Deeptalk.co.id – Lansia adalah orang-orang dengan kategori usia di atas 65 tahun. Pada usia tersebut umumnya orang-orang sudah memasuki masa pensiun, dan menikmati hari tuanya. Banyak diantara mereka yang menghabiskan waktu dengan bermain bersama cucuk, mengerjakan hobi yang sebelumnya tidak sempat dilakukan, dan masih banyak lagi.
Meski demikian, tidak semua lansia bisa menikmati masa tuanya. Beberapa diantara mereka justru menikmati hari-hari dengan melakukan serangkaian pengobatan medis. Bagaimana tidak, usia lansia merupakan usia dimana manusia mengalami penurunan kemampuan fisik. Tidak hanya kondisi fisik yang menurun, kondisi mentalnya juga cenderung tidak stabil.
Kondisi fisik yang tidak lagi prima, ditambah produktivitas yang semakin menurun, tidak jarang membuat para lansia mengalami masalah mental. Salah satu kondisi yang paling umum adalah post power syndrome atau sindrom ketika masuk masa pensiun. Lantas, seperti apa sebenarnya post power syndrome itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai post power syndrome.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, jangan ragu untuk mengikuti sesi konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Post Power Syndrome

Post power syndrome adalah kondisi yang umum terjadi pada lansia. Meski demikian, kondisi tersebut masih sering dianggap sebelah mata. Namun tahukah kamu, post power syndrome pada lansia pada dasarnya adalah kondisi yang perlu diperhatikan.
Post power syndrome adalah kondisi ketika seorang lansia membandingkan pencapaiannya di masa muda, dengan masa sekarang. Hal tersebut pada akhirnya akan menurunkan rasa percaya diri, dan tidak jarang menyebabkan depresi. Bagaimana tidak, masa muda adalah masa dimana produktivitas sedang tinggi-tingginya, kondisi fisik juga sedang di fase yang terbaik, dan tentunya banyak pencapaian yang didapatkan. Sedangkan memasuki masa lansia, kondisi-kondisi semacam itu menjadi semakin menurun.
Lansia dengan post power syndrome merasa penurunan produktivitas, hilangnya tujuan hidup, perubahan rutinitas, dan penurunan penghasilan menimbulkan berbagai efek negatif untuk dirinya. Termasuk dalam kondisi mentalnya. Banyak diantara mereka yang bahkan kehilangan jati diri, kehilangan semangat hidup. Dan tidak jarang memicu pikiran bunuh diri.
Menurut seorang dosen psikologis Universitas Indonesia yang bernama Dra.Siti Dharmayanti Bambang Utoyo, M.A, Ph.D., persiapan psikologi pada masa pensiun seharusnya dilakukan sejak usia 25-45 tahun. Sayangnya, masih banyak orang yang tidak peduli akan hal tersebut, dan baru sadar serta mempersiapkan diri saat memasuki usia 50 tahun ke atas.
Kondisi post power syndrome ini umumnya bermula saat seseorang memasuki masa pensiun. Namun akan semakin parah seiring dengan bertambahnya usia, dan akan lebih parah jika tidak mendapatkan pertolongan yang tepat.
Baca juga: Penyebab dan Dampak Gangguan Panik Pada Lansia
Penyebab Post Power Syndrome

Sayangnya hingga saat ini belum diketahui penyebab utama seseorang mengalami post power syndrome. Walaupun memang kondisi ini dialami saat memasuki usia pensiun atau usia lansia. Meski demikian, tidak semua lansia mengalami post power syndrome. Dimana kondisi tersebut bisa saja dipicu oleh berbagai macam faktor, diantaranya:
Kehilangan rutinitas hidup
Beberapa orang akan merasa hampa saat kehilangan rutinitas hidupnya. Terutama jika hal tersebut terjadi secara signifikan. Misalnya pada para pekerja yang memasuki masa pensiun, orang tua yang ditinggal menikah oleh anaknya, dan masih banyak lagi. Kondisi-kondisi semacam itu membuat para lansia ini merasakan kekosongan, kebingungan, dan jika tidak ditangani pada akhirnya mengalami post power syndrome.
Kehilangan tujuan hidup
Saat usia muda akan banyak sekali hal yang ingin kita capai. Misalnya ingin memiliki rumah, mobil, pasangan hidup, anak atau keturunan, dan masih banyak lagi. Sayangnya saat memasuki usia lansia, sebagian besar tujuan hidup itu sudah tercapai. Orang-orang yang terbiasa hidup dengan mengejar tujuan hidupnya akan merasa tidak nyaman. Kondisi inilah yang pada akhirnya memicu post power syndrome.
Kondisi kesehatan
Tidak sedikit lansia yang mengalami penurunan kemampuan fisik, dan mengidap berbagai penyakit serius. Berbeda dengan masa muda yang penuh dengan semangat, kondisi fisik yang kuat, dan jarang terkena berbagai penyakit. Hal semacam itu membuat lansia merasa tertekan, takut akan kemungkinan penyakit, keterbatasan dalam beraktivitas, bahkan kematian. Maka tidak jarang hal tersebut justru memicu kondisi post power syndrome pada lansia.
Selain beberapa kondisi di atas, post power syndrome juga akan semakin beresiko pada lansia yang hidup seorang diri, tidak memiliki kesibukan, kondisi finansial yang tidak stabil, tidak ingin pensiun, dan memiliki penyakit atau masalah kesehatan tertentu.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai post power syndrome. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Waspada Gangguan Panik Pada Lansia
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



