Deeptalk.co.id – Saat mengunjungi museum, pameran seni, atau tempat-tempat bersejarah yang kaya akan karya seni, umumnya kita akan merasa sangat terhibur. Menyaksikan keindahan yang bisa jadi tidak bisa kita temui di tempat lain. Bahkan bagi para pecinta seni, tempat semacam itu mampu menimbulkan ide-ide kreatif.
Namun tahukah kamu bahwa beberapa orang justru mengalami gangguan psikologis saat berhadapan dengan karya seni. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah sindrom stendhal. Kondisi psikologis yang satu ini memang cukup jarang kita jumpai di Indonesia. Meski demikian, sindrom stendhal sering menimpa para turis yang berkunjung ke Florence, Italia. Seperti yang kita ketahui, lokasi tersebut merupakan tempat dengan melimpahnya karya seni dimana-mana.
Lantas, seperti apakah sebenarnya sindrom stendhal itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai sindrom stendhal. Namun sebelum kita masuk pada pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Sindrom Stendhal

Sindrom stendhal adalah fenomena unik yang mengganggu psikologis seseorang, setelah berhadapan dengan karya seni yang sangat indah. Kondisi yang satu ini umumnya dialami oleh para turis yang mengunjungi daerah dengan banyak karya seni seperti di Italia.
Penderita sindrom stendhal bisa mengalami sakit baik secara fisik maupun mental saat mengagumi karya seni. Penderita biasanya merasa detak jantung tak beraturan, sesak pada dada, keringat berlebih, hingga kehilangan kesadaran. Selain mengalami gejala fisik semacam itu, penderita sindrom stendhal juga mengalami beberapa gejala psikologis, seperti kecemasan berlebih.
Sindrom stendhal termasuk dalam fenomena psikologis yang cukup langkah. Hal inilah yang membuat penelitian mengenai kondisi tersebut juga terbilang sangat minim. Sindrom stendhal juga belum masuk dalam DSM-5 yang merupakan buku pedoman diagnosa psikologis. Meski demikian, kondisi yang satu ini tetap perlu menjadi perhatian tersendiri. Walauba gaimanapun, penderita sindrom stendhal merasa tidak nyaman akibat sensasi yang dirasakan.
Selain umum dikenal dengan istilah sindrom stendhal, kondisi serupa juga dikenal dengan istilah sindrom florentine atau aesthetic sickness. Jika kondisi yang dialami dirasa cukup mengganggu, maka sebaiknya penderita sindrom stendhal mendapatkan penanganan oleh para profesional di bidangnya.
Baca juga: Gangguan Konversi: Kondisi Mental yang Berdampak Pada Gangguan Fisik
Penyebab Sindrom Stendhal

Sayangnya hingga saat ini belum diketahui penyebab utama dari sindrom stendhal. Meski demikian, berdasarkan pengertian dari sindrom stendhal itu sendiri, kondisi tersebut dialami sesaat setelah seseorang melihat karya seni yang sangat luar biasa. Selain itu, sindrom stendhal juga bisa lebih beresiko pada orang-orang dengan kondisi sebagai berikut:
· Mengalami stress atau tekanan hidup yang begitu berat.
· Mengalami gangguan tidur, misalnya tidak tidak nyenyak, mimpi buruk, atau kurang tidur.
· Mengalami jet lag setelah menempuh perjalanan panjang.
· Kelaparan dan/atau dehidrasi.
· Terpapar sinar matahari berlebih.
Gejala Sindrom Stendhal

Setiap penderita sindrom stendhal bisa saja menunjukan gejala dan tingkat keparahan gejala yang berbeda-beda. Meski demikian, kebanyakan dari mereka mengalami beberapa gejala berikut ini:
Gejala fisik
Gejala pertama yang dialami penderita sindrom stendhal bisa berupa gejala fisik. Gejala fisik sendiri umumnya dialami saat penderita berhadapan dengan karya seni yang sangat luar biasa. Gejala fisik yang dirasakan juga cukup beragam, mulai dari jantung berdetak tidak beraturan, sakit pada dada, pusing, sesak napas, mual, muntah, keringat berlebih, hingga kehilangan kesadaran.
Gejala psikologis
Gejala kedua yang dialami penderita sindrom stendhal bisa berupa gejala psikologis. Sama halnya dengan gejala fisik, gejala psikologis pada penderita sindrom stendhal juga cukup beragam. Gejala psikologis yang dimaksud bisa berupa kecemasan berlebih, kebingungan, rasa takut yang berlebihan, hingga halusinasi.
Gejala yang dialami oleh penderita sindrom stendhal memang memiliki kesamaan dengan gangguan panik. Maka dari itu, untuk dapat memastikan kondisi yang dialami merupakan sindrom stendhal atau tidak, tentu diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh psikolog atau psikiater.
Perlu diketahui juga bahwa gejala sindrom stendhal pada dasarnya bersifat sementara. Sehingga dalam banyak kasus penderita sindrom stendhal tidak memerlukan perawatan khusus. Meski demikian, kondisi tersebut terkadang cukup mengganggu. Terutama pada orang-orang yang sangat mengagumi karya seni, atau senang mengunjungi tempat-tempat yang indah. Maka dari itu, jangan ragu untuk mendapatkan perawatan profesional jika memang dirasa perlu.
Jika kamu mengalami sindrom stendhal dan tidak ada yang mengerti atau bisa membantumu, maka kamu bisa coba mempraktekan teknik grounding. Teknik grounding sendiri merupakan salah satu metode khusus yang mampu membantu kita dalam mengatasi pikiran negatif dan kecemasan berlebih.
Itu dia penjelasan singkat mengenai sindrom stendhal. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Komplikasi dan Penanganan Body Identity Integrity Disorder
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



