Semua artikel
Perilaku

Posesif sebagai Mekanisme Koping: Upaya Mengatasi Rasa Takut dan Kerentanan Psikis

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Perilaku posesif seringkali dibungkus dengan rasa cinta dan kasih sayang yang sangat besar. Hal tersebut membuat perilaku posesif tampak positif dan sebagai wujud nyata dari cinta dan kasih sayang. Padahal jika diperhatikan lebih dalam, posesif dan cinta adalah dua hal yang bertolak belakang. Cinta adalah perasaan positif, sedangkan posesif adalah perilaku negatif yang menimbulkan ketidakbahagiaan.

Beberapa orang juga menjadikan perilaku posesif sebagai bentuk dari mekanisme koping dari perasaan takut dan kerentanan psikis. Benarkah demikian? Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang bagaimana posesif muncul sebagai cara menghadapi rasa cemas, kesepian, atau trauma kehilangan.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Posesif Sebagai Respon Terhadap Kecemasan

8 Tanda Pasangan yang Obsesif dan Suka Mengontrol | Popmama.com

Individu dengan tingkat kecemasan tinggi dalam dirinya cenderung memiliki rasa khawatir berlebih akan ketidakpastian dalam hubungan yang dijalin. Dengan kecemasan berlebih bisa beralih menjadi perilaku posesif yang tidak terkontrol. Individu menjadi sulit percaya dengan pasangan, cenderung mengontrol, cemburu berlebihan, hingga sangat membutuhkan validasi dari pasangannya.

Perilaku posesif ini memberikan ilusi kendali dan ketidakpastian. Seakan dengan mengontrol, mengendalikan, atau memantau pasangan akan memberikan perasaan tenang dan menurunkan kecemasan. Padahal, hal tersebut justru akan memperburuk kualitas hubungan yang sedang dijalani, dan tentunya membuat pasangan merasa tidak nyaman.

Contoh posesif sebagai respon terhadap kecemasan, yaitu individu yang selalu ingin tahu isi handphone pasangannya, memantau aktivitas dan keberadaan pasangan secara intens, membatasi pergaulan pasangan, dan selalu ingin tahu apa yang sedang dilakukan dan dengan siapa pasangan berinteraksi.

Posesif sebagai respon terhadap kecemasan ini memiliki hubungan dengan attachment style atau gaya keterikatan. Dimana individu dengan tipe anxious attachment (gaya keterikatan cemas) memang cenderung takut ditinggalkan, dan berperilaku posesif. Gaya keterikatan ini terbentuk oleh pola asuh yang didapatkan sejak masa kanak-kanak.

Baca juga: Dampak Perilaku Posesif terhadap Kesehatan Mental Pasangan dan Kualitas Relasi

Posesif Sebagai Upaya Mengatasi Kesepian

8 Tanda Pasangan yang Obsesif dan Suka Mengontrol | Popmama.com

Perasaan kesepian biasanya timbul akibat minimnya interaksi dengan orang lain, atau tidak mendapatkan dukungan sosial dari lingkungannya. Individu yang merasa kesepian ini memiliki kecenderungan menaruh semua harapan emosionalnya terhadap pasangannya. Pada akhirnya, individu tersebut hanya bergantung terhadap pasangannya, dan menuntut pasangannya untuk mengusir rasa sepi tersebut. Padahal tanpa disadari, pasangannya juga membutuhkan ruang pribadi untuk dirinya sendiri. Hal semacam inilah yang biasanya membuat individu justru menjadi sosok yang posesif terhadap pasangannya.

Perilaku posesif dijadikan sebuah cara untuk mempertahankan kedekatan yang konstan agar tidak merasa kesepian. Tentunya tanpa memperdulikan ruang pribadi dan aktivitas sosial lainnya yang dibutuhkan oleh pasangan. Bisa dikatakan bahwa perilaku ini cukup egois karena hanya mementingkan kebutuhan emosionalnya sendiri.

Contoh posesif sebagai upaya mengatasi kesepian, yaitu individu yang menuntut pasangannya selalu ada, cenderung marah saat pasangannya memiliki kesibukan dengan pekerjaan atau keluarganya, merasa hampa jika tidak ada komunikasi. Ketergantungan emosional ini beresiko menekan pasangan, mengurangi kebebasan pribadi, dan justru memperburuk rasa kesepian ketika pasangan mulai menarik diri.

Baca juga: Dari Rasa Sayang ke Obsesi: Analisis Psikologis Transformasi Perilaku Posesif

Posesif Sebagai Akibat Trauma Kehilangan

5 Cara Menghadapi Mantan yang Obsesif | kumparan.com

Kehilangan orang yang dicintai tentu bukan hal yang menyenangkan. Kondisi tersebut bahkan bisa menjadi trauma psikologis yang membutuhkan bantuan profesional. Sayangnya, beberapa orang justru mengabaikan kondisi tersebut. Pada akhirnya, perasaan trauma yang terpendam itu justru berdampak pada hubungan selanjutnya. Tidak sedikit orang yang justru menjadi posesif karena sebelumnya pernah kehilangan orang yang dicintai.

Dalam kasus ini, pelaku posesif tidak ingin mengalami kejadian yang sama. Sayangnya, mereka justru melakukan hal-hal yang membuat pasangan tidak nyaman. Bentuk yang dianggap sebagai upaya untuk menjaga hubungan agar tidak kehilangan, justru terasa sebagai kekangan atau kontrol berlebih dalam hubungan.

Contoh posesif sebagai akibat trauma, yaitu individu yang pernah diselingkuhi oleh pasangan sebelumnya menjadi sangat posesif dengan pasangan barunya. Misalnya selalu mengontrol aktivitas pasangan, mengecek handphone, tidak memberikan ruang pribadi kepada pasangan, dan lain sebagianya.

Alih-alih mendatangkan ketenangan, rasa takut akan kehilangan justru menjadi semakin besar. Maka dari itu, diperlukan penanganan terlebih dahulu sebelum akhirnya menjalin hubungan baru. Dengan demikian, hubungan yang dijalin kedepannya bisa lebih sehat.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai posesif sebagai mekanisme koping dari kecemasan, rasa kesepian, dan trauma kehilangan. Jika kamu mengalami beberapa kondisi di atas, cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Perilaku Posesif dan Kaitannya dengan Attachment Style dalam Teori Psikologi

 

Sumber:

Bowlby, J. (1980). Attachment and loss: Vol. 3. Loss, sadness and depression. New York: Basic Books.

Hawkley, L. C., & Cacioppo, J. T. (2010). Loneliness matters: A theoretical and empirical review of consequences and mechanisms. Annals of Behavioral Medicine, 40(2), 218–227.

Liotti, G. (2017). Attachment and the therapeutic process. Journal of Clinical Psychology, 73(10), 1176–1187.
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2016). Attachment in adulthood: Structure, dynamics, and change (2nd ed.). New York: Guilford Press.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Posesif sebagai Mekanisme Koping: Upaya Mengatasi Rasa Takut dan Kerentanan Psikis — DeepTalk