Semua artikel
Penelitian

Penelitian : Kesepian Bisa Membunuh Anda

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Rasa kesepian bisa dialami oleh siapapun, namun yang membedakannya adalah secara umum mereka mengalami yang namanya kesepian sementara. Ini adalah kesepian yang mungkin Anda rasakan ketika mengalami suatu perubahan dalam hidup Anda yang tidak dapat Anda hindari. Pun sesuai dengan namanya, kesepian sementara ini akan berlalu dengan cepat karena hal ini bisa meningkatkan selera sosial kita.

Meskipun demikian, kesepian tentu bisa menjadi berbahaya dan terasa menyakitkan. Bahkan ada suatu penelitian yang mengungkapkan bahwa kesepian menjadi pembunuh yang menyakitkan, lebih berbahaya daripada merokok. Ketika hal itu terjadi, kesepian menumbuhkan duri dan ini menjadi kronis.

Bagaimana Kesepian Membunuh?

Kesepian berkaitan dengan kebutuhan mendasar Anda sebagai manusia sosial, yakni terlibat dalam interaksi sosial. Rasa kesepian ini hampir sama dengan rasa lapar yang berkaitan juga dengan kebutuhan dasar untuk fisik manusia. Kedua perasaan ini berada pada tingkat biologis yang sama karena tidak memiliki makanan sama berisikonya dengan tidak memiliki siapapun. Dengan demikian, kesepian adalah mekanisme bertahan hidup yang mendasar.

Ketika seseorang yang kesepian melihat orang lain bersenang-senang, mereka memiliki respons otak yang sama seperti ketika seseorang yang lapar melihat sebuah makanan. Dalam kedua kasus tersebut, ada rasa gatal, “Saya butuh itu. Saya berharap saya bisa mendapatkannya.” Dengan kata lain, kesepian adalah kelaparan sosial.

Merasa kesepian selama beberapa hari tidak akan merugikan Anda, sama seperti melewatkan makan siang tidak akan membuat Anda kemudian mati. Tentu saja, Anda mungkin merasakan perut yang keroncongan karena kesepian – rasa sakit sosial, penolakan, atau kesedihan. Namun pada akhirnya, Anda tidak mungkin pergi dengan kerusakan yang permanen.

Akan tetapi, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Dikarenakan manusia adalah bagian dari spesies hiper-sosial, rasa kesepian yang Anda alami hanya akan berhenti setelah pikiran Anda yakin bahwa Anda dipelihara secara sosial, atau bahwa Anda terhubung dengan manusia lain. Dan itu jauh lebih sulit daripada memuaskan rasa lapar secara fisik.

Seiring berjalannya waktu, rasa kesepian dalam dosis kecil dan konsisten pun dapat memengaruhi kesehatan Anda secara berbahaya. Seperti halnya kehilangan vitamin esensial dalam makanan. Dan ketika kesepian mencapai titik kritis, baik melalui ledakan yang intens atau penumpukan bertahap, otak primitif Anda mulai berpikir bahwa suku Anda telah meninggalkan Anda.

Keadaan kesepian jangka panjang ini, tekanan dari pengasingan, bisa sangat menegangkan sehingga secara bertahap mengikis tubuh. Hal ini mirip dengan memecah otot ketika tidak ada makanan. Dimana ini memastikan kelangsungan hidup dengan segera, tetapi dalam jangka panjang, ini menyiratkan kematian.

Baca juga: Tips Dan Trik Mengatasi FOPO Di Tempat Kerja

Inilah Caranya Rasa Kesepian Bisa “Membunuh”

Secara eksplisit tentu ini bukan berarti bahwa rasa sakit emosional dari kesepian membunuh Anda. Namun, stres akibat kesepian itulah yang merusak tubuh dan pikiran. Pun ketika tubuh Anda terus dipacu pada batas maksimalnya, kewaspadaan yang berlebihan akan mendorong Anda ke titik ekstrem yang tidak sehat.

Kesepian bukanlah satu serangan yang mematikan. Ini adalah pembusukan yang terjadi secara perlahan di semua tingkatan. Dalam penelitiannya, Cacioppo dan Patrick menjelaskan lima bahaya paling mengancam yang menyertai kesepian yang berlangsung lama:

Perilaku yang tidak sehat

Rasa kesepian yang Anda alami bisa saja merusak disiplin Anda, bukan hanya karena Anda kekurangan dukungan sosial, tetapi juga karena Anda menginginkan perbaikan yang cepat untuk merasa lebih baik. Ketika Anda merasa kesepian secara kronis, Anda bisa makan hingga 10% lebih banyak lemak, kurang berolahraga, dan melakukan kebiasaan berbahaya lainnya seperti minum alkohol, merokok, atau bahkan obat-obatan.

Lebih banyak stres 

Seiring berjalannya waktu, mekanisme perlindungan diri dari kesepian dapat memperparah hubungan Anda. Ini dikarenakan Anda kurang mempercayai orang lain, yang kemudian menimbulkan banyak perselisihan dengan pasangan, keluarga atau teman. Anda juga merasa pekerjaan Anda menjadi kurang memuaskan yang menyebabkan banyak kecemasan. Pun rata-rata, kesepian yang kronis menciptakan 25% lebih banyak faktor stres.

Penanganan pasif

Bukan hanya stres yang meningkat secara objektif. Anda juga merasakan stres dengan lebih intens. Lebih buruk lagi, Anda menjadi beralih ke strategi penanggulangan pasif dan semakin kecil kemungkinannya untuk mencari bantuan emosional, praktis, atau profesional.

Kewaspadaan yang konstan 

Kesepian meningkatkan adrenalin dan kortisol atau hormon stres untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi fight-or-flight. Namun saat ini, stres tidak dapat diatasi karena konfrontasi yang sebenarnya jarang terjadi. Otak mungkin menganggap atasan Anda berbahaya, namun Anda mungkin merasionalisasi jalan keluarnya. Anda pun mengatasinya secara pasif. Sehingga, tubuh Anda tidak pernah mendapatkan isyarat yang tepat untuk mematikan mode melawan atau lari. Ini membuat tubuh Anda menjadi selalu waspada.

Kegelisahan

Semakin Anda merasa kesepian, semakin buruk kualitas tidur Anda. Secara evolusioner, ini adalah upaya untuk menangkis bahaya di malam hari. Tubuh diprogram untuk tetap waspada, bisa dikatakan demikian. Dan meskipun tidur Anda tidak selalu lebih pendek, Anda jadi membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dan bangun dengan kondisi yang kurang segar.

Hasil dari stresor ini sangat banyak. Salah satu hubungan yang umum dengan kesepian adalah depresi, yang menambahkan bunuh diri ke dalam daftar faktor risiko. Satu lagi adalah demensia. Pada akhirnya, ini seperti rolet Rusia: Anda tidak pernah tahu apa yang akan Anda dapatkan, tetapi semakin lama Anda bermain, semakin tinggi peluang Anda untuk kalah.

Baca juga: FOPO Di Tempat Kerja: Fear Of Others People Opinios

 

Sumber:

Cacioppo, J. T., & Patrick, W. (2008). Loneliness: Human nature and the need for social connection. W W Norton & Co.

Joppich, S. (2023, May 26). Can Loneliness Kill You? (A Nuanced Look at the Science). Can Loneliness Kill You? (a Nuanced Look at the Science). https://stephanjoppich.com/can-loneliness-kill-you/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Topik:#Kesepian

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait