Semua artikel
Perilaku

Mengapa Kita Rentan terhadap Manipulasi? Perspektif Psikologi Kognitif dan Sosial

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Bisa melakukan apapun yang kita inginkan, dan menjadi pribadi yang kita harapkan adalah dambaan setiap orang. Namun kadangkala ada saja orang-orang yang mencoba mengubah itu semua demi kepentingan pribadi. Bahkan tidak jarang kita melakukan apa yang orang inginkan tanpa kita sadari. Hal semacam itu dikenal dengan istilah manipulasi.

Walaupun menjadi korban manipulasi adalah hal yang dihindari orang banyak orang. Namun kecerdikan manipulator terkadang membuat kita sulit untuk mengabaikannya. Bahkan mereka bisa dengan pandainya membuat kita mengikuti apa yang diinginkan, walaupun hal itu merugikan diri kita sendiri.

Beberapa orang sangat mudah dimanipulasi, walaupun memang ada orang-orang yang memiliki keteguhan diri dan sulit untuk dimanipulasi. Artikel kali ini akan secara khusus membahas alasan sebagian orang mudah untuk dimanipulasi dalam perspektif psikologi kognitif dan psikologi sosial.

Sebelum kita masuk pada topik utama dalam artikel ini. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental maupun perilaku menyimpang. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa yang tepat dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

Perspektif Psikologi Kognitif

Ini Cara Menghadapi Seseorang yang Kerap Lakukan Manipulasi

Psikologi kognitif adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari proses mental seseorang, dan umumnya membahas tentang cara berpikir, melihat, dan gaya belajar seseorang. Artinya, dari cabang ilmu psikologi yang satu ini kita bisa mengetahui mengapa seseorang bisa berpikir akan satu hal, sedang orang lainnya tidak berpikir akan hal tersebut.

Salah satu pembahasan menarik dari psikologi kognitif adalah tentang mengapa sebagian orang mudah menjadi korban manipulasi. Perlu diketahui bahwa proses manipulasi ini berkaitan dengan cara seseorang memproses informasi, membuat keputusan, dan menggunakan bias kognitif. Berikut beberapa alasan mengapa seseorang mudah menjadi korban manipulasi dalam perspektif psikologi kognitif:

Bias kognitif

Dalam perspektif psikologi kognitif, individu bisa saja mengalami manipulasi saat mereka mendapatkan bias kognitif. Bias kognitif sendiri merupakan kondisi dimana alam bawah sadar salah dalam berpikir yang memicu kesalahan dalam berpikir, memproses, dan menafsirkan informasi. Artinya, ketika seseorang berpikir menggunakan heuristik (jalan pintas mental), maka mereka akan rentan termanipulasi. Misalnya pada kasus dimana seseorang selalu mendengarkan hal yang salah berulang kali, sehingga membenarkan hal tersebut walaupun hal tersebut tidak selalu benar.

Keterbatasan atensi

Kondisi lain yang memicu korban mudah termanipulasi adalah keterbatasan atensi yang mereka miliki. Dalam hal ini para manipulator memang cukup sering memanfaatkan distraksi agar korban tidak sempat mengevaluasi informasi secara kritis. Misalnya pada orang-orang yang tidak memiliki orang kepercayaan atau sumber informasi eksternal lainnya untuk membuktikan kebenaran dari informasi yang diberikan manipulator.

Kebutuhan akan kepastian

Beberapa orang sudah sangat terikat oleh manipulator. Dengan demikian, apapun yang dikatakan manipulator akan diterima dengan baik walaupun hal tersebut menyesatkan. Hal ini akan sangat mungkin terjadi pada orang-orang yang tidak nyaman akan ambiguitas atau selalu membutuhkan kepastian.

Efek framing

Berdasarkan perspektif psikologi kognitif juga, seorang manipulator sering mengemas suatu informasi keliru sehingga tampak sebagai sebuah fakta. Kondisi semacam ini dikenal sebagai efek framing. Dimana hal tersebut akan memudahkan seseorang termanipulasi.

Kurangnya keterampilan berpikir kritis

Bagi orang-orang yang tidak terbiasa berpikir secara kritis, mengalami manipulasi dari orang lain merupakan hal yang sangat mungkin. Pasalnya, orang-orang semacam ini cenderung menerima informasi yang sekilas tampak benar, tanpa mempertimbangkan berbagai sisi terlebih dahulu.

Baca juga: Dampak Perilaku Manipulatif terhadap Kesehatan Menta

Perspektif Psikologi Sosial

6 Cara Menghadapi Orang yang Berusaha Memanipulasimu - Lifestyle Fimela.com

Psikologi sosial adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang banyak membahas tentang perilaku seseorang dalam konteks sosial, termasuk cara seseorang dalam berinteraksi sesama manusia. Perlu diingat bahwa manipulasi melibatkan proses interaksi dua orang atau lebih di dalamnya. Maka dari itu, orang yang mudah dimanipulasi juga bisa dipahami dengan perspektif psikologi sosial. Misalnya:

Kebutuhan akan penerimaan sosial

Orang-orang yang butuh untuk diterima oleh lingkungan sosialnya biasanya akan mengorbankan logika mereka hanya agar bisa berbaur. Termasuk membiarkan mereka dalam pengaruh manipulasi oleh lingkungannya.

Otoritas dan konformitas

Berdasarkan penelitian klasi oleh Milgram pada tahun 1963, dan Asch di tahun 1951, seseorang akan cenderung mengikuti instruksi otoritas atau mayoritas meski bertentangan dengan keyakinan pribadi. Termasuk jika hal tersebut membuatnya menjadi korban manipulasi.

Ketergantungan emosional

Seseorang yang terlalu bergantung secara emosional dengan orang lain (pasangan, orang tua, teman, dll), cenderung lebih mudah dimanipulasi oleh orang tersebut. Umumnya hal tersebut dilakukan agar terjalin kedekatan jangka panjang, walaupun terkadang bersifat toxic.

Norma timbal balik

Kita hidup di era dimana jika seseorang bersikap baik terhadap kita, maka kita harus melakukan hal serupa, atau biasa dikenal dengan istilah balas budi. Sayangnya, balas budi ini terkadang disalah gunakan oleh manipulator. Dimana seakan manipulator bebas mengontrol seseorang hanya karena sudah berbuat satu kebaikan terhadap orang tersebut.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai alasan seseorang mudah dimanipulasi dalam perspektif psikologi kognitif dan sosial. Jika kamu mengalami beberapa kondisi di atas, cobalah mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Media Sosial dan Manipulasi Psikologis: Dari Fear of Missing Out (FOMO) hingga Kontrol Sosial

 

Sumber:

Asch, S. E. (1951). Effects of group pressure upon the modification and distortion of judgments. In H. Guetzkow (Ed.), Groups, leadership and men (pp. 177–190). Pittsburgh, PA: Carnegie Press.
Cialdini, R. B. (2009). Influence: Science and practice (5th ed.). Boston, MA: Pearson.
Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.
Milgram, S. (1963). Behavioral study of obedience. Journal of Abnormal and Social Psychology, 67(4), 371–378.
Tversky, A., & Kahneman, D. (1981). The framing of decisions and the psychology of choice. Science, 211(4481), 453–458.

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait