Semua artikel
Gangguan Perilaku

Gejala dan Diagnosa Sindrom Diogenes

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Pernahkah kamu mendengar istilah sindrom diogenes? Istilah tersebut menggambarkan masalah psikologis yang umumnya dialami oleh lansia. Sindrom diogenes termasuk dalam kategori gangguan perilaku atau personality disorder.

Lansia memang cukup rentan terserang berbagai masalah kesehatan fisik dan mental. Salah satu kondisi yang bisa saja dialami oleh lansia adalah sindrom diogenes ini. Sindrom diogenes sendiri merupakan kondisi dimana seseorang cenderung mengabaikan penampilan dan kebersihan dirinya. Tidak jarang kondisi yang satu ini juga bersamaan dengan hoarding atau kebiasaan menumpuk barang yang tidak berguna atau sampah.

Banyak orang yang memang masih asing dengan istilah sindrom diogenes. Untuk mengenal lebih jauh tentang kondisi sindrom diogenes, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai gejala dan diagnosa sindrom diogenes.

Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Gejala Sindrom Diogenes

Senior woman suffering from pain in knees

Untuk dapat memastikan apakah seseorang mengalami sindrom diogenes atau tidak, tentu harus melalui pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu, diagnosa yang diberikan bisa lebih akurat, dan meminimalisir kesalahan diagnosa dan penanganan.

Walaupun diagnosa sindrom diogenes hanya bisa diberikan oleh psikolog atau psikiater, namun penting bagi kita memahami gejala-gejala dari sindrom diogenes tersebut. Hal tersebut berguna sebagai langkah awal pengenalan kemungkinan kondisi, dan bisa menjadi patokan untuk membawa terduga penderita melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan para ahli.

Berikut beberapa gejala sindrom diogenes yang perlu kita ketahui:

Menarik diri dari lingkungan sosial

Gejala awal dari sindrom diogenes bisa berupa upaya penarikan diri dari lingkungan sosial. Bahkan banyak penderita sindrom diogenes yang menolak untuk mendapatkan bantuan dari orang terdekatnya, termasuk keluarganya sekalipun. Sayangnya, gejala yang satu ini justru bisa membuat kondisi sindrom diogenes semakin berkembang. Untuk itu, walaupun menarik diri dari lingkungan sosial, penting bagi mereka segera mendapatkan pertolongan yang tepat.

Mengalami masalah persepsi tentang kebersihan dan kesehatan

Gejala selanjutnya yang umumnya dialami penderita sindrom diogenes adalah masalah persepsi mereka terkait kebersihan dan kesehatan. Orang-orang pada umumnya akan merasa risih dengan tempat tinggal dan kondisi badan yang kotor serta berantakan. Hal ini bertolak belakang dengan penderita sindrom diogenes yang justru cenderung hidup di rumah yang kotor, berantakan, bahkan tidak peduli akan kebersihan tubuhnya.

Mengalami paranoia

Dalam banyak kasus, penderita sindrom diogenes juga mengalami paranoia, atau rasa curiga yang sangat tinggi terhadap orang-orang dan lingkungan sekitar. Mereka memiliki pikiran bahwa orang lain memiliki niat jahat terhadap dirinya. Walaupun pikiran tersebut tidak terbukti kebenarannya, namun penderita sindrom diogenes sulit untuk mempercayai kebenaran.

Mengalami masalah dengan kebersihan

Penderita sindrom diogenes banyak yang hidup di rumah atau ruangan yang kotor dan berantakan. Hal ini membuat mereka mengalami masalah akan hal tersebut. Misalnya penderita sindrom diogenes akan lebih beresiko mengalami berbagai penyakit kulit, masalah gigi dan mulut, bau badan, penampilan yang berantakan, malnutrisi, dehidrasi, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Sindrom Diogenes: Gangguan Perilaku Pada Lansia

Diagnosa Sindrom Diogenes

Senior woman suffering in shoulder pain

Cukup jarang penderita sindrom diogenes yang secara sukarela datang ke psikolog atau psikiater untuk mendapatkan pertolongan. Banyak diantara mereka yang menganggap bahwa kondisinya baik-baik saja. Hal inilah yang seringkali membuat penderita sindrom diogenes baru mendapatkan pertolongan saat kondisinya sudah cukup parah.

Pada dasarnya, sindrom diogenes bukanlah gangguan mental atau psikologis, melainkan simtom atau kumpulan gejala yang muncul dari beberapa gangguan psikologis. Kondisi sindrom diogenes ini biasanya dialami oleh orang-orang yang didiagnosa skizofrenia, hoarding disorder, dan juga demensia.

Seperti yang dipaparkan di awal, untuk dapat memastikan apakah seseorang benar-benar mengalami sindrom diogenes adalah dengan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Saat psikolog atau psikiater sudah mengindikasi adanya sindrom diogenes, psikolog atau psikiater akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait kondisi fisik dan psikologis penderita.

Jika sudah diketahui kondisi apa yang sebenarnya dialami oleh penderita, barulah akan ditentukan jenis penanganan apa yang bisa diberikan. Tentunya akan disesuaikan hasil pemeriksaan dengan kebutuhan penderita.

Itu dia penjelasan singkat mengenai kondisi sindrom diogenes. Perlu diketahui bahwa banyak penderita sindrom diogenes yang tidak menyadari adanya kondisi tersebut. Terlebih lagi banyak diantara mereka yang menolak untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Untuk itu, support dari keluarga dan orang terdekat sangat berperan penting dalam kelangsungan penanganan penderita sindrom diogenes. Jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut jika kamu atau orang terdekat menunjukan indikasi sindrom diogenes.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Tips Mengatasi Treadmill Hedonic

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Gejala dan Diagnosa Sindrom Diogenes — DeepTalk