Deeptalk.co.id – Epilepsi merupakan gangguan neurologis atau sistem syaraf pusat yang dialami jutaan manusia di seluruh dunia. Walaupun sudah ada pengobatan dan penyembuhannya, epilepsi masih memberikan dampak yang signifikan bagi penderitanya dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Salah satu yang dihadapi penderita epilepsi ialah ketakutan mengalami kejang di depan umum sehingga membuatnya takut dengan tempat publik.
Hingga sebuah studi baru-baru ini telah melakukan penelitian mengenai fenomena tersebut, serta menyoroti tantangan yang dihadapi oleh penderita individu ketika harus berada di tempat publik. Artikel kali ini kami akan menjelaskan lebih lanjut mengenai temuan dari penelitian tersebut.
Tentang Epilepsi

Epilepsi ialah gangguan yang mengenai gangguan sistem saraf pusat atau neurologis di mana aktivitas otak menjadi tidak normal. Sehingga epilepsi menyebabkan kejang atau periode perilaku yang tidak biasa, sensasi, dan kadang-kadang kehilangan kesadaran
Gejala kejang yang ditimbulkan pun juga sangat bervariasi. Beberapa penderita epilepsi hanya menatap kosong selama beberapa detik selama kejang, sementara yang lain berulang kali menggerakkan tangan atau kakinya. Namun, setidaknya seseorang mengalami dua kali kejang tanpa alasan dan tidak diketahui pemicunya yang terjadi 24 jam sehingga bisa dijadikan diagnosis epilepsi lebih lanjut.
Untuk penyembuhan dan penanganannya, penderita epilepsi akan diberikan obat-obatan atau terkadang pembedahan untuk mengendalikan kejang. Bahkan beberapa orang memerlukan pengobatan seumur hidup, dan beberapa yang lainnya kejang akhirnya hilang. Lalu pada beberapa anak dengan epilepsi, mereka dapat mengatasi kondisi ini seiring bertambahnya usia.
Karena epilepsi disebabkan oleh aktivitas abnormal di otak, kejang dapat memengaruhi proses apa pun yang dikoordinasikan oleh otak. Tanda dan gejala kejang dapat meliputi kebingungan sementara, mantra menatap, otot kaku, gerakan menyentak yang tak terkendali pada lengan dan kaki, hingga kehilangan kesadaran. Sedangkan gejala psikologis seperti ketakutan, kecemasan atau deja vu.
Untuk gejalanya akan bervariasi tergantung pada jenis kejang. Dalam kebanyakan kasus, penderita epilepsi akan cenderung mengalami jenis kejang yang sama setiap kali, sehingga gejalanya akan serupa dari episode ke episode. Dokter umumnya mengklasifikasikan kejang sebagai fokal atau umum, berdasarkan bagaimana dan di mana aktivitas otak abnormal dimulai.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Resiliensi Dalam Ilmu Psikologi
Penelitian Epilepsi yang Cenderung Takut Dengan Tempat Publik

Gangguan epilepsi bisa dialami oleh siapapun, baik laki-laki maupun perempuan dengan rentang usia berapapun dan dari latar belakang suku etnis manapun. Gangguan ini juga dialami oleh banyak orang, yakni menjadi gangguan neurologis keempat yang paling umum menurut Epilepsy Foundation. Setidaknya ada sekitar 5,1 juta orang di Amerika Serikat memiliki riwayat epilepsi yang menyebabkan kejang berulang.
Sebuah penelitian telah mengemukakan adanya peningkatan kecemasan dan depresi pada penderita epilepsi. Juga agorafobia, yakni gangguan kecemasan yang melibatkan rasa takut berada di tempat umum atau dalam situasi yang dapat menyebabkan kepanikan dan rasa malu.
Lalu, studi ini kemudian didukung oleh penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh Heidi Munger Clary, MD, MPH, profesor neurologi di Fakultas Kedokteran Universitas Wake Forest. Dimana mereka menunjukkan bahwa gejala fobia dan agorafobia adalah umum dan terkait dengan kualitas hidup yang buruk pada penderita epilepsi.
Dalam studi tersebut, para peneliti melakukan analisis cross-sectional dari data klinis dasar dari studi kohort registri neuropsikologi. Para peneliti menganalisis sampel yang beragam dari 420 orang dewasa, usia 18 hingga 75 tahun, dengan epilepsi dan sedang menjalani evaluasi neuropsikologis selama 14 tahun di Columbia University Medical Center di New York.
Hasilnya menunjukkan lebih dari sepertiga peserta melaporkan gejala fobia atau agrofobia yang signifikan. Tak hanya itu, gejala tersebut muncul bersamaan dengan depresi terkait secara independen dengan kualitas hidup yang buruk, namun tidak dengan gejala umum kecemasan.
Inilah yang mendasari kualitas hidup yang buruk pada penderita epilepsi. Terkait dengan keterlambatan dalam perawatan pasien karena keengganan untuk keluar di depan umum (termasuk membuat janji dengan dokter) akibat agorafobia yang mereka alami. Hal inilah yang menjadi area yang membutuhkan lebih banyak perhatian dalam praktis klinis.
Namun karena gejala fobia/agorafobia tidak dinilai secara rutin oleh dokter, temuan ini mungkin menunjukkan perlunya penelitian di masa depan untuk mengembangkan skrining yang lebih komprehensif untuk komorbiditas psikiatri pada epilepsi.
Baca juga: Mood Swing pada Anak: Bagaimana Orangtua Dapat Membantu Anak Mengelola Emosi
Sumber:
Neuroscience News. (2023, January 29). Fear of Public Places Is Common in Adults With Epilepsy. https://neurosciencenews.com/agoraphobia-epilepsy-22398/
Heidi M. Munger Clary, Luciana Giambarberi, Whitney N. Floyd, Marla J. Hamberger, Afraid to go out: Poor quality of life with phobic anxiety in a large cross-sectional adult epilepsy center sample, Epilepsy Research, Volume 190, 2023, 107092, ISSN 0920-1211, https://doi.org/10.1016/j.eplepsyres.2023.107092.
Epilepsy – Symptoms and causes – Mayo Clinic. (2021, October 7). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/epilepsy/symptoms-causes/syc-20350093
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



