Semua artikel
Emosi

Neurosains dan Regulasi Emosi: Menelusuri Peran Otak dalam Kontrol Diri

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Regulasi emosi adalah kemampuan individu dalam mengatur respon terhadap emosinya untuk mencapai keseimbangan emosional. Seseorang dengan kemampuan regulasi emosi yang baik bisa menghadapi ketegangan dengan tidak larut dalam ketegangan tersebut. Dengan demikian, kemampuan regulasi emosi ini akan membuat individu menjadi lebih tenang secara emosional dan penampilan mereka.

Uniknya, peran otak lumayan mendominasi dalam proses perkembangan kemampuan regulasi emosi individu. Lantas, seberapa besar otak berperan dalam hal tersebut? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami masalah dalam mengontrol emosi. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog, agar mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Struktur Otak yang Terlibat dalam Regulasi Emosi

Otak memiliki struktur yang sangat kompleks. Dimana setiap struktur tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Regulasi emosi sendiri melibatkan beberapa struktur otak berikut:

Prefrontal cortex (PFC)

Struktur otak pertama yang terlibat dalam regulasi emosi adalah prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berfungsi dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan mengendalikan impuls. Dalam konteks regulasi emosi, prefrontal cortex terlibat dalam pengaturan strategi kognitif. Misalnya untuk menilai ulang makna suatu situasi emosional.

Amygdala

Struktur otak kedua yang terlibat dalam regulasi emosi adalah amygdala, yaitu bagian otak yang berfungsi mendeteksi dan memproses informasi emosional, terutama yang berhubungan dengan rasa takut dan ancaman. Dalam konteks regulasi emosi, amygdala berperan dalam meredam reaksi emosional yang berlebihan.

Anterior cingulate cortex (ACC)

Struktur otak ketiga yang terlibat dalam regulasi emosi adalah anterior cingulate cortex, yaitu bagian otak yang berfungsi sebagai penghubung antara aktivitas prefrontal cortex dan sistem limbik. Dalam konteks regulasi emosi, anterior cingulate cortex berperan dalam memediasi konflik antara dorongan emosional dan regulasi kognitif.

Insula

Struktur otak keempat yang terlibat dalam regulasi emosi adalah insula, yaitu bagian otak yang terlibat dalam kesadaran terhadap emosi tubuh (interoception), seperti detak jantung dan sensasi nyeri. Dalam konteks regulasi emosi, insula menjadi sangat penting dalam pembentukan pengalam emosional yang sadar.

Baca juga: Regulasi Emosi dalam Hubungan Interpersonal: Perspektif Psikologi Sosial

Neurotransmiter yang Terlibat dalam Regulasi Emosi

Tidak hanya struktur otak saja, neurotransmiter juga terlibat dalam pembentukan regulasi emosi. Neurotransmitter sendiri adalah senyawa kimia yang penting dalam mengatur komunikasi antar saraf. Berikut beberapa neurotransmiter yang terlibat dalam regulasi emosi:

Serotonin

Neurotransmiter pertama yang terlibat dalam regulasi emosi adalah serotonin, yaitu hormon yang bertugas untuk membawa pesan antar sel dalam otak. Hormon ini juga dikenal sebagai hormon kebahagiaan, karena mampu mendatangkan rasa bahagia pada individu. Dalam konteks regulasi emosi, serotonin berperan dalam menjaga stabilitas emosi.

Dopamin

Neurotransmiter kedua yang terlibat dalam regulasi emosi adalah dopamin, yaitu hormon yang bertugas untuk menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh. Serupa dengan hormon serotonin, produksi hormon dopamin juga bisa meningkatkan kebahagiaan. Dalam konteks regulasi emosi, dopamin berperan dalam meningkatkan motivasi dan penghargaan diri.

Norepinefrin

Neurotransmiter ketiga yang terlibat dalam regulasi emosi adalah norepinefrin, yaitu hormon yang membantu tekanan darah saat stress menjadi lebih stabil dengan menyempitkan pembuluh darah. Produksi hormon norepinefrin pada tubuh juga akan meningkatkan kewaspadaan dan gairah. Dalam konteks regulasi emosi, norepinefrin berperan dalam merespon stress.

GABA

Neurotransmiter keempat yang terlibat dalam regulasi emosi adalah GABA, yaitu hormon yang berfungsi untuk mengurangi kemampuan sel saraf untuk menerima, membuat, atau mengirim informasi ke saraf lainnya dengan tujuan untuk menghasilkan efek menenangkan. Dalam konteks regulasi emosi, GABA menjadi inhibitor utama pada otak untuk membantu menurunkan aktivitas neural yang berlebihan terkait dengan stress dan kecemasan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa otak dan segala aktivitas di dalamnya ternyata memang memiliki peran besar dalam membentuk sikap dan sifat manusia. Struktur otak seperti prefrontal cortex, amygdala, anterior cingulate cortex, dan insula terlibat dalam banyak hal untuk membentuk kemampuan regulasi emosi manusia. Tidak hanya struktur pada otak, namun juga beberapa senyawa kimia pada otak (neurotransmitter) juga memiliki peran penting. Senyawa kimia tersebut mencakup serotonin, dopamin, norepinefrin, dan GABA.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai peran dan hubungan neurosains dengan kemampuan regulasi emosi manusia. Jika kamu memiliki masalah dalam emosi atau regulasi emosi, cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog yang ada disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Mindfulness dan Regulasi Emosi: Hubungan antara Kesadaran Penuh dan Keseimbangan Emosi

 

Sumber:

Ochsner, K. N., & Gross, J. J. (2005). The cognitive control of emotion. Trends in Cognitive Sciences, 9(5), 242–249. https://doi.org/10.1016/j.tics.2005.03.010.

Gross, J. J. (2015). Emotion regulation: Current status and future prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26. https://doi.org/10.1080/1047840X.2014.940781.

Etkin, A., Büchel, C., & Gross, J. J. (2015). The neural bases of emotion regulation. Nature Reviews Neuroscience, 16(11), 693–700. https://doi.org/10.1038/nrn4044.

Pessoa, L. (2017). A network model of the emotional brain. Trends in Cognitive Sciences, 21(5), 357–371. https://doi.org/10.1016/j.tics.2017.03.002.

Davidson, R. J., & McEwen, B. S. (2012). Social influences on neuroplasticity: Stress and interventions to promote well-being. Nature Neuroscience, 15(5), 689–695. https://doi.org/10.1038/nn.3093.

Phelps, E. A., & LeDoux, J. E. (2005). Contributions of the amygdala to emotion processing: From animal models to human behavior. Neuron, 48(2), 175–187. https://doi.org/10.1016/j.neuron.2005.09.025.



MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Neurosains dan Regulasi Emosi: Menelusuri Peran Otak dalam Kontrol Diri — DeepTalk