Deeptalk.co.id – Dalam dunia yang penuh dengan dinamika sosial dan interaksi antarpribadi, kepribadian manusia sering kali menjadi perbincangan yang menarik. Salah satu aspek yang menonjol adalah perubahan kepribadian, di mana seseorang yang awalnya memiliki ciri introvert bisa mengalami transformasi menjadi ekstrovert, dan sebaliknya. Fenomena ini menggugah pertanyaan mengenai sejauh mana kepribadian itu tetap stabil atau dapat berubah seiring waktu.
Artikel ini akan mengulas lebih dalam tentang perubahan kepribadian dari introvert menjadi ekstrovert dan sebaliknya, menggali faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan ini, serta implikasi psikologis dan sosial yang mungkin terjadi. Dengan memahami perjalanan perubahan ini, kita dapat lebih baik dalam merespons evolusi kepribadian, baik dalam diri kita sendiri maupun dalam hubungan dengan orang lain.
Introvert Menjadi Ekstrovert dan Sebaliknya

Sampai pada batas tertentu, ilmu pengetahuan akan mengatakan bahwa introvert dan ekstrovert bisa berubah menjadi sebaliknya. Meskipun demikian, masih ada penjelasan lebih lanjut akan hal ini yang masih berada pada titik abu-abu.
Layaknya sifat-sifat lain yang juga berlawanan, introversi dan ekstraversi berada dalam sebuah spektrum. Setiap orang berada di tempat yang berbeda dalam spektrum tersebut, sehingga ada batas-batas tertentu yang membedakan dua tipe kepribadian ini.
Seperti beberapa orang introvert yang jelas “lebih tertutup” daripada yang lain. Dan hal ini sering kali bergantung pada situasinya. Sangat mungkin bagi seorang introvert untuk memiliki beberapa kecenderungan ekstravert, dan senang menggunakannya dalam situasi tertentu. Juga sebaliknya bagi Extravert yang menunjukkan kecenderungan yang lebih tertutup.
Manusia pun juga dapat berubah seiring berjalannya waktu. Jika Anda awalnya sangat introvert, Anda mungkin akan mengembangkan lebih banyak sifat ekstravert di kemudian hari. Atau mungkin Anda secara sadar memilih untuk mengembangkan kapasitas Anda untuk menjadi ekstravert. Ya meskipun itu tidak sama sepenuhnya Anda bisa berubah menjadi ekstravert.
Dengan kata lain, efek dari perubahan tersebut hanya berlangsung sementara. Sebagian besar individu dapat berlatih menunjukkan sifat non-dominannya untuk waktu yang singkat atau dalam situasi tertentu. Seperti perceiver yang dapat belajar untuk melenturkan otot-otot menilai mereka dan menjadi lebih tegas. Atau intuitif dapat berlatih menggunakan dan menikmati indera mereka. Serta introvert dapat berlatih untuk menjadi lebih ramah, ekspresif, dan sosial, seperti rekan-rekan mereka yang ekstrovert dan sebaliknya.
Namun, tentu butuh usaha dan energi untuk berenang ke hulu. Sehingga mungkin bisa dilakukan sesekali, dan mungkin ada baiknya dilakukan. Akan tetapi, berperilaku berbeda tidak sama dengan mengubah siapa diri Anda pada dasarnya. Dan mencoba menjadi sesuatu yang bukan diri kita sendiri bisa melelahkan.
Sehingga jika ditanyakan kembali apakah Anda bisa benar-benar mengubah sisi Anda menjadi introvert atau ekstrovert, itu mungkin sama halnya dengan mengubah mata biru Anda menjadi mata hijau. Anda tentu saja bisa memakai kontak lensa berwarna, agar terlihat hijau, tapi di baliknya masih tetap biru.
Demikian pula, meskipun Anda dapat bertindak layaknya introvert atau ekstrovert untuk beberapa waktu, hal itu tidak akan mengubah kepribadian diri yang mendasari Anda. Dan jika memaksakan diri untuk bertindak melawan sifat alami Anda terlalu lama, Anda bisa saja menjadi merasa jengkel dan lelah.
Baca juga: Ketahui 4 Pelajaran Penting Dari Self-Knowledge
Kondisi Otak Ekstrovert dan Introvert yang Berbeda

Apakah tipe kepribadian itu bawaan sejak lahir atau berkembang sejak kecil, setelah ditetapkan itu semua akan tetap seperti itu. Pun jika Anda seorang introvert, Anda bisa bersikap lebih ekstravert untuk sementara waktu meskipun kemudian segera Anda harus melepaskan kontak. Singkatnya, Anda adalah diri Anda sendiri.
Selain itu, ada beberapa perbedaan dalam aktivitas otak, struktur, dan neurotransmitter dalam otak antara introvert dengan ekstrovert. Sebuah studi yang menggunakan pemindaian PET menunjukkan bahwa aliran darah otak meningkat di lobus frontal untuk orang introvert. Sementara orang ekstrovert memiliki aliran darah yang lebih rendah di daerah yang terkait dengan penghambatan perilaku.
Perbedaan lainnya berkaitan dengan dopamin. Orang extravert mungkin memiliki sensitivitas yang lebih besar terhadap dopamin, yang bertanggung jawab, sebagian, atas respons yang lebih besar terhadap penghargaan dari lingkungannya. Peningkatan sensitivitas dopamin/hadiah ini mungkin disebabkan oleh jumlah reseptor dopamin yang lebih banyak di otak tengah.
Introvert juga memiliki aliran darah yang lebih besar pada jalur asetilkolin tertentu di otak. Seperti dopamin, asetilkolin juga terkait dengan kesenangan; bedanya, asetilkolin membuat Anda merasa nyaman saat Anda berpaling ke dalam. Hal ini juga membantu menjelaskan mengapa orang introvert menyukai lingkungan yang tenang, yang berbeda dengan ekstrovert yang lebih suka keramaian orang.
Jadi, dapat dikatakan bahwa introversi atau ekstraversi terukir dalam otak. Jika Anda seorang introvert, ada perbedaan dalam otak Anda, jadi Anda mungkin tidak bisa begitu saja “menjadi” seorang ekstrovert, meskipun Anda menginginkannya.
Intinya, entah itu karena genetika, perkembangan awal, respon otak terhadap perilaku yang dipelajari, atau kombinasi dari beberapa faktor, ada perbedaan yang jelas dalam kekuatan, preferensi, dan bahkan otak introvert dibandingkan dengan ekstrovert. Meskipun Anda tentu saja dapat mengembangkan sifat-sifat non-dominan Anda, seperti ekstraversi, dan masing-masing individu lainnya berada di suatu tempat yang berbeda dalam spektrum, masih ada perbedaan jelas apakah seorang individu tersebut merupakan introvert atau ekstrovert.
Baca juga: Beda Antara Perasaan Kesepian Dengan Kesendirian
Sumber:
Can an Introvert Become an Extravert? Here’s What the Science Says. (2022, March 4). True You Journal. https://www.truity.com/blog/can-introvert-become-extravert-heres-what-science-says
Kristenson, S. (2023, March 28). Can an Introvert Become an Extrovert? 7 Reasons It’s NOT Possible. Happier Human. https://www.happierhuman.com/introvert-become-extrovert-wa1/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



