Deeptalk.co.id – Dalam kehidupan yang penuh dengan tekanan dan tuntutan, banyak dari kita mungkin pernah merasakan dampak stres yang mengganggu kesejahteraan mental dan fisik kita. Salah satu respons yang mungkin muncul dari stres adalah perilaku impulsif.
Artikel ini akan menjelaskan dengan lebih rinci tentang bagaimana stres dapat memengaruhi perilaku impulsif kita dan sebaliknya, bagaimana perilaku impulsif dapat meningkatkan tingkat stres yang kita alami. Pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan kompleks antara stres dan perilaku impulsif dapat membantu kita dalam mengidentifikasi, mengatasi, dan mengelola kedua aspek ini untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.
Apa yang Terjadi Ketika Anda Stres?

Sama halnya ketika Anda terpengaruh dengan alkohol, Anda menjadi kesulitan untuk mengatur atau mengontrol diri Anda saat stres. Ketika Anda di bawah pengaruh stres, Anda menjadi bergantung pada dorongan hati dan emosi, dan bukan pemikiran rasional. Stres dapat melemahkan kemampuan Anda untuk mengatur impulsif. Ini dikarenakan otak bagian atas di korteks serebral dibajak oleh emosi irasional dan pikiran-pikiran yang tidak terkendali di otak bagian bawah sistem limbik.
Penelitian menunjukkan bahwa stres memperburuk pusat agresi di otak, yang pada gilirannya meningkatkan umpan balik stres. Tanpa filter pengaturan diri, Anda menjadi bereaksi terhadap tuntutan emosional tanpa berpikir. Stres menghancurkan tuas kemauan yang menjadi pembeda antara manusia dan marmoset, seperti kesabaran, yang merupakan alat disiplin diri yang kurang dikenal.
Dengan demikian, memiliki kemampuan untuk berhenti sejenak, merenung, menarik napas, dan tidak bereaksi terhadap tuntutan merupakan komponen penting dalam penguasaan diri. Ketika Anda membiarkan peristiwa dan orang lain langsung menekan tombol milik Anda, Anda menimbulkan stres pada diri Anda sendiri. Dan dengan itu, lebih banyak lagi stres dan kejengkelan yang datang dari keputusan buruk akibat otak yang tidak terkendali.
Kesabaran dan strategi seperti penerimaan, memilih perjuangan, dan penilaian kognitif dapat membingkai ulang peristiwa negatif sehingga otak dapat menggunakan analisis rasional untuk mematikan sinyal bahaya palsu dari respons stres pada momen yang tidak mengancam jiwa. Ini adalah bagian dari kotak peralatan dari regulasi emosi. Ini adalah cara Anda untuk menggunakan disiplin diri dalam mengubah pikiran dan perilaku guna menghindari dorongan hati dan menjauhkan stres.
Baca juga: Strategi Psikologis Untuk Mengoptimalkan Fokus Demi Produktivitas
Stres Terhadap Perilaku Impulsif

