Deeptalk.co.id – Interaksi sosial sering kali menjumpai kita dengan pernyataan-pernyataan orang lain yang tidak sesuai harapan atau pola pikir kita. Saat ingin merubah hal tersebut kita akan dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu penyampaian secara persuasif atau manipulatif. Keduanya memiliki perbedaan yang sangat tipis, sehingga sering dianggap hal serupa.
Komunikasi persuasif dan manipulatif sama-sama bertujuan mengubah sikap, niat, atau perilaku orang lain. Terlepas dari tujuannya, keduanya memiliki perbedaan signifikan dalam hal etika, mekanisme psikologis, dan efek pada khalayak. Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang komunikasi persuasif dan manipulatif, serta perbedaan dari keduanya dalam perspektif psikologi.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental maupun perilaku menyimpang. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Komunikasi Persuasif

Komunikasi persuasif adalah upaya untuk mengubah atau mempengaruhi pola pikir, statement, atau perilaku seseorang dengan didasarkan oleh alasan, bukti, emosional yang jujur, atau teknik komunikasi yang terbuka dan menghormati pilihan audiens. Bisa dikatakan bahwa seseorang dengan komunikasi persuasif ini ingin memberikan pandangan lain yang bertolak belakang dengan pandangan lawan bicaranya. Misalnya seorang dokter yang ingin meluruskan pola pikir negatif masyarakat terhadap imunisasi anak.
Komunikasi persuasif agar bisa diterima oleh orang lain umumnya akan menggunakan dua jalur proses informasi, yaitu jalur sentral (central route) dan jalur perifer (peripheral route). Jalur sentral yaitu lawan bicara memproses argumentasi secara mendalam, dan lalu mendapatkan perubahan sikap yang lebih tahan lama. Sedangkan jalur perifer yaitu lawan bicara dipengaruhi oleh isyarat non-esensial (penampilan, kredibilitas singkat), namun perubahannya cenderung rapuh atau rentan kembali ke sikap atau pola pikir sebelumnya.
Baca juga: Mengapa Kita Rentan terhadap Manipulasi? Perspektif Psikologi Kognitif dan Sosial
Komunikasi Manipulatif

Sama halnya dengan komunikasi persuasif, komunikasi manipulatif juga merupakan upaya untuk mempengaruhi, mengendalikan, atau mengontrol orang lain. Namun bedanya, komunikasi manipulatif dilakukan demi mendapatkan keuntungan pribadi, menggunakan tipuan, menyebarkan informasi penting, bahkan mengeksploitasi kelemahan emosional orang lain. Misalnya seorang yang ingin pasangannya terikat secara emosional dengan dirinya, sehingga meyakinkan pasangannya untuk menjauhi orang lain, termasuk keluarga dan sahabat dekatnya.
Individu dengan komunikasi manipulatif ini biasanya memanfaatkan heuristik (ketersediaan, afiliasi sosial, anchoring) untuk menghasilkan keputusan yang menguntungkan mereka. Selain itu, mereka juga sering melakukan framing terhadap informasi-informasi keliru sehingga tampak benar dan positif. Dalam konteks hubungan interpersonal, manipulator juga sering memanfaatkan pola pengendalian emosional dan sosial yang membuat korban kehilangan otonomi.
Baca juga: Dampak Perilaku Manipulatif terhadap Kesehatan Mental
Perbedaan Komunikasi Persuasif dan Manipulatif

Kemiripan antara komunikasi persuasif dan manipulatif seringkali membuat kita tidak bisa membedakan keduanya. Hal tersebut yang juga sering dimanfaatkan oleh seorang manipulator untuk membuat dirinya seakan-akan melakukan komunikasi persuasif, walau pada kenyataannya sedang melakukan manipulatif. Untuk menghindari hal tersebut, perlu kita kenali perbedaan komunikasi persuasif dan manipulatif berikut:
Tujuan utama
Jika dilihat dari tujuan utamanya, komunikasi persuasif bertujuan untuk merubah sikap atau perilaku orang lain dengan persetujuan sadar dari lawan bicaranya. Sedangkan dari segi komunikasi manipulatif bertujuan untuk mengendalikan atau memanfaatkan lawan bicaranya demi keuntungan pribadi.
Transparansi
Perbedaan lainnya bisa dilihat dari segi transparansi, dimana komunikasi persuasif lebih bersifat terbuka, atau menyampaikan bukti dan argumen yang jelas. Sedangkan komunikasi manipulatif cenderung menyembunyikan fakta dan menggunakan kebohongan atau menyesatkan.
Peran emosi
Dalam komunikasi persuasif, seseorang memang cenderung menggunakan emosi untuk memperkuat argumen, misalnya empati lawan bicaranya. Namun dalam komunikasi manipulatif, lebih kepada mengeksploitasi emosi negatif lawan bicaranya, seperti rasa bersalah, ketakutan, atau rasa malu.
Kebebasan lawan bicara
Dalam komunikasi persuasif, lawan bicara diberikan kebebasan dalam menolak maupun menerima statement atau pola pikir komunikator. Hal tersebut berbeda dengan komunikasi manipulatif, dimana lawan bicara seakan ditekan atau dipaksakan mengikuti atau menerima statement atau pola pikir manipulator.
Etika
Dari segi etika rasanya sudah bisa dilihat bagaimana perbedaan antara komunikasi persuasi dan komunikasi manipulatif. Dalam hal ini komunikasi persuasi memang dilakukan sesuai norma moral dan etis bagi masyarakat. Berbeda dengan komunikasi manipulatif yang cenderung tidak etis dan merugikan korbannya.
Dampak jangka panjang
Perbedaan komunikasi persuasif dan komunikasi manipulatif juga bisa dilihat dari dampak jangka panjang yang ditimbulkan kedepannya. Dimana komunikasi persuasif mampu membangun kepercayaan dan hubungan positif. Sedangkan komunikasi manipulatif mampu menimbulkan ketidakpercayaan, kerusakan relasi, bahkan trauma bagi korbannya.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai komunikasi persuasif dan komunikasi, serta perbedaan keduanya. Jika kamu menjadi korban manipulasi, cobalah mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Media Sosial dan Manipulasi Psikologis: Dari Fear of Missing Out (FOMO) hingga Kontrol Sosial
Sumber:
Petty, R. E., & Cacioppo, J. T. (1986). Communication and persuasion: Central and peripheral routes to attitude change. Springer-Verlag.
Cialdini, R. B. (2009). Influence: Science and practice (5th ed.). Pearson.
O’Keefe, D. J. (2002). Persuasion: Theory and research (2nd ed.). Sage Publications.
Fogg, B. J. (2003). Persuasive technology: Using computers to change what we think and do. Morgan Kaufmann.
Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211.
Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under uncertainty: Heuristics and biases. Science, 185(4157), 1124–1131.
Brehm, J. W. (1966). A theory of psychological reactance. Academic Press.
Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice-Hall.
Vrij, A. (2008). Detecting lies and deceit: Pitfalls and opportunities (2nd ed.). Wiley.
American Psychological Association. (2017). Ethical principles of psychologists and code of conduct (2002, as amended 2010 & 2016). American Psychological Association.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



