Deeptalk.co.id – Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan didikan dan kasih sayang terhadap anak mereka. Sayangnya, beberapa orang memberikan pola asuh yang sedikit keliru dan berdampak terhadap kondisi mental anak.
Perlu diketahui bahwa pola asuh yang tidak tepat bisa berdampak fatal terhadap masa depan anak. Maka dari itu, sebelum menjadi orang tua penting untuk memahami bagaimana metode parenting yang baik. Salah satu dampak pola asuh yang keliru adalah membuat anak memiliki kepribadian people pleaser.
Seperti apa pola asuh yang membentuk kepribadian people pleaser itu? Artikel kali ini akan membahas mengenai topik tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Untuk mendapatkan metode pola asuh yang tepat, kamu bisa berkonsultasi langsung dengan psikolog anak.
Peran Orang Tua Dalam Membentuk Kepribadian People Pleaser

People pleaser adalah kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan untuk menolak permintaan orang lain, dan selalu mengupayakan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Walaupun di mata orang lain seorang people pleaser adalah sosok yang baik hati. Namun kondisi tersebut tidak jarang memicu kelelahan baik secara mental maupun fisik.
Cara orang tua dalam mendidik anak sangat berperan dalam pembentukan kepribadian people pleaser pada anak. Berikut beberapa kontribusi orang tua dalam pembentukan kepribadian people pleaser pada anak:
Pola asuh otoriter dan permisif
Pola asuh otoriter adalah upaya orang tua mendidik anak yang terlalu menuntut dan kurang responsif. Metode pola asuh semacam ini membuat anak merasa perlu untuk memenuhi segala harapan orang lain agar bisa diterima oleh lingkungannya.
Sedangkan pola asuh permisif adalah metode mendidik anak yang cenderung terlalu memanjakan dan tidak memberikan batasan. Jenis pola asuh yang satu ini membuat anak mengembangkan kebiasaan menyenangkan orang lain untuk mendapatkan validasi.
Kurang mengapresiasi anak
Orang tua yang kurang memberi apresiasi terhadap pencapaian anak juga bisa memicu kepribadian people pleaser pada anak. Dari tindakan tersebut anak belajar bahwa kebutuhan pribadinya (apresiasi) tidak begitu penting untuk diperjuangkan.
Memberikan kasih sayang bersyarat
Mendapatkan kasih sayang dari orang tua sudah menjadi hak anak. Namun, kasih sayang yang bersyarat justru bisa memicu terbentuknya kepribadian people pleaser. Dari kasih sayang bersyarat ini anak belajar bahwa mereka perlu menyenangkan orang lain terlebih dahulu untuk bisa diterima atau mendapatkan hak mereka.
Pola komunikasi yang tidak sehat
Sebagai orang tua, penting untuk belajar mengkomunikasikan segala sesuatu kepada anak dengan cara yang baik. Pasalnya, orang tua yang selalu menunjukkan kekecewaan, memberikan rasa takut, atau justru menarik diri saat anak bertindak tidak semestinya, justru bisa memicu kepribadian people pleaser. Dari pola komunikasi yang tidak sehat semacam itu anak mengembangkan rasa takut untuk mengecewakan orang lain.
Baca juga: Mengatasi People Pleasing pada Gen Z: Strategi untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri
Peran Orang Tua Untuk Menghindari Terbentuknya Kepribadian People Pleaser Pada Anak

Kepribadian people pleaser bisa memberikan dampak negatif untuk masa depan anak. Maka dari itu orang tua bisa menerapkan beberapa tips berikut untuk menghindari terbentuknya kepribadian people pleaser pada anak:
Menerapkan pola asuh demokratis
Tips pertama adalah dengan menerapkan pola asuh demokratis. Pola asuh yang satu ini memungkinkan anak untuk berani mengekspresikan pendapat, perasaan, dan juga emosi mereka tanpa takut dihakimi. Namun perlu diingat bahwa orang tua juga perlu menerapkan batasan yang tetap mengedepankan empati dan keterbukaan.
Mengajarkan anak untuk menghargai diri sendiri
Tips kedua adalah dengan mengajarkan anak menghargai diri sendiri. Saat anak mampu menghargai diri sendiri, mereka tahu batasan dirinya dan tidak perlu memaksakan apa yang tidak bisa mereka lakukan. Orang tua perlu mengajarkan untuk berkata “tidak” atau menolak permintaan orang lain saat itu diluar kemampuan anak.
Memberikan kasih sayang tanpa syarat
Sudah menjadi tugas orang tua untuk memberikan kasih sayang terhadap anak mereka. Maka dari itu berikan kasih sayang tanpa syarat kepada anak. Anak tidak perlu memohon untuk mendapatkan kasih sayang. Dengan begitu anak belajar bahwa dirinya layak dan pantas untuk dicintai. Termasuk cinta dari dirinya sendiri.
Menjadi contoh dalam menetapkan batasan
Anak sangat pandai meniru orang tuanya. Maka dari itu sebisa mungkin untuk menjadi contoh baik untuk anak. Salah satu contoh yang bisa orang tua tunjukan adalah dalam menetapkan batasan. Tunjukan bagaimana cara menolak dengan sopan dan tegas terhadap sesuatu diluar kemampuan. Hindari juga sikap selalu menyenangkan orang lain. Dari semua itu anak akan belajar untuk tidak menjadi seorang people pleaser.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai bagaimana peran orang tua dalam membentuk dan menghindari terbentuknya kepribadian people pleaser pada anak. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lengkap terkait metode parenting, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk berkonsultasi dengan para profesional di bidang kesehatan mental.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Trauma pada Gen Z: Mengapa Mereka Lebih Rentan dan Apa Dampak yang Bisa Dialami?
Sumber:
Baumrind, D. (1991). The Influence of Parenting Style on Adolescent Competence and Substance Use. Journal of Early Adolescence, 11(1), 56-95.
Kohn, A. (2005). Unconditional Parenting: Moving from Rewards and Punishments to Love and Reason. Atria Books.
Gordon, T. (2000). Parent Effectiveness Training: The Proven Program for Raising Responsible Children. Three Rivers Press.
Horney, K. (1945). Our Inner Conflicts: A Constructive Theory of Neurosis. W. W. Norton & Company.
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The "What" and "Why" of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227-268.
Linehan, M. M. (2014). DBT Skills Training Manual. Guilford Publications.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



