Deeptalk.co.id – Anda mungkin pernah mendengar atau bahkan sampai mengalami bahwa tawa itu bisa menular. Atau melihat seseorang yang menangis, Anda jadi ingin ikut menangis juga. Agak unik memang ketika bagaimana Anda bisa mengambil emosi oranv lain, seolah-olah mereka memang bisa benar-benar menular.
Pada artikel kali ini, kami akan mengungkap fakta menarik mengenai emosi yang memang benar bisa menular. Dalam dunia ilmiah, fenomena ini disebut dengan penularan emosi, dan berbagi emosi ini dapat terjadi lebih mudah dari yang Anda kira. Mari kita simak apa itu penularan emosi dari data penelitian beserta alasan bagaimana itu bisa terjadi.
Hasil Penelitian Emosi yang Bisa Menular

Penularan emosi terjadi ketika emosi atau perilaku seseorang ditiru oleh orang lain, dan seringkali emosi atau perilaku ini terjadi secara tidak sadar. Termasuk emosi positif seperti antusiasme dan kegembiraan, serta emosi negatif seperti kesedihan, ketakutan dan kemarahan, dengan mudah berpindah dari satu orang ke orang lain yang terjadi tanpa disadari kedua belah pihak.
John T. Cacioppo dari Pusat Ilmu Saraf Kognitif dan Sosial di Universitas Chicago menjelaskan bahwa semakin ekspresif seseorang, semakin besar kemungkinan Anda memperhatikan ekspresi tersebut dan menirunya. Serat otot di wajah dan tubuh Anda dapat diaktifkan tanpa sepengetahuan Anda, dan pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada jika Anda melakukan gerakan itu sendiri. Gerakan otot-otot itulah yang memicu perasaan yang sebenarnya dalam otak.
Sedangkan Christakis dan Fowler mengatakan bahwa kebahagiaan seseorang berhubungan dengan kebahagiaan teman-teman mereka, juga teman-teman dari teman mereka atau orang-orang yang berada di luar cakrawala sosial mereka. Selain itu mereka juga menemukan bahwa orang yang bahagia cenderung berada di tengah-tengah jaringan sosial mereka dalam kelompok besar orang-orang yang bahagia, di mana setiap tambahan satu orang teman yang bahagia akan meningkatkan kemungkinan seseorang untuk bahagia sekitar 9 persen. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa emosi lebih mudah untuk menular dengan adanya jejaring sosial.
Untuk emosi negatif sendiri, Anda juga bisa mengalami dampaknya. Dimana efeknya ini bisa merusak karena menyebabkan kesedihan, depresi, kelelahan, penurunan energi, dan stres. Terlalu sering mendengarkan orang yang mengeluh akan keseharian atau tekanan yang mereka alami, akan semakin mudah Anda serap juga energi yang mereka sebarkan. Mungkin Anda bisa mengira dengan menghindarinya dapat menghilangkan efek negatifnya, padahal kenyataannya tidak semudah itu.
Pernah mendengar bahwa kesengsaraan membutuhkan teman. Anda mungkin pernah mengalami kebenaran di balik pepatah ini secara langsung dengan mencari musik sedih saat merasa sedih atau melampiaskan kepada orang yang Anda cintai saat marah atau kesal.
Hal ini juga bisa terjadi sebaliknya. Mendengar lagu sedih ketika Anda sedang mengalami hari yang menyenangkan dapat dengan cepat mengubah suasana hati Anda. Jika Anda adalah orang yang mendengarkan, Anda mungkin merasa sedih atau tertekan setelah mendengar tentang masalah teman Anda.
Penularan emosi ini sebenarnya bisa Anda latih sebagai sebuah keterampilan. Ini bisa dilakukan dengan menyadari emosi yang Anda pancarkan kepada orang lain yang mungkin akan mereka tangkap. Demikian juga, cobalah untuk menyadari ketika Anda menangkap emosi negatif atau positif dari orang lain dan buatlah perubahan jika diperlukan.
Baca juga: Mudah Dilakukan, Berikut Manfaat Senyuman Bagi Kesehatan Mental
Bagaimana Emosi Bisa Menular?

Emosi yang menular terjadi ketika Anda meniru yang biasanya tanpa usaha sadar Anda bisa menyerap emosi dan ekspresi orang-orang disekitar Anda. Fenomena ini bisa dijelaskan oleh para ahli, dimana ada andil dari ilmu saraf yang sedang berkembang yang mungkin bisa menggambarkannya dengan istilah sistem neuron cermin.
Konsep neuron cermin ini berasal dari para peneliti yang mempelajari otak monyet kera dan menemukan bahwa neuron tertentu mulai menyala ketika monyet melakukan sesuatu dan ketika mereka melihat monyet lain melakukan hal yang sama. Tampaknya proses yang sama mungkin terjadi pada manusia. Dan beberapa ahli percaya bahwa sistem neuron cermin lebih dari sekadar tindakan fisik dan dapat menjelaskan bagaimana kita mengalami empati terhadap orang lain.
Para ahli yang mempelajari penularan emosi percaya bahwa proses ini umumnya terjadi dalam tiga tahap, yakni :
1. Peniruan (mimikri)
Untuk meniru emosi seseorang, Anda harus terlebih dahulu mengenali emosi tersebut. Isyarat emosional sering kali tidak kentara, sehingga Anda mungkin tidak selalu sadar akan kesadaran ini.
Umumnya, mimikri terjadi melalui bahasa tubuh. Ketika berbicara dengan teman, misalnya, Anda mungkin mulai secara tidak sadar meniru pose, gerak tubuh, atau ekspresi wajah mereka.
Jika Anda memulai percakapan dengan rasa cemas atau tertekan, tetapi jika wajah teman Anda tampak santai dan terbuka, ekspresi Anda mungkin juga ikut rileks.
Mimikri dapat membantu Anda berhubungan dengan orang lain dengan memahami pengalaman mereka, jadi ini adalah aspek kunci dari interaksi sosial. Tetapi itu hanyalah salah satu bagian dari proses penularan emosi.
2. Umpan balik
Dengan menirukan suatu emosi, Anda mulai mengalaminya. Dalam contoh di atas, ekspresi wajah Anda yang rileks dapat membantu Anda merasa lebih tenang.
Maury Joseph, seorang psikolog di Washington D.C., menyarankan hal ini juga dapat terjadi pada pengalaman emosional dan suasana hati yang lebih mendalam, seperti depresi.
Seseorang yang mengalami depresi, misalnya, mungkin mengekspresikan perasaannya melalui bahasa tubuh, pola bicara, atau ekspresi wajah, dan juga kata-kata. “Hal ini dapat memicu reaksi emosional yang sama pada orang yang memiliki kerentanan lebih terhadap isyarat-isyarat ini,” jelasnya.
3. Penularan
Menirukan sebuah emosi biasanya membangkitkan emosi tersebut dalam diri Anda, dan kemudian menjadi bagian dari pengalaman Anda sendiri. Anda mulai mengekspresikannya atau menceritakannya kepada orang lain dengan cara yang sama, dan proses penularan pun selesai.
Baca juga: Panic Attack : Pengertian, Gejala dan Penyebabnya
Sumber:
Emotions are contagious: Learn what science and research has to say about it. (2017, August 16). MSU Extension. https://www.canr.msu.edu/news/emotions_are_contagious_learn_what_science_and_research_has_to_say_about_it
Raypole, C. (2019, December 12). Emotional Contagion: Why Emotions Are Contagious. Healthline. https://www.healthline.com/health/emotional-contagion
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



