala Sindrom Peter Pan

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, sindrom peter pan tidak tercantum sebagai salah satu gangguan mental dalam DSM-5. Hal ini akhirnya membuat kondisi peter pan sulit diprediksi karena tidak adanya acuan umum untuk mendeteksi kondisi tersebut. Meski demikian, orang-orang yang mengalami sindrom peter pan seringkali menunjukkan beberapa gejala berikut:

Kesulitan membangun hubungan jangka panjang

Orang-orang yang mengalami sindrom peter pan cenderung sulit untuk membangun hubungan jangka panjang. Hubungan jangka panjang dalam hal ini bisa berupa hubungan romantis, hubungan profesional, dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam berkomitmen secara emosional dengan orang lain. Selain itu, mereka juga kesulitan dalam memikul tanggung jawab yang dibebankan olehnya.

Tergantung kepada orang lain

Sifat kekanak-kanakan yang dimiliki oleh penderita sindrom peter pan membuat mereka tidak bisa mandiri. Dengan demikian, mereka cenderung bergantung kepada orang lain. Orang-orang yang menjadi tempat mereka bergantung biasanya keluarga atau orang tua. Mereka cenderung tidak bisa melakukan apapun dengan benar, tanpa mendapatkan bantuan dari orang terdekatnya. Penderita sindrom peter pan bahkan menikmati waktu dimana mereka dirawat serta diperhatikan oleh orang terdekatnya.

Enggan untuk mengembangkan diri

Seperti yang diketahui bahwa penderita sindrom peter pan cenderung tidak mau mengambil resiko. Jangankan untuk mengambil resiko, tertanggung jawab terhadap tugas mereka saja sangat susah untuk dilakukan. Sikap kekanak-kanakan semacam inilah yang akhirnya mereka kesulitan untuk mengembangkan diri.

Penderita sindrom peter pan lebih senang berada pada posisi yang aman. Tantangan bukan sesuatu yang bisa mereka hadapi. Hal tersebut membuat penderita sindrom peter pan tidak memiliki alasan untuk bisa mengembangkan diri.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai kondisi sindrom peter pan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Hypervigilance : Rasa Takut yang Tidak Rasional

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Sindrom Peter Pan : Perilaku Kekanak-Kanakan yang Dialami Orang Dewasa — DeepTalk