Stres merupakan fungsi dari tuntutan yang melebihi kontrol yang dirasakan. Sehingga kunci untuk mengelolanya ialah dengan hal yang mengikis stres, yaitu kontrol diri terhadap regulasi emosi. Tantangan hidup adalah mampu mengerahkan disiplin mental untuk mengesampingkan dorongan hati, godaan, dan reaksi emosional terhadap tekanan dan tantangan. Ini membantu Anda mendengarkan kepentingan jangka panjang kita dibandingkan kepuasan ego, suasana hati, dan emosi bawaan.
Menahan diri dari perilaku impulsif ketika mengalami stres membutuhkan tindakan pengendalian diri yang dengannya dapat mengubah dirinya sendiri. Ini adalah pola perilaku untuk mencegah atau menghambat respons dominannya, di mana orang terkadang menyerah dan melakukan perilaku terlarang karena mereka kekurangan kekuatan, energi, atau sumber daya batin lainnya yang diperlukan untuk menahan diri.
Stres dapat memengaruhi diri Anda, di mana Anda seolah-olah tidak memiliki tekanan yang cukup pada mekanisme pengendalian perilaku impulsif Anda. Ini dikenal sebagai pengendalian upaya, atau tindakan pengaturan diri sendiri yang dapat mengurangi pengendalian diri.
Setiap kali Anda memanfaatkan sumber daya pengaturan diri untuk melakukan sesuatu yang sulit atau tidak ingin Anda lakukan, hal ini justru dapat membuat tindakan disiplin berikutnya menjadi lebih sulit. Saat Anda melakukan dua tugas berturut-turut yang memerlukan upaya mental, tugas kedua sering kali mengalami gangguan.
Anda mungkin telah melihat hal tersebut dalam tindakan, yakni saat Anda memulai hari kerja dengan mengerjakan tugas, lalu menjelang soe hari, kemampuan untuk mengerjakannya semakin menuntut mental menjadi jauh lebih sulit. Anda telah menghabiskan persediaan tekad untuk hari itu juga.
Sumber daya regulasi mental berkurang sepanjang hari yang penuh tantangan, terutama dalam bentuk glukosa darah. Namun, Anda dapat memasok kembali bahan bakar ini dengan nutrisi dan bahan bakar strategis seperti batangan energi, jus, dan makanan lainnya yang dapat meningkatkan persistensi glukosa.
Mengatasi Stres yang Berujung Pada Perilaku Impulsif

Pengaturan diri mungkin seperti otot yang dapat Anda bangun melalui latihan. Semakin Anda bisa membiasakan otak eksekutif kita untuk menolak kepuasan instan, penundaan, atau dorongan hati, dan bersikap gigih, semakin kuat pertumbuhan otot tersebut. Latihan pengendalian diri yang sering diikuti dengan kesempatan untuk istirahat penuh dan pengisian kembali energi dapat secara bertahap meningkatkan kekuatan total individu untuk pengendalian diri.
Meningkatkan pengendalian diri untuk mengatasi stres yang berujung pada perilaku impulsif dapat dilakukan dengan aktivitas yang membangun disiplin. Seperti dengan memainkan alat musik, aikido, belajar bahasa, atau menari, yang dapat membantu menciptakan kebiasaan untuk terus mengerjakan tugas yang sulit dan menghilangkan godaan untuk mengalihkan perhatian, berhenti, atau menunda-nunda. Merasakan kepuasan dalam menyelesaikan tugas dan memperoleh keterampilan baru atau mengatasi kesulitan memenuhi kebutuhan inti kita akan kompetensi, kebutuhan penguasaan.
Ketika Anda dapat melihat tugas yang Anda lakukan melalui lensa tujuan intrinsik atau internal, Anda juga cenderung akan mematuhinya, menurut penelitian. Dengan kata lain, tujuan intrinsik adalah tuas lain dari pengendalian diri yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan pengaturan diri pada perilaku impulsif akibat stres.
Ketika tujuan Anda dalam suatu tugas bersifat internal, yakni seperti keunggulan, kebanggaan atas pekerjaan, keahlian, tantangan, pelayanan, dengan kata lain, tanpa syarat dan tidak bergantung pada persetujuan dari luar atau metrik eksternal, seperti uang, kesuksesan, kinerja, status, ini akan lebih mudah untuk mengatur tujuan Anda juga kontrol perilaku impulsif sehingga dapat tetap mengerjakan tugas lebih lama. Anda pun dihargai dengan minat yang melekat dalam melakukan tugas, yang membuat Anda tidak terlalu mudah mengalihkan perhatian.
Jadi, membangun sumber daya pengaturan mandiri adalah hal yang sulit. Anda mendapatkan lebih banyak perhatian dan fokus untuk menyelesaikan tugas lebih cepat, dan Anda mengelola stres dalam prosesnya. Di mana ada kemauan, didukung oleh kendali perilaku impulsif dan tujuan yang tepat, di situ ada jalan.
Baca juga: Apa Bedanya Kritikan Membangun Vs. Kata-Kata Pedas?
Sumber:
https://www.worktolive.info/blog/how-stress-undermines-impulse-control
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



