Deeptalk.co.id – Beberapa orang dapat bekerja dengan sangat baik di bawah tekanan, pun demikian juga tekanan menjadi diperlukan agar seseorang bisa mendorong dirinya menuju keberhasilan. Namun, tentu terlalu banyak tekanan bisa memengaruhi kesehatan mental Anda. Sehingga Anda harus menjaganya dengan mengingat untuk selalu menghargai diri sendiri, salah satu caranya dengan menerapkan self-reward.
Dalam dunia psikologis dan kesehatan mental, self-reward atau memberikan diri sendiri suatu suguhan atau hadiah demi menghargai diri sendiri bisa menjadi intensif yang bagus untuk membuat diri sendiri terus bekerja menuju tujuan Anda. Bahkan beberapa peneliti mengaitkan self-reward sebagai bentuk motivasi diri dalam mencapai keberhasilan.
Artikel kali ini kami akan membahas lebih lanjut pengertian self-reward beserta kaitannya dengan kesehatan mental juga manfaatnya.
Apa Itu Self-Reward?

Menurut The American Psychological Association, self-reward atau penghargaan diri sendiri merupakan perilaku yang tepat untuk pencapaian tujuan yang diinginkan. Self-reward yang juga disebut penguatan yang dikelola sendiri, contohnya seperti membeli hadiah untuk diri sendiri setelah belajar untuk ujian.
Self-reward menjadi suatu proses dimana individu dapat mengontrol perilaku mereka sendiri dengan menghargai diri sendiri ketika standar kinerja tertentu telah dicapai atau dilampaui. Lebih lanjut lagi, self-reward juga memiliki istilah lain yakni self-reinforcement atau penguatan diri. Penguatan diri ini merupakan metode pengkondisian diri yang bertindak untuk memperkuat hubungan antara rangsangan dan respon tertentu.
Penguatan diri ini juga dikaitkan dengan teori perilaku pengkondisian operan, dengan prinsipnya yang paling mendasar yakni respon yang diikuti oleh penguat yang diperkuat, dan oleh karena itu lebih mungkin terjadi. Teori ini memiliki konsep psikologis yang menunjukkan bahwa seseorang belajar melalui hadiah dan hukuman.
Secara khusus, teori ini menyatakan bahwa ketika perilaku diikuti oleh hasil yang menyenangkan, manusia cenderung mengulangi perilaku tersebut (karena seorang individu ingin mengulangi hasil yang menyenangkan ini). Dengan kata lain, ini juga disebut dengan penguatan positif.
Seseorang bisa menggunakan penguatan positif untuk keuntungan mereka, yakni dengan menghadiahi diri mereka sendiri setiap kali mereka telah mencapai tujuan. Seperti telah menyelesaikan suatu proyek dengan baik atau hanya ketika mereka merasa bahwa mereka telah berusaha sekuat tenaga dalam suatu pekerjaan. Pun demikian dengan menghubungkan self-reward ke periode belajar yang efektif tidak hanya memberi Anda istirahat mental tetapi akan memotivasi Anda untuk ingin belajar secara efektif di waktu berikutnya.
Baca juga: Amnesia Disosiatif. Amnesia Yang Disebabkan Oleh Stress Yang Berat
Self-Reward dan Hubungannya dengan Kesehatan Mental

Self-reward atau memberikan hadiah pada diri sendiri mungkin terkesan seperti hal yang memboroskan. Strategi memanjakan diri sendiri ini juga nampak sembrono meskipun sebenarnya tidak juga. Dalam meningkatkan kesejahteraan diri juga kesehatan mental, self-reward bisa memberikan peran yang penting juga.
Saat Anda mendapatkan suatu hadiah atau apresiasi dari orang lain, apa yang Anda rasakan? Bahagia dan merasa puas, bukan? Sama hal nya saat Anda memberikan suguhan atau penghargaan pada diri sendiri, Anda akan merasa bersinergi, merasa diperhatikan juga perasaan puas. Termasuk penguasaan diri yang membantu Anda mempertahankan kebiasaan sehat Anda.
Suatu studi menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan hadiah atau reward sekecil apapun itu, termasuk saat menerima kejutan atau sekedar menonton video lucu, mereka akan memperoleh pengendalian diri. Sebaliknya saat seseorang tidak mendapatkannya sama sekali suatu reward, mereka akan mulai lelah, energi cepat terkuras hingga kesal.
Ini merupakan rahasia menuju kedewasaan, dimana jika Anda memberi lebih banyak untuk diri Anda sendiri, Anda dapat meminta lebih banyak dari diri Anda sendiri juga. Mementingkan harga diri bukanlah suatu tindakan yang egois karena ini perlu demi mendapatkan pengendalian diri.
Selain itu, ketika Anda tidak mendapatkan self-reward dalam bentuk apapun itu, Anda akan mulai merasa kekurangan. Merasa kekurangan menjadi kerangka berpikir yang sangat buruk untuk kebiasaan yang baik dalam meningkatkan kesehatan mental. Jika sudah demikian, Anda merasa berhak untuk mengembalikan keseimbangan diri Anda, misal dengan mengatakan “Saya telah mendapatkan ini,”; “Saya perlu ini,”; atau “Saya pantas menerima ini,”.
Perlu dipahami untuk mendapatkan manfaat dari self-reward demi kesehatan mental, Anda juga harus menyadari bahwa Anda telah melakukan kebiasaan self-reward itu sendiri. Perlu diingat juga bahwa hadiah yang dimaksud dalam self-reward tidak harus dalam bentuk barang nyata. Bisa jadi Anda sudah memberikan diri Anda suatu hadiah, namun Anda tidak menyadarinya sehingga mendorong diri pada pemikiran yang berbeda.
Hadiah dalam self-reward bisa kita terjemahkan ketika Anda memperhatikan kesenangan Anda, dan menikmatinya, pengalaman tersebut menjadi lebih menyenangkan. Bahkan suatu hal yang sederhana sekalipun, seperti aroma teh yang menenangkan atau sekotak pensil yang baru diasah dapat memenuhi syarat sebagai hadiah dan suguhan dalam self-reward.
Pun juga saat Anda mampu berusaha untuk memenuhi kebutuhan tubuh dengan makanan yang sehat, sehingga Anda dapat mengisi ulang energi dengan cara yang sehat. Memang terkadang suguhan tidak terlihat seperti suguhan atau hadiah, dan Anda perlu kesadaran penuh untuk mendapatkannya.
Baca juga: Memahami Pola Kecanduan Dalam Kebiasaan Procrastination atau Menunda-Nunda
Sumber:
Why it’s important to reward yourself | JMC Academy. (2017, May 6). https://www.jmcacademy.edu.au/news-and-events/news/why-it-s-important-to-reward-yourself/
APA Dictionary of Psychology. (2023). https://dictionary.apa.org/self-reinforcement
Rubin, G. (2014, December 13). The Psychology of Rewarding Yourself with Treats. Psych Central. https://psychcentral.com/blog/psychology-rewarding-yourself-with-treats
McLellan, T., Rotella, B., Grote-Garcia, S. A., Proctor, S. L., Patanella, D., Block, M., … Kibler, J. (2011). Self-Reinforcement. Encyclopedia of Child Behavior and Development, 1322–1324. doi:10.1007/978-0-387-79061-9_2560
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



