Semua artikel
Kesehatan Mental

Merdeka dari Tekanan Batin: Menafsirkan Kemerdekaan Lewat Kesehatan Mental

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Setiap tanggal 17 Agustus, Rakyat Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Artinya, sebentar lagi semarak kemerdekaan akan menggema dari sabang sampai merauke. Lantas, bagaimana sebenarnya makna kemerdekaan dari sisi psikologis?

Artikel kali ini akan membahas tentang kemerdekaan dari sudut pandang kesehatan mental. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan psikologis ke Psikolog atau Psikiater. Dengan begitu bisa didapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pengertian Merdeka Secara Psikologis

Senang, Pria, Dewasa, Kota, Wajah

Merdeka secara umum artinya bebas dari belenggu yang menyiksa. Dengan demikian, merdeka secara psikologis adalah kondisi dimana individu memiliki kebebasan batin untuk berpikir, merasakan, dan bertindak tanpa dikendalikan oleh trauma, tekanan sosial, maupun gangguan psikologis lainnya.

Merdeka secara psikologis memang tidak tampak oleh mata. Meski demikian, merdeka secara psikologis mampu membawa individu ke kehidupan yang lebih baik. Individu yang merdeka secara psikologis akan mampu menunjukan keahliannya dalam pekerjaan, menunjukan kemampuannya dalam pendidikan, dan mampu berdaya dengan baik di masyarakat. Dengan demikian, kemerdekaan psikologis merupakan kondisi penting dan layak untuk diperjuangkan.

Berikut beberapa makna kemerdekaan secara psikologis:

Kebebasan secara emosional

Makna kemerdekaan secara psikologis yang pertama adalah memiliki kebebasan secara emosional. Dalam hal ini individu mampu mengelola emosi dan mengekspresikan emosi tersebut secara sehat, tanpa adanya hambatan dari pihak internal maupun eksternal. Sebaliknya, tekanan emosional yang kronis, seperti rasa marah, takut, malu, maupun sedih merupakan bentuk penjajahan emosional.

Melepaskan diri dari trauma masa lalu

Makna kemerdekaan secara psikologis yang kedua adalah mampu untuk lepas dari trauma masa lalu. Kita memang tidak bisa merubah masa lalu, termasuk trauma yang ada di dalamnya. Namun, terbebas dari trauma yang pernah dirasakan adalah hal penting untuk melanjutkan masa depan. Melepaskan diri dari trauma masa lalu bukan tentang melupakan kejadian traumatis tersebut, melainkan mampu memaknai, menerima, dan mengintegrasi pengalaman tersebut tanpa perlu dikendalikan olehnya.

Bebas dari gangguan mental

Makna kemerdekaan secara psikologis yang ketiga adalah terbebas dari gangguan mental. Pasalnya, kondisi-kondisi seperti PTSD, kecemasan, depresi, dan lain sebagainya, secara tidak langsung menjajah pikiran kita. Jika memang sedang dalam kondisi tersebut, mengikuti serangkaian proses intervensi psikologis adalah langkah tepat untuk melawan penjajah dalam diri kita.

Otonomi dan sense of agency

Makna kemerdekaan secara psikologis yang keempat juga mencakup sense of agency, yaitu kemampuan untuk membuat keputusan secara pribadi, bertanggung jawab atas pilihan, dan merasa memiliki kontrol akan diri sendiri.

Kebebasan dari stigma atau penilaian sosial

Makna kemerdekaan secara psikologis yang kelima adalah tentang kebebasan dari stigma atau penilaian sosial. Misalnya bebas dari rasa takut akan penilaian orang lain yang negatif terhadap diri kita, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan identitas diri dan kesehatan mental.

Kesadaran dan penerimaan diri

Makna kemerdekaan secara psikologis yang keenam adalah memiliki kesadaran dan penilaian diri yang positif. Kondisi tersebut bisa dilihat dari kemampuan mindfulness, penerimaan diri, dan tidak terlalu larut dalam pikiran-pikiran negatif.

Baca juga: Pandemi dan Gelombang Kesepian: Studi Psikologi tentang Isolasi Sosial di Era COVID-19

Hambatan Menuju Kemerdekaan Psikologis

Setelan, Pria Bisnis, Pisang, Bisnis

Setiap orang tentu berharap bisa mendapatkan kemerdekaan psikologis. Sayangnya, beberapa kondisi memang bisa menghambat harapan tersebut. Berikut beberapa hambatan menuju kemerdekaan psikologis:

Faktor internal

Hambatan pertama individu dalam mendapatkan kemerdekaan psikologis bisa berasal dari faktor internal individu tersebut, yaitu hal-hal yang ada di dalam diri kita. Misalnya tentang rasa takut, keyakinan negatif terhadap diri sendiri, dan juga self sabotage.

Faktor eksternal

Selain faktor internal, beberapa faktor eksternal juga berperan dalam menghambat kemerdekaan psikologis seseorang. Faktor eksternal ini adalah tentang hal-hal yang ada di luar diri individu. Misalnya budaya yang menekan kebebasan berekspresi, lingkungan kerja yang toxic, atau relasi yang tidak sehat.

Stigma dan diskriminasi terhadap kesehatan mental

Faktor lainnya yang mampu menghambat kemerdekaan psikologis seseorang adalah stigma dan diskriminasi sosial terhadap kesehatan mental. Dimana orang-orang dengan gangguan mental sering dianggap tidak pantas mendapatkan posisi sejajar dengan orang tanpa gangguan mental. Padahal justru orang dengan gangguan mental ini perlu diperlakukan dengan baik agar bisa merasa berdaya di tengah masyarakat.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai makna kemerdekaan dalam perspektif psikologis. Jika kamu merasa kurang merdeka secara psikologis, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id. Dengan begitu kamu bisa berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Isolasi Sosial dalam Lansia: Antara Realitas Fisik dan Kebutuhan Emosional

 

Sumber:

Deci, E.L. & Ryan, R.M. (2000). Self-Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation, Social Development, and Well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78.
Gross, J.J. (2002). Emotion Regulation: Affective, Cognitive, and Social Consequences. Psychophysiology, 39(3), 281–291.

Anthony, W.A. (1993). Recovery from Mental Illness: The Guiding Vision of the Mental Health Service System in the 1990s. Psychosocial Rehabilitation Journal, 16(4), 11–23.
Corrigan, P.W. (2004). How Stigma Interferes With Mental Health Care. American Psychologist, 59(7), 614–625.
Siegel, D.J. (2010). The Mindful Therapist: A Clinician’s Guide to Mindsight and Neural Integration. New York: W. W. Norton & Company.
Van der Kolk, B.A. (2014). The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. Viking.
Neff, K.D. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself. HarperCollins.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Merdeka dari Tekanan Batin: Menafsirkan Kemerdekaan Lewat Kesehatan Mental — DeepTalk