Deeptalk.co.id – Regulasi emosi mengacu pada kemampuan individu untuk secara efektif mengelola dan menanggapi pengalaman emosionalnya. Hal ini termasuk kontrol dan pengendalian reaksi terhadap emosi atau perasaan yang mereka alami. Kehidupan manusia saat ini yang sudah membawa media sosial dalam aktivitas sehari-hari tidak memungkiri juga dapat memberikan pengaruh terhadap regulasi emosi pada setiap individu.
Ada beragam tingkatan regulasi emosional, dan yang paling umum digunakan sering disebut dengan “regulasi ke bawah”. Bentuk regulasi ini akan membawa Anda secara aktif untuk mencoba meredam emosi yang dirasakan. Seperti dengan bernapas dalam-dalam untuk mengurangi kecemasan, mengepalkan tangan, atau berjalan-jalan saat merasa kesal.
Kebalikan dari bentuk regulasi tersebut ialah up-regulation atau “regulasi ke atas”. Anda akan secara aktif mencoba masuk ke zona untuk aktivitas yang mungkin memberikan manfaat dari memasukkan kegembiraan ke dalamnya. Atau saat mencoba melepaskan apa pun yang ada di pikiran Anda untuk merayakan pencapaian orang lain, juga dengan memberi mereka waktu emosional dan perhatian yang layak mereka dapatkan.
Identitas dan keterhubungan sosial merupakan dua konsep yang termasuk ke dalam regulasi emosional. Bahkan dengan adanya platform online seperti media sosial, seseorang bisa mengekspresikan dirinya sendiri sebagai bentuk kemampuan mengenal diri sendiri sambil tetap terhubung secara sosial. Tentu ini memudahkan dalam memenuhi kebutuhan mendasar manusia sebagai makhluk sosial.
Kurangnya mengetahui identitas diri serta kurangnya koneksi dengan orang lain juga cenderung bergema secara emosional dalam individu. Bagaimanapun Anda melihatnya, ini adalah substansi emosional yang kuat yang sedang kita hadapi, dan penelitian telah mulai mengeksplorasi sisi emosional dari penggunaan media sosial, termasuk pengaruhnya bagi regulasi emosi.
Media Sosial dan Kesehatan Mental

Media sosial kini menjadi cara utama untuk menghubungkan populasi secara umum yang bisa menjangkau di seluruh dunia. Bahkan, saat masa pandemi Covid-19, media sosial menjadi salah satu hal yang paling banyak digunakan manusia untuk menghabiskan waktunya selama lockdown di rumah. Namun, hal tersebut memberikan dampak dimana tingkat paparan media sosial yang lebih tinggi berhubungan positif dengan kemungkinan kecemasan dan depresi.
Sebelum masa pandemi pun sudah banyak penelitian yang meneliti kaitan antara media sosial dengan kesehatan mental seseorang. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa gejala depresi yang lebih besar dikaitkan dengan lebih banyak didukung dari hubungan interaksi di media sosial. Juga semakin banyak bukti menunjukkan bahwa hubungan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental didasarkan pada aktivitas tertentu daripada frekuensi aktivitas.
Adanya banyak bukti tersebut semakin meyakinkan bahwa media sosial bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental. Ini juga termasuk pada kemungkinan terjadinya disregulasi emosional pada seseorang akibat paparan media sosial yang diterima.
Baca juga: Karakteristik dan Sifat Orang yang Memiliki Tingkat Resiliensi Tinggi
Pengaruh Media Sosial Pada Regulasi Emosi

Beberapa penelitian yang ditinjau menemukan hubungan yang kuat antara disregulasi emosional dan penggunaan internet yang berlebihan di antara remaja dan usia dewasa awal. Disregulasi emosi dapat menyebabkan gejala penggunaan internet yang berlebihan hingga menimbulkan masalah, dan ini lebih besar dampaknya dibandingkan dengan emosi negatif.
Remaja dengan masalah penggunaan internet ini, termasuk jika kecanduan media sosial melaporkan lebih banyak kesulitan dalam mengidentifikasi dan mendeskripsikan emosi, memahami reaksi emosional. Mereka juga sulit dalam mengendalikan perilaku impulsif mereka ketika menanggapi pengalaman emosional negatif. Serta kemampuan yang lebih rendah untuk menggunakan strategi regulasi emosi yang efektif daripada teman sebaya tanpa internet (kecanduan media sosial).
Lebih khusus lagi, tiga dimensi spesifik dari Skala Kesulitan dalam regulasi emosi terkait dengan kesulitan dalam mengakses strategi regulasi emosi, kesulitan dalam mengadopsi perilaku berorientasi tujuan saat mengalami emosi negatif, dan kurangnya kejernihan emosi. Hal tersebut telah diidentifikasi sebagai prediktor signifikan dari penggunaan internet bermasalah termasuk kecanduan media sosial pada remaja dan dewasa muda.
Ada juga penelitian lain mengenai disregulasi emosi yang ditemukan terkait dengan penggunaan situs jejaring sosial (SNS) dewasa muda yang bermasalah. Studi ini menunjukkan, pengguna SNS yang bermasalah menunjukkan masalah pengaturan emosi yang lebih tinggi, termasuk penghindaran pengalaman yang lebih banyak, kurangnya penerimaan respons emosional, akses terbatas ke strategi pengaturan emosi, kontrol impuls yang buruk, dan kesulitan dalam perilaku yang diarahkan pada tujuan daripada pengguna yang tidak bermasalah. Ini menunjukkan bahwa penggunaan SNS yang bermasalah dapat dipertahankan melalui penguatan negatif.
Baca juga: Efek Psikologis Dari Budaya Mudik Di Hari Raya Idul Fitri
Sumber:
Yang, Y., Liu, K., Li, S., & Shu, M. (2020). Social Media Activities, Emotion Regulation Strategies, and Their Interactions on People’s Mental Health in COVID-19 Pandemic. International journal of environmental research and public health, 17 (23), 8931. https://doi.org/10.3390/ijerph17238931
Gioia, F., Rega, V., & Boursier, V. (2021). Problematic Internet Use and Emotional Dysregulation Among Young People: A Literature Review. Clinical neuropsychiatry, 18 (1), 41–54. https://doi.org/10.36131/cnfioritieditore20210104
Headspace. (2023). How to deal with the negative effects of social media. https://www.headspace.com/mindfulness/negative-effects-of-social-media
Court, P. (2022). Emotional regulation. Elsevier eBooks, 35–40. https://doi.org/10.1016/b978-0-323-91898-5.00004-7
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



