Semua artikel
Pikiran

Pahami Rasa Khawatir Pada Gen Z

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Setiap orang tentu pernah merasa khawatir akan hal-hal tertentu. Perlu diketahui bahwa rasa khawatir ini merupakan hal yang sangat normal. Namun seringkali rasa khawatir menjadi sangat berlebihan dan terlalu mengganggu pikiran.

Tahukah kamu bahwa rasa khawatir yang berlebihan merupakan bagian dari overthinking. Kondisi tersebut juga bisa mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Termasuk mempengaruhi kondisi mental seseorang.

Gen z atau generasi z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997-2012. Generasi ini memang hidup di era perkembangan teknologi. Banyak sekali barang-barang canggih yang bisa meningkatkan keamanan kita. Namun, rasa khawatir masih menjadi masalah untuk banyak gen z.

Sedemikian hebatnya orang-orang memproteksi dirinya dan orang-orang terdekat. Ada kalanya rasa khawatir timbul terkait apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sayangnya, rasa khawatir yang berlebihan justru tidak baik. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai rasa khawatir. Khususnya yang dialami oleh para gen z.

Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu merasa mengalami masalah kesehatan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pengertian Worrying (Rasa Khawatir)

Young woman propping chin on hand, thinking about something in striped shirt, jeans and looking pensive. front view.

Worrying atau rasa khawatir merupakan kondisi psikologis dimana seseorang memikirkan tentang potensi bahaya, ancaman, atau masalah yang mungkin terjadi di masa depan. Worrying adalah hal yang normal dan bisa dialami oleh siapa saja. Bahkan, worrying juga membantu seseorang untuk lebih waspada. Bisa dibilang worrying merupakan perlindungan awal untuk terhindar dari bahaya yang mungkin saja menyerang. Namun, segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik untuk diri sendiri. Hal yang sama juga berlaku untuk worrying atau rasa khawatir ini.

Ada saja hal-hal yang membuat seorang gen z mengalami worrying. Salah satu contoh nyata adalah rasa khawatir untuk kalah bersaing dengan teknologi yang sudah sangat maju ini. Kekhawatiran semacam itu sering kali menjadi pikiran tersendiri, dan berujung pada terganggunya kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Dampak dan Cara Mengatasi Rumination Pada Gen Z

Penyebab Worrying Pada Gen Z

Young beautiful female standing in thinking pose in jacket and looking puzzled , front view.

Setiap orang yang mengalami rasa khawatir atau worrying memiliki pemicu yang berbeda-beda. Meski demikian, berikut beberapa faktor pemicu yang bisa membuat para gen z mengalami worrying:

Pengalaman hidup

Seorang gen z yang memiliki pengalaman hidup tidak menyenangkan cenderung lebih berhati-hati. Mereka akan lebih khawatir tentang apa yang terjadi di masa depan. Misalnya saja pada mereka yang pernah mengalami kejadian traumatis, kehilangan, atau kesulitan finansial.

Masalah kesehatan mental

Selain pengalaman hidup, masalah kesehatan mental juga menjadi salah satu faktor pemicu gen z mengalami worrying. Masalah kesehatan mental dalam hal ini cukup beragam. Mulai dari mereka yang mengalami kecemasan, stress, depresi, dan masih banyak lagi.

Kepribadian perfeksionis

Seorang gen z dengan kepribadian perfeksionis cenderung lebih banyak mengkhawatirkan masa depan. Mereka selalu mengejar kesempurnaan. Sampai terlalu takut untuk tidak sempurna dikemudian hari.

Penggunaan sosial media

Gen z memang sudah sangat erat kaitannya dengan sosial media. Sayangnya, dalam beberapa kondisi sosial media justru bisa menimbulkan masalah. Masalah satunya mengakibatkan worrying. Misalnya saja saat melihat teman di sosial media berhasil mencapai apa yang mereka mau. Beberapa orang menjadi khawatir jika sewaktu-waktu tidak bisa berada di posisi itu.

Tekanan sosial dan ekspektasi

Kemudahan mengakses informasi sering kali membuat para gen z memiliki ekspektasi yang lebih tinggi. Selain itu, tekanan sosial menjadi lebih banyak karena orang mudah mengakses informasi tentang kita. Hal-hal semacam itu secara tidak sadar bisa memicu worrying.

Tanda-Tanda Worrying Pada Gen Z

Young girl with hand on jowl, looking at right side in striped shirt, jeans and looking focused , front view.

Terkadang kita tidak sadar sedang dalam kondisi tertentu bukan karena kurang peka. Melainkan karena kurangnya pemahaman akan kondisi tersebut. Maka dari itu, untuk terhindar dari worrying yang berlebihan. Kita perlu tahu tanda-tanda worrying berikut:

·         Cenderung memikirkan sebuah masalah secara berlebihan dan berulang-ulang.

·         Mengalami kesulitan dalam mengelola emosi, yang pada akhirnya menjadi mudah marah, tersinggung, sedih, dan lain sebagainya.

·         Terlalu fokus terhadap hal-hal negatif. Terlepas itu tentang apa yang ada pada dirinya, kemungkinan yang terjadi di masa depan, atau hal-hal lain yang ada disekitarnya.

·         Kesulitan menerima ketidakpastian, yang berdampak pada timbulnya ketidaksabaran dalam melakukan sesuatu.

·         Sering merasakan emosi-emosi negatif, seperti marah, sedih, cemas, dan lain sebagainya.

·         Mengalami kesulitan dalam pengambilan keputusan. Hal ini dipicu oleh pikiran mereka yang berlebihan dalam menimbang hal-hal negatif yang bisa saja tidak akan terjadi di masa depan.

·         Terlalu tenggelam dalam pemikiran terkait kesalahan, kegagalan, dan pikiran-pikiran negatif lainnya.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai rasa khawatir yang dialami oleh gen z. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Apa Itu Rumination?

 

Sumber:

American Psychological Association. (2020). Worrying.

Beck, A. T., Rush, J., Shaw, B. F., & Emery, G. (1977). Cognitive Therapy of Depression.

Brewin, C. R., Dalgleish, T., & Joseph, S. (1996). A dual representation theory of post-traumatic stress disorder.

Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Generation Z is Growing Up More Slowly Than Any Generation Before.

National Institute of Mental Health. (2020). Anxiety Disorders.

World Health Organization. (2019). Mental Health.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Pahami Rasa Khawatir Pada Gen Z — DeepTalk