Deeptalk.co.id – Pura-pura sakit sering kali menjadi opsi bagi seseorang untuk menghindari aktivitas tertentu. Misalnya menghindari pelajaran bagi para pelajar maupun mahasiswa, atau menghindari bekerja bagi para karyawan. Hal tersebut sebenarnya normal-normal saja. Namun jika berlangsung terus menerus, bisa jadi itu pertanda kamu mengalami sindrom munchausen.
Untuk mengenal lebih jauh mengenai kondisi sindrom munchausen, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis.
Jika kamu atau orang sekitar mengalami salah kesehatan mental atau adanya perilaku menyimpang, maka segera lakukan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai sindrom munchausen.
Pengertian Sindrom Munchausen

Sindrom munchausen adalah masalah psikologis yang ditandai dengan adanya kebiasaan memalsukan sebuah gejala penyakit, melebih-lebihkan sebuah penyakit, atau dengan sengaja membuat dirinya mengalami penyakit tertentu untuk mendapatkan simpati atau rasa kasihan dari orang lain. Gejala utama dari sindrom munchausen adalah mengeluhkan beberapa masalah kesehatan yang mengarah kepada suatu gangguan.
Selain dikenal dengan istilah sindrom munchausen, kondisi ini juga dikenal dengan istilah sindrom pura-pura sakit atau factitious disorder. Penderita sindrom munchausen akan bermain peran untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya sedang mengalami penyakit tertentu. Baik itu penyakit fisik, maupun penyakit mental.
Demi meyakinkan orang lain bahwa dirinya sedang terjangkit penyakit tertentu, penderita sindrom munchausen tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan secara medis. Mereka juga dengan pandai meyakinkan dokter bahwa kesehatannya tidak baik-baik saja.
Selain itu, penderita sindrom munchausen juga bisa saja melakukan hal-hal yang lebih ekstrim untuk membuktikan penyakitnya. Misalnya dengan sengaja melukai diri sendiri, agar terlihat lebih meyakinkan.
Kondisi yang dialami oleh penderita sindrom munchausen ini berbeda dengan penderita hipokondria. Walaupun sama-sama mengakui adanya masalah kesehatan yang tidak nyata, namun penderita hipokondria benar-benar yakin terhadap adanya masalah kesehatan yang dimiliki. Sedangkan penderita sindrom munchausen pada dasarnya menyadari bahwa dirinya sehat-sehat saja.
Penyebab Sindrom Munchausen

Sindrom munchausen ini tentu tidak dialami begitu saja, melainkan dipicu oleh beberapa faktor berikut:
Pola asuh orang tua
Anak yang tumbuh dengan pola asuh orang tua yang cenderung kurang memberikan perhatian kepada anak, bisa jadi memicu kondisi sindrom munchausen pada anak di kemudian hari. Hal ini bisa jadi kurangnya perhatian yang didapatkan sejak kecil membuat anak mencari perhatian lain dengan memalsukan penyakit yang mereka alami.
Baca juga : Kenali Gejala dan Penanganan Gangguan Somatoform
Pernah mengalami penyakit kronis
Seseorang yang pernah mengalami penyakit kronis, khususnya pada masa kanak-kanak, bisa jadi menjadi pemicu sindrom munchausen. Hal ini dikarenakan adanya penyakit kronis membuat seseorang terbiasa mendapatkan perhatian lebih. Sayangnya saat penyakitnya sembuh, perhatian yang didapatkan tidak sama lagi seperti dulu. Untuk mendapatkan kembali perhatian yang sama, beberapa dari mereka akan memalsukan penyakitnya.
Gangguan kepribadian
Beberapa gangguan kepribadian juga bisa memicu kondisi sindrom munchausen. Misalnya gangguan kepribadian antisosial, gangguan kepribadian ambang, dan gangguan kepribadian narsistik. Gangguan kepribadian tersebut memungkinkan penderitanya melakukan perilaku impulsif misalnya perilaku yang mengarah pada sindrom munchausen.
Gejala Sindrom Munchausen

Untuk mengenal lebih jauh mengenai sindrom munchausen, ada baiknya kita memahami gejala-gejala yang dimunculkan oleh penderita sindrom munchausen berikut:
Menyampaikan gejala yang tidak konsisten
Sama halnya dengan orang yang berbohong mengenai hal-hal tertentu, kebohongan mengenai penyakit ini juga membuat orang tersebut mengatakan hal yang tidak konsisten. Dalam hal ini mengenai gejala yang dialami. Hal ini bisa jadi karena minimnya pengetahuan mengenai penyakit yang ingin digambarkan. Bisa juga karena hasil pemeriksaan tidak menunjukkan penyakit yang dituju, sehingga mereka merubah gejala yang dialami.
Meminta pemeriksaan yang tidak dianjurkan
Walaupun pemeriksaan awal menyatakan bawah penderita sindrom munchausen tidak perlu melakukan pemeriksaan lain, namun mereka tetap meminta rujukan untuk bisa melakukan pemeriksaan lain. Hal tersebut tidak lain untuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya sedang mengalami penyakit tertentu.
Memiliki banyak luka
Seperti yang diketahui bahwa penderita sindrom munchausen tidak ragu untuk melakukan banyak pemeriksaan medis untuk bisa membuktikan penyakit yang tidak nyata. Hasilnya, mereka memiliki banyak sekali bekas luka akibat pemeriksaan medis. Selain itu, bekas luka juga bisa jadi disebabkan oleh dirinya sendiri untuk membuktikan bahwa mereka sedang mengalami penyakit tertentu.
Selain beberapa gejala yang dipaparkan di atas, penderita sindrom munchausen juga memiliki kebiasaan berbohong yang membuat mereka sangat ahli meyakinkan orang lain mengenai kondisi kesehatannya. Maka tidak heran banyak orang yang tertipu dengan peran yang sedang mereka mainkan. Selain itu, penderita sindrom munchausen juga cenderung menolak untuk konsultasi dengan Psikolog atau Psikiater. Hal ini akhirnya membuat sindrom munchausen susah untuk diatasi.
Itu dia penjelasan mengenai sindrom munchausen. semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Gangguan Somatoform : Sakit yang Disebabkan Oleh Stress
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



