Deeptalk.co.id – Emosi memang merupakan kata yang sanagat familiar. Bahkan emosi merupakan hal yang sangat melekat dengan kehidupan kita sebagai manusia. Namun, apakah semua orang benar-benar paham akan emosinya? Apakah setiap orang bisa mengendalikan emosinya dengan baik dan bisa diterima oleh lingkungan sosialnya?
Uniknya, walaupun emosi sudah sangat melekat dengan kita. Nyatanya hanya segelintir orang yang memiliki regulasi emosi yang baik. Apa itu regulasi emosi? Regulasi emosi adalah kemampuan seseorang dalam memantau, mengevaluasi, dan mengubah emosi mereka secara adaptif untuk mencapai tujuan tertentu, atau agar bisa diterima oleh lingkungan. Dari pengertian tersebut, bisa kita lihat bagaimana peran regulasi emosi dalam menjaga hubungan interpersonal manusia.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang regulasi emosi dalam hubungan interpersonal, khususnya dengan perspektif psikologi sosial. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami masalah dalam mengendalikan emosi. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog, agar mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Regulasi Emosi dalam Perspektif Psikologi Sosial
Emosi pada dasarnya merupakan hal yang datang dari dalam diri seseorang. Namun uniknya, psikologi sosial menilai bahwa lahirnya regulasi emosi didasari atau dipengaruhi oleh konteks sosial. Bisa dilihat dari tujuan regulasi emosi itu sendiri. Dimana seseorang merubah ekspresi terhadap emosinya agar bisa diterima oleh lingkungan sosial.
Kehidupan bersosial tentu diatur oleh banyak hal, termasuk norma sosial, kehadiran orang lain, hubungan antar pribadi, dan juga dinamika kelompok. Semua itulah yang pada akhirnya mendorong seseorang untuk mengekspresikan emosinya dengan lebih baik, terlepas dari emosi yang dirasakan positif maupun negatif.
Baca juga: Mindfulness dan Regulasi Emosi: Hubungan antara Kesadaran Penuh dan Keseimbangan Emosi
Fungsi Regulasi Emosi dalam Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal adalah hubungan antara dua orang atau lebih yang saling tergantung, dan menggunakan pola interaksi yang konsisten. Dalam hubungan interpersonal ini, peran regulasi emosi ternyata sangat penting. Untuk itu, berikut beberapa fungsi regulasi emosi dalam hubungan interpersonal:
Meningkatkan keharmonisan hubungan
Fungsi regulasi emosi dalam hubungan interpersonal yang pertama adalah mampu meningkatkan keharmonisan hubungan. Suatu hubungan akan lebih harmonis jika orang-orang didalamnya mampu berkomunikasi secara sehat. Artinya, tidak membiarkan emosi negatif mendominasi yang bisa memicu reaksi-reaksi yang tidak diharapkan oleh orang lain.
Meningkatkan empati dan pemahaman
Fungsi regulasi emosi dalam hubungan interpersonal yang kedua adalah mampu meningkatkan empati dan pemahaman antar sesama. Dalam hubungan interpersonal penting bagi kita memahami dan berempati dengan kondisi orang lain. Hal tersebut akan membuat orang lain merasa dihargai dan dimengerti.
Mendukung resolusi konflik
Fungsi regulasi emosi dalam hubungan interpersonal yang ketiga adalah mampu mendukung resolusi konflik. Hubungan interpersonal bisa dibilang tidak lepas dari konflik. Namun, tergantung dari orang yang menjalaninya apakah mampu menyelesaikan konflik tersebut dengan baik atau tidak. Regulasi emosi hadir untuk memfasilitasi pendekatan yang lebih rasional dalam penyelesaian konflik ini.
Meningkatkan kepuasan hubungan
Fungsi regulasi emosi dalam hubungan interpersonal yang keempat adalah mampu meningkatkan kepuasan hubungan. Dari ketiga poin sebelumnya sebenarnya sudah menjadi gambaran bagaimana regulasi emosi membantu seseorang meningkatkan kepuasan hubungan interpersonalnya. Pasalnya, hubungan yang didasari dengan kemampuan mengelola emosi yang baik, akan cenderung lebih stabil dan memuaskan.
Dampak Regulasi Emosi yang Buruk dalam Relasi
Penjelasan mengenai seberapa pentingnya regulasi emosi tentu sudah cukup memberikan dorongan untuk kita meningkatkan kemampuan regulasi emosi. Sebaliknya, kita juga perlu tahu bahwa regulasi emosi yang buruk rupanya bisa memperburuk individu dalam berelasi. Berikut dampak regulasi emosi yang buruk dalam relasi:
· Timbulnya kesalahpahaman dan konflik yang berulang, hal ini dipicu oleh ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi dan mengenali emosi yang dialami. Jika tidak melakukan evaluasi terhadap emosi, tidak menuntut kemungkinan konflik yang sama akan terulang di kemudian hari.
· Ketidakpuasan dalam hubungan romantis maupun pertemanan, karena individu dengan regulasi emosi yang buruk tidak bisa mengontrol ucapan dan perbuatan yang menjadi respon akan emosi yang dirasakan. Pada akhirnya akan banyak ketidakpuasan dalam hubungan, baik itu yang dirasakan secara pribadi, maupun yang orang lain rasakan.
· Penurunan kesehatan mental, karena ketidakmampuan dalam mengatur emosi ini bisa beresiko mengalami berbagai masalah kesehatan mental. Misalnya menjadi lebih beresiko terhadap kondisi depresi, gangguan kecemasan, dan lain sebagainya.
· Penurunan empati dan keterikatan emosional dengan orang lain, pasalnya kemampuan regulasi emosilah yang membantu seseorang untuk melatih empati dan memiliki ikatan emosional dengan orang lain. Jika terus berlanjut, seseorang dengan regulasi emosi yang buruk ini bisa bertindak diluar norma sosial yang ada.
Itu dia penjelasan singkat tentang regulasi emosi dalam hubungan interpersonal. Dapat disimpulkan bahwa regulasi emosi berperan besar dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat. Maka dari itu, jika kamu mengalami kesulitan dalam meningkatkan kemampuan regulasi emosi. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mekanisme Regulasi Emosi pada Individu dengan Gangguan Kecemasan: Tinjauan Psikologis
Sumber:
Gross, J. J. (1998). The Emerging Field Of Emotion Regulation: An Integrative Review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.3.271
Butler, E. A., Egloff, B., Wilhelm, F. H., Smith, N. C., Erickson, E. A., & Gross, J. J. (2003). The Social Consequences Of Expressive Suppression. Emotion, 3(1), 48–67. https://doi.org/10.1037/1528-3542.3.1.48.
Lopes, P. N., Salovey, P., Côté, S., & Beers, M. (2005). Emotion Regulation Abilities And The Quality Of Social Interaction. Emotion, 5(1), 113–118. https://doi.org/10.1037/1528-3542.5.1.113
English, T., John, O. P., & Gross, J. J. (2012). Emotion Regulation In Close Relationships. In M. L. Snyder & A. W. Kruglanski (Eds.), Social psychology: Handbook of basic principles (2nd ed., pp. 399–417). Guilford Press.
Niven, K., Totterdell, P., & Holman, D. (2009). A Classification Of Controlled Interpersonal Affect Regulation Strategies. Emotion, 9(4), 498–509. https://doi.org/10.1037/a0015962.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



