Semua artikel
Internet

Perilaku Impulsif Secara Digital : Bagaimana Media Sosial Mempengaruhinya

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Dalam era digital yang semakin maju, penggunaan media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Namun, ada aspek dari interaksi online ini yang semakin mendapat perhatian, yaitu perilaku impulsif dalam penggunaan media sosial. Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan tanpa pemikiran panjang, seperti mengirim komentar kasar, berbagi informasi pribadi secara berlebihan, atau terlalu sering mengecek media sosial.

Artikel ini akan membahas fenomena perilaku impulsif dalam penggunaan media sosial, mengungkapkan bagaimana tindakan-tindakan ini dapat memengaruhi kesehatan mental pengguna, sehingga bisa memberikan pemahaman akan langkah-langkah apa yang dapat diambil untuk mengatasi dampak negatifnya.

Perkembangan Penggunaan Media Sosial

Perilaku penggunaan media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari bagi banyak individu di seluruh dunia. Semakin banyak orang dari berbagai lapisan usia dan latar belakang yang terhubung melalui platform seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya. Fenomena ini memiliki beberapa dampak yang signifikan pada individu dan masyarakat secara keseluruhan.

Media sosial telah merubah cara manusia dalam berkomunikasi. Mereka dapat terhubung dengan teman-teman dan keluarga yang berada jauh dengan lebih mudah, dapat membagikan momen dalam hidup, dan bahkan bisa berkomunikasi dengan orang-orang di seluruh dunia. Selain itu, media sosial telah menjadi saluran utama untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan mengglobal.

Begitu banyak hal menarik dan menyenangkan di dalamnya sehingga tak jarang ini menimbulkan ketergantungan hingga perilaku impulsif yang membuat penggunanya kesulitan untuk melepaskan media sosial sejenak. Inilah yang kemudian bisa memberikan dampak lain bagi kesehatan mental. Kecenderungan untuk tetap berada di media sosial membuat pengguna menjadi kurang berinteraksi secara nyata dengan orang sekitar. Hingga ini bisa meningkatkan risiko stres, kecemasan dan depresi.

Semakin banyaknya waktu yang dihabiskan di media sosial telah menciptakan fenomena yang dikenal sebagai “scrolling culture” atau budaya gulir. Individu sering kali merasa tergoda untuk terus-menerus menggulir berita, gambar, dan postingan teman-teman mereka tanpa batas waktu yang jelas. Fenomena ini dapat mengakibatkan gangguan tidur dan menurunkan produktivitas.

Perbandingan sosial dan perasaan kurangnya kesempurnaan yang ditampilkan oleh orang lain dalam postingan mereka juga dapat merangsang perasaan rendah diri. Aspek privasi dan keamanan pun juga menjadi perhatian serius dalam penggunaan media sosial. Banyak platform mengumpulkan data pribadi pengguna untuk iklan dan tujuan lainnya, dan seringkali muncul kekhawatiran tentang bagaimana data ini digunakan dan disimpan.

Dalam era yang semakin terkoneksi ini, penting untuk menjalani penggunaan media sosial dengan bijak. Menjaga keseimbangan antara waktu online dan offline, mengelola privasi, dan berhati-hati dalam mengonsumsi informasi adalah beberapa langkah yang dapat membantu kita menjalani kehidupan yang seimbang di era digital ini.

Baca juga: Bagaimana Program Sukarelawan Mempengaruhi Kesehatan Mental?

Media Sosial dan Perilaku Impulsif

Penggunaan media sosial kini telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari sebagian besar populasi global. Penggunaannya pun selalu mengalami peningkatan lonjakan yang signifikan pada setiap platform. Seiring dengan pertumbuhan yang cepat ini, terdapat keprihatinan akan dampaknya bagi kesehatan mental, khususnya ketika penggunaan media sosial sudah menjadi perilaku impulsif.

Media sosial yang menarik perhatian masyarakat kini membuat penggunanya sering merasa tergoda untuk selalu memeriksa ponsel mereka secara berulang-ulang dalam sehari. Entah untuk berinteraksi dengan berbagai konten hingga menghabiskan berjam-jam lamanya di dunia maya.

Terdapat kecenderungan perilaku impulsif pada pengguna media sosial yang berkaitan dengan ketergantungan pada media sosial. Perilaku impulsif ini timbul ketika perasaan cemas yang muncul jika mereka tidak dapat mengakses media sosialnya, termasuk sampai menghabiskan banyak waktunya untuk menggulir timeline tanpa tujuan yang jelas.

Selain itu, media sosial juga sering kali menjadi tempat di mana individu dapat merasa tertekan untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain. Konten yang tampak sempurna dan bahagia dari kehidupan orang lain dapat membuat orang merasa tidak adekuat atau cemburu. Ini yang kemudian dapat memicu perasaan marah atau impulsif. Ketidakpuasan ini dapat menyebabkan reaksi berlebihan dalam berbagi informasi atau mengomentari posting orang lain tanpa memikirkan akibatnya.

Beberapa individu menderita karena penggunaan media sosial secara impulsif, berlebihan dan tidak terkendali. Perilaku impulsif dalam penggunaan media sosial ini membawa pada fenomena kecanduan internet yang semakin dikenal sebagai penyakit psikologis yang serius. Perilaku impulsif telah terbukti terkait dengan perilaku adiktif, juga dengan kecanduan internet atau media sosial. Namun, makna dalam hidup dan self-esteem atau harga diri dapat menjadi penyangga yang berguna untuk mengatasi kecanduan media sosial bagi individu yang sangat impulsif.

Selain itu, hasil analisis lain yang menyesuaikan dengan model kecanduan neuropsikologis, mengasumsikan bahwa kecenderungan gangguan penggunaan media sosial terkait dengan interaksi antara ciri-ciri kepribadian yang mempengaruhi, termasuk perilaku impulsif. Ini juga didorong dengan terjadinya penurunan kognitif pada penderitanya, misalnya pada fungsi eksekutif dan kontrol penghambatan.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat keparahan gejala gangguan penggunaan media sosial terutama terkait dengan impulsif atensi. Fungsi eksekutif umum dan kontrol penghambatan spesifik dari isyarat terkait jaringan sosial tidak memiliki efek langsung pada keparahan gejala. Namun, analisis regresi yang dimoderasi menekankan bahwa peningkatan keparahan gejala dikaitkan dengan impulsif atensi yang lebih tinggi. Terutama jika ada pengurangan fungsi eksekutif atau kontrol penghambatan spesifik.

Baca juga: Gangguan Fokus : Mengapa Kita Sulit Untuk Konsentrasi?

 

Sumber:

https://www.nature.com/articles/s41598-020-60819-4

https://link.springer.com/article/10.1007/s40429-023-00495-2

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4501566/

https://edupij.com/index/arsiv/10/32/relationship-between-impulsivity-social-media-usage-and-loneliness

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Perilaku Impulsif Secara Digital : Bagaimana Media Sosial Mempengaruhinya — DeepTalk