Deeptalk.co.id – Isolasi sosial adalah kondisi dimana individu memiliki sedikit sekali interaksi sosial, dan minim kedekatan dengan orang lain. Meski demikian, isolasi sosial yang kita bahas dalam artikel ini bukan tentang isolasi sosial pilihan, atau orang-orang yang dengan sukarela memutuskan untuk membatasi interaksi sosialnya.
Lantas, bagaimana individu bisa mengalami isolasi sosial dan bagaimana dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan psikologis dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pemicu Isolasi Sosial

Kondisi isolasi sosial bisa dipicu oleh faktor internal, faktor eksternal, atau bahkan kombinasi dari keduanya. Secara garis besar, pemicu isolasi sosial bisa dikelompokan dalam beberapa kategori utama, yaitu:
Faktor psikologis
Beberapa kondisi psikologis memang bisa memicu isolasi sosial. Misalnya pada penderita depresi, skizofrenia, kecemasan sosial, trauma psikologis, atau gangguan kepribadian. Dimana kondisi-kondisi tersebut membuat individu menarik diri dari lingkungan sosial. Bisa karena merasa tidak pantas, atau takut akan penolakan.
Faktor sosial dan lingkungan
Individu dengan penyakit tertentu, seperti pada penderita HIV/AIDS, gangguan jiwa, atau disabilitas, cenderung dikucilkan oleh lingkungan sosial karena perbedaan atau pandangan negatif terhadap kondisi tersebut. Kehilangan orang yang dicintai juga secara tidak langsung membuat individu menarik diri dari lingkungan sosial. Hal serupa terjadi saat perpindahan tempat tinggal.
Faktor ekonomi
Kemiskinan atau pengangguran membuat beberapa individu merasa minder dengan lingkungan sosialnya. Tidak jarang kondisi tersebut memicu upaya menarik diri. Selain itu, keterbatasan finansial juga bisa menghambat akses individu ke tempat atau kegiatan sosial.
Faktor fisik dan kesehatan
Penderita penyakit kronis dan disabilitas seringkali menghambat individu dalam menjalin atau mempertahankan hubungan sosial. Lansia juga beresiko mengalami isolasi sosial karena keterbatasan fisik mereka.
Faktor teknologi dan gaya hidup modern
Perkembangan teknologi memang banyak membantu kehidupan manusia. Namun seiring berjalannya waktu, teknologi justru banyak menghambat aktivitas sosial. Misalnya pada individu yang lebih banyak berinteraksi di dunia maya sehingga minim interaksi secara langsung. Gaya hidup modern juga seakan mengarah pada gaya hidup individualisme dengan minim aktivitas sosial.
Faktor situasional
Beberapa situasi atau kondisi tertentu juga bisa memicu isolasi sosial. Misalnya pada situasi Covid-19 yang pernah kita lalui. Dimana pada situasi tersebut manusia seakan dipaksa untuk menarik diri dari segala bentuk interaksi sosial.
Dampak Psikologis Jangka Panjang Akibat Isolasi Sosial

Isolasi sosial memang bukan salah satu jenis gangguan mental. Meski demikian, isolasi sosial jangka panjang bisa memicu berbagai dampak terhadap kesehatan mental, misalnya:
Depresi
Depresi memang bisa menjadi salah satu pemicu isolasi sosial. Namun di sisi lain depresi juga bisa menjadi dampak dari isolasi sosial. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi sosial untuk kelangsungan hidupnya. Isolasi sosial membuat individu merasa kesepian, tidak dicintai, dan putus asa. Dimana semua itu bisa berujung pada kondisi depresi.
Kecemasan sosial dan generalized anxiety disorder (GAD)
Saat individu berlarut-larut dalam isolasi sosial, mereka akan mengalami penurunan keterampilan sosialnya. Tidak jarang mereka akan menjadi sangat canggung saat berhadapan dengan lingkungan sosial. Kondisi semacam itu bisa memicu kecemasan sosial dan generalized anxiety disorder.
Gangguan kognitif
Uniknya, minimnya interaksi sosial juga bisa memicu gangguan kognitif. Pasalnya, isolasi sosial memang bisa membantu menstimulasi kognitif seseorang. Saat lama tidak mendapatkan stimulasi tersebut, individu bisa mengalami gangguan kognitif. Kondisi ini biasanya dialami oleh lansia. Dimana lansia dengan isolasi sosial beresiko lebih besar mengalami demensia, alzheimer, penurunan daya ingat, dan kebingungan.
Perasaan tidak berharga dan harga diri rendah
Interaksi sosial sering kali membuat individu merasa lebih percaya diri dan dihargai. Terutama saat individu mendapatkan feedback positif dari lingkungannya. Dengan isolasi sosial, individu bisa merasa tidak berharga dan penurunan harga diri. Dimana hal tersebut berdampak lagi pada kepercayaan diri dan motivasi yang menurun.
Stress kronis
Isolasi sosial juga berarti individu akan minim mendapatkan dukungan emosional. Dimana saat dukungan emosional minim diiringi dengan tekanan yang berat, maka stress kronis sangat mungkin dialami. Stress kronis ini bisa melemahkan sistem imun dan meningkatkan resiko psikosomatis.
Meningkatkan resiko penyalahgunaan zat
Penyalahgunaan zat biasanya akan menjadi pelarian bagi individu-individu yang mengalami kesepian jangka panjang. Misalnya dengan mengkonsumsi alkohol berlebihan, narkoba, atau zat adiktif lainnya.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai faktor pemicu dan dampak psikologis jangka panjang dari kondisi isolasi sosial. Sebelum mengalami beberapa dampak diatas, jangan ragu untuk mengikuti intervensi psikologis. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Dari Pilihan hingga Keterpaksaan: Memahami Isolasi Sosial Sukarela dan Tidak Sukarela
Sumber:
Cacioppo, J. T., & Hawkley, L. C. (2009). Perceived social isolation and cognition. Trends in Cognitive Sciences, 13(10), 447–454.
Holt-Lunstad, J., Smith, T. B., Baker, M., Harris, T., & Stephenson, D. (2015). Loneliness and social isolation as risk factors for mortality: A meta-analytic review. Perspectives on Psychological Science, 10(2), 227–237.
Hawkley, L. C., & Cacioppo, J. T. (2010). Loneliness matters: A theoretical and empirical review of consequences and mechanisms. Annals of Behavioral Medicine, 40(2), 218–227.
Uchino, B. N. (2006). Social support and health: A review of physiological processes potentially underlying links to disease outcomes. Journal of Behavioral Medicine, 29(4), 377–387.
Valtorta, N. K., Kanaan, M., Gilbody, S., Ronzi, S., & Hanratty, B. (2016). Loneliness and social isolation as risk factors for coronary heart disease and stroke: Systematic review and meta-analysis of longitudinal observational studies. Heart, 102(13), 1009–1016.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



