Semua artikel
Perilaku

Procrastination & Kognitif : Bagaimana Cara Pikiran Mempengaruhi Kebiasaan Menunda-nunda?

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan atau yang terkenal dengan istilah procrastination merupakan wabah kebiasaan buruk yang rentan terjadi pada kebanyakan orang. Ini memungkinkan terjadi penghindaran pekerjaan atau tugas yang diperlukan dengan berfokus pada aktivitas yang lebih memuaskan. Ada pengaruh cara pikir individu secara kognitif yang dapat memengaruhi kebiasaan procrastination ini.

Penundaan pekerjaan jika dilihat dari pola pikir manusia memiliki sifat secara kimiawi. Yang mana ada ilmu yang mendasari mengapa seseorang lebih memilih aktivitas santai daripada yang dibutuhkan. Manusia cenderung mudah untuk menunda-nunda hingga kurangnya motivasi diri, kebiasaan malas, atau perasaan ketidakmampuan.

Dalam artikel ini, kami akan membahas mengenai hubungan kebiasaan procrastination pada kognitif manusia. Sekaligus untuk mengetahui alasan secara biologis seseorang suka menunda-nunda pekerjaan.

Bias Kognitif : Mengapa Orang Suka Menunda-nunda?

Bias kognitif atau prasikap kognitif adalah kondisi yang terjadi ketika alam bawah sadar salah dalam berpikir sehingga akan menimbulkan kesalahan dalam berpikir, memproses, dan menafsirkan informasi. Hal ini juga dapat mempengaruhi rasionalitas dan keakuratan dalam menentukan keputusan dan penilaian, termasuk perilaku penundaan yang sulit dihentikan.

Mungkin Anda tahu melakukannya “nanti-nanti” adalah hal yang buruk, namun itu tidak bisa Anda tahan untuk tidak dilakukan secara internal. Mekanisme kognitif kemungkinan yang menjadi alasan mengapa Anda sulit untuk mengatasi kecenderungan procrastination ini.

Walaupun setiap individu tidaklah sama, namun procrastination adalah perilaku atau kebiasaan yang kita semua bisa temui dalam hidup pada domain yang berbeda. Atau pada titik waktu yang berbeda bisa terjadi dalam hidup kita.

Baca juga: Dependent Personality Disorder (DPD) : Pengertian, Penyebab dan Gejalanya

Sisi Biologis Otak Dibalik Kebiasaan Procrastination

Bias kognitif terjadi juga karena adanya pengaruh dari kinerja otak, sehingga ada sisi biologis mengapa manusia sering mudah terjebak pada procrastination. Secara sains, penundaan disebut sebagai pertarungan yang dipicu antara dua bagian otak. Ini terjadi ketika otak dihadapkan dengan aktivitas atau tugas yang tidak menyenangkan.

Pertempuran ini melibatkan sistem limbik (zona bawah sadar yang mencakup pusat kesenangan) dan korteks prefrontal (yang jauh lebih baru berevolusi bagian dari otak yang pada dasarnya adalah “perencana” internal Anda). Ketika sistem limbik menang, yang sering kali ditandai dengan hasil menunda apa yang seharusnya dapat diselesaikan saat ini namun malah memutuskan untuk melakukannya esok hari. Ini mungkin akan menawarkan kelegaan sementara dari perasaan tidak menyenangkan tentang kebutuhan dengan tidak ingin melakukan sesuatu.

Sistem limbik menjadi bagian otak paling dominan dan bekerja secara otomatis, membuatnya sedikit lebih banyak memberikan cadangan ilmiah. Sehingga Anda dapat berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai menunda-nunda untuk kebutuhan biologis. Juga ini yang memberitahu Anda untuk melarikan diri dari tugas yang tidak menyenangkan. Hal tersebut diatur untuk melakukan naluri bertahan hidup dasar Anda, yang berujung pada pilihan “perbaikan suasana hati segera”.

Sedangkan korteks prefrontal adalah bagian otak yang lebih baru dan lebih lemah yang memungkinkan Anda mengintegrasikan informasi dan membuat keputusan. Ini adalah bagian otak yang benar-benar memisahkan manusia dari binatang, yang hanya dikendalikan oleh rangsangan.

Korteks prefrontal yang terletak tepat di belakang dahi tidak bekerja secara otomatis untuk menyelesaikan pekerjaan atau fungsinya. Sehingga Anda harus mengaktifkannya, yakni dengan perintah-perintah tegas pada diri sendiri misal.

Saat Anda tidak secara sadar terlibat dalam suatu tugas, sistem limbik Anda akan mengambil alih. Hingga akhirnya Anda menyerah pada apa yang terasa nyaman yang kemudian mengarah pada kebiasaan menunda-nunda.

Procrastination Lebih Mungkin Ketika Tugas Lebih Sulit

Sejalan dengan sisi biologis manusia yang memicu kebiasaan procrastination, ada bukti lain yang menunjukkan penundaan lebih mungkin terjadi ketika tugas lebih sulit. Seseorang yang terjebak pada “zona nyaman” mungkin akan memilih untuk menghindari pekerjaan sulit tersebut hingga berakhir pada keputusan untuk menyelesaikan di lain waktu.

Dalam penelitian untuk mengukur procrastination, para peneliti meminta peserta untuk memilih apakah akan melakukan tugas untuk hadiah sekarang, atau tugas yang sama besok untuk hadiah yang sama. Para peserta diberi tahu bahwa mereka perlu melakukan salah satu tugas pada hari yang mereka pilih.

Seperti yang diharapkan, semakin banyak upaya yang diperlukan, atau semakin sedikit penghargaan tugas, semakin besar kemungkinan peserta ingin menunda. Yang terpenting, semakin seseorang meremehkan betapa sulitnya tugas di masa depan, semakin besar kemungkinan mereka akan menunda tugas tersebut.

Hampir semua orang menunda sampai batas tertentu. Untuk eksperimen di lab dan di rumah, ciri khas dari tingkat keparahan penundaan adalah seberapa banyak setiap individu percaya bahwa tugas tersebut akan menjadi kurang mudah di masa depan dengan membuat pilihan tertentu. Perbedaan dalam aktivitas saraf korteks prefrontal dorsomedial juga memprediksi kecenderungan peserta untuk menunda-nunda.

Dengan kata lain, semakin otak Anda mengurangi berapa banyak upaya yang diperlukan untuk melakukan sesuatu di masa depan, semakin besar kemungkinan Anda untuk menunda-nunda.

Baca juga: Mood Swing: Menjelajahi Perubahan Mood yang Sering Dialami Seseorang

 

Sumber:

Sima, R. (2023, January 5). What causes your brain to procrastinate and how to face it. Washington Post. https://www.washingtonpost.com/wellness/2023/01/05/procrastination-help-brain-tasks/

Spencer, A. (2023). Want to Train Your Brain to Stop Procrastinating? Read These Tips From a Neuroscientist. Real Simple. https://www.realsimple.com/work-life/life-strategies/time-management/procrastination

UPMC’s Neurosurgery. (2015). The Science Behind Procrastination. UPMC. https://share.upmc.com/2015/07/the-science-behind-procrastination

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Procrastination & Kognitif : Bagaimana Cara Pikiran Mempengaruhi Kebiasaan Menunda-nunda? — DeepTalk