Deeptalk.co.id – Seiring dengan menuanya usia seseorang, maka akan semakin menurun kondisi fisik dan mental mereka. Maka tidak heran jika kita menemui lansia dengan berbagai masalah kesehatan fisik dan juga mental.
Sayangnya, banyak masalah kesehatan mental pada lansia yang diabaikan begitu saja. Selain karena minimnya pengetahuan terkait kesehatan mental, gejala gangguan mental sering kali tak kasat mata. Hal tersebut berbeda dengan gangguan fisik yang bisa langsung dirasakan keganjalannya.
Pada dasarnya, banyak sekali masalah kesehatan mental yang bisa menimpa para lansia. Walaupun kebanyakan dari itu baru terdeteksi saat kondisi sudah sangat parah. Salah satu masalah kesehatan mental pada lansia yang cukup serius adalah sindrom diogenes. Lantas, seperti apa sebenarnya sindrom diogenes itu? Untuk mengenal lebih jauh mengenai sindrom diogenes, artikel kali ini akan secara khusus membahas kondisi tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, segera lakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Sindrom Diogenes

Sindrom diogenes termasuk dalam kategori gangguan perilaku atau personality disorder. Sindrom diogenes sendiri merupakan kondisi psikologis dimana seseorang cenderung mengabaikan perawatan, kebersihan, dan kerapian dirinya hingga pada tahap yang cukup ekstrim.
Penderita sindrom diogenes cenderung mengabaikan penampilan dan kebersihan diri mereka. Tidak jarang kondisi ini juga dibarengi dengan kebiasaan menimbun barang atau hoarding disorder. Kondisi sindrom diogenes biasanya didiagnosa pada usia lansia.
Sayangnya, hanya sebagian kecil dari penderita sindrom diogenes yang melaporkan kondisi tersebut. Banyak diantara mereka yang merasa bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya, atau menolak mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Hal ini membuat penanganan pada penderita sindrom diogenes umumnya dilakukan saat kondisi sudah sangat parah. Disisi lain, kurangnya pelaporan akan kondisi sindrom diogenes ini membuat angka pasti dari total penderita sindrom diogenes tidak bisa diprediksi.
Sindrom diogenes sama halnya dengan masalah kesehatan mental lainnya yang perlu mendapatkan penanganan tepat sesegera mungkin. Pasalnya, kondisi sindrom diogenes yang dibiarkan begitu saja bisa memicu berbagai komplikasi, baik itu komplikasi fisik maupun mental. Misalnya bisa mengalami cedera atau pneumonia, penyakit kulit, masalah pencernaan, skizofrenia, depresi, demensia, kecanduan, dan masih banyak lagi.
Penderita sindrom diogenes umumnya menarik diri dari lingkungan. Kondisi tersebut merupakan gejala awal dari sindrom diogenes. Upaya menarik diri dari lingkungan ini tentunya akan membuat perawatan sindrom diogenes semakin sulit. Terlebih lagi berbagai penolakan untuk menata tempat tinggal dan merapikan dirinya sering kali dilakukan oleh penderita sindrom diogenes. Maka dari itu, banyak penderita sindrom diogenes tinggal di rumah yang berantakan, berbau tidak sedap, kotor, dan tidak terawat.
Baca juga: Tips Mengatasi Treadmill Hedonic
Penyebab Sindrom Diogenes

Kurangnya pendataan terkait sindrom diogenes membuat penelitian akan kondisi tersebut juga lebih minim. Dengan demikian, penyebab utama dari sindrom diogenes juga belum bisa dipastikan hingga saat ini. Kendati demikian, banyak sumber memaparkan bahwa sindrom diogenes bisa dipicu oleh beberapa faktor, misalnya:
Kematian pasangan atau orang terdekat
Faktor pemicu sindrom diogenes yang pertama bisa karena kematian pasangan atau orang terdekat. Seperti yang diketahui kondisi tersebut termasuk kejadian traumatis yang tidak diharapkan oleh banyak orang. Kematian pasangan atau orang terdekat bisa memicu depresi, kecemasan, dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya, termasuk sindrom diogenes itu sendiri.
Perceraian
Faktor pemicu sindrom diogenes yang kedua bisa karena perceraian. Sama halnya dengan poin sebelumnya, perceraian juga termasuk kejadian traumatis yang bisa memicu berbagai masalah kesehatan mental, termasuk sindrom diogenes. Selain itu, perceraian di usia lansia akan membuat seseorang semakin merasa kesepian.
Penyalahgunaan zat dan mengkonsumsi alkohol secara berlebihan
Faktor pemicu sindrom diogenes yang ketiga bisa karena penyalahgunaan zat dan mengkonsumsi alkohol secara berlebihan. Alkohol dan zat-zat berbahaya sangat beresiko merusak otak. Kerusakan pada otak inilah yang bisa memicu berbagai masalah kesehatan mental, termasuk sindrom diogenes.
Menjadi korban pelecehan
Faktor pemicu sindrom diogenes yang keempat bisa karena pernah menjadi korban pelecehan. Korban pelecehan memang cenderung mengalami berbagai gangguan mental jika tidak segera ditangani. Dalam kasus sindrom diogenes, bisa jadi kejadian pelecehan tersebut berlangsung pada masa muda yang belum terselesaikan, dan menjadi trauma yang terbawa hingga usia lansia.
Kondisi medis tertentu
Faktor pemicu sindrom diogenes yang kelima bisa karena kondisi medis tertentu. Beberapa kondisi medis yang dimaksud bisa berupa stroke, kelumpuhan karena radang sendi atau patah tulang, gagal jantung kongestif, demensia, penurunan fungsi organ, hingga masalah penglihatan.
Itu dia penjelasan singkat mengenai kondisi sindrom diogenes. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: 5 Siklus Treadmill Hedonic yang Perlu Kamu Pahami
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



