Semua artikel
Kepribadian

Mengenal Mitos Tentang Narsisme

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Kamu tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah narsis atau narsisme. Namun pertanyaannya, apakah pemahamanmu tentang narsisme itu sudah sesuai dengan apa fakta yang ada? Atau justru kamu telah termakan oleh mitos-mitos yang tersebar di masyarakat?

Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai mitos-mitos tentang narsisme. Namun sebelum kita masuk pada topik utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk sebagai patokan self diagnosis. Jika kamu memiliki masalah kesehatan mental, jangan ragu untuk berkonsultasi bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Konsep narsisme sendiri pertama kali dipopulerkan oleh seorang ahli psikoanalisis terkenal bernama Sigmund Freud. Dimana, dalam sebuah buku berjudul “Psikoanalisis Sigmund Freud” yang ditulis oleh K. Bartens, dipaparkan bahwa Freud mendefinisikan narsisme sebagai wujud cinta terhadap diri sendiri yang lebih condong pada mementingkan kepentingan pribadi, rasa kagum terhadap diri sendiri, hingga perhatian berlebih terhadap kecakapan atau kecantikan diri sendiri.

Berikut beberapa mitos yang beredar di masyarakat tentang narsisme:

Narsisme Memiliki Rasa Percaya Diri yang Tinggi

Stylish skeptic Caucasian girl frowning expressing doubt and disbelief while her emotional joyful friend who lives in her fantasies, looking up with happy smile, eyes full of hope, dreaming

Mitos pertama dan paling sering beredar terkait narsisme adalah mereka yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Bahkan beberapa orang beranggapan bahwa narsisme sama dengan percaya diri. Namun ketahuilah bahwa narsisme bukan wujud dari rasa percaya diri yang tinggi. Bahkan, seorang narsisme justru memiliki rasa percaya diri yang rendah.

Dalam banyak kasus, seseorang menjadi narsisme bahkan untuk menutupi rasa tidak percaya diri mereka dengan menonjolkan kelebihan yang dimiliki secara berlebihan. Hal inilah yang membuat mereka seakan tidak memiliki cela dalam hidupnya. Namun pada kenyataannya, mereka hanya tidak ingin sedikit cacat dalam dirinya nampak di permukaan.

Disisi lain, untuk memiliki rasa percaya diri yang tinggi, seseorang tidak perlu menjadi narsis. Rasa percaya diri dibentuk dari pencapaian nyata yang didapatkan, nilai-nilai yang dianut, serta kepedulian terhadap orang-orang dan lingkungan sekitar. Sedangkan yang kita ketahui, seorang narsisme bahkan terlalu mementingkan diri sendiri, dan cenderung tidak peduli dengan pendapat dan kondisi orang lain.

Suka Tampil di Depan Umum Adalah Seorang Narsisme

Portrait of beautiful young woman with black hair looking up with broad happy smile, being excited with positive news, displeased female friend standing next to her with doubtful skeptic look

Mitos kedua terkait narsisme adalah mereka yang memiliki kecintaan untuk tampil didepan umum sudah pasti seorang narsisme. Namun pada kenyataannya, tidak semua orang yang senang tampil adalah seorang narsisme. Walaupun memang seorang narsisme sering menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.

Tidak perlu menjadi seorang narsisme untuk bisa tampil di depan umum. Bahkan banyak orang yang senang tampil di depan umum tidak untuk menunjukan dirinya, namun dengan tulus untuk menunjukan keahlian dirinya atau justru orang lain. Tampil di depan umum tidak hanya tampil secara nyata, namun juga dalam bentuk foto maupun video. Artinya, tidak semua artis, selebritis, dan orang-orang dengan eksistensi tinggi di masyarakat adalah seorang narsisme.

Baca juga: Waspada Mitos Tentang Kepribadian Ekstrovert

Narsisme Bukan Kondisi yang Bahaya

Young beautiful friends posing with positivity

Mitos ketiga terkait narsisme adalah kondisi tersebut tidak berbahaya untuk diri sendiri dan orang disekitar. Banyak orang beranggapan bahwa sikap narsisme ini tidak membawa kerugian bagi diri sendiri dan orang-orang sekitar. Namun pada kenyataannya, narsisme merusak banyak sekali citra yang kamu miliki.

Seorang narsisme seringkali justru memiliki brand image buruk di mata masyarakat. Bagaimana tidak, mereka yang terlalu mementingkan diri sendiri, dan merasa paling superior tentu membuat orang lain merasa tidak nyaman. Bahkan, seorang narsisme tidak segan-segan memanfaatkan orang lain untuk menaikan citra dirinya di mata masyarakat. Tentunya hal tersebut juga mampu merugikan orang lain tersebut.

Jika terus dibiarkan, narsisme bahkan bisa berkembang menjadi sebuah gangguan jiwa yang dikenal dengan gangguan kepribadian narsistik atau narcissistic personality disorder. Pada tahap ini, penderita gangguan kepribadian narsistik bahkan ingin semua orang kagum terhadap dirinya dan harus mendahului kepentingannya di atas apapun itu. Kondisi ini penderita sudah harus mendapatkan perawatan medis untuk kebaikan dirinya dikemudian hari.

Memiliki Tingkat Kecerdasan yang Tinggi

Two good looking fashionable young female friends dressed stylishly being in good mood, smiling and laughing, excited with amazing news

Mitos berikutnya tentang narsistik adalah mengenai kecerdasan mereka yang tinggi. Mitos ini tentu tersebar akibat ulah mereka sendiri. Bagaimana tidak, jika kamu bertanya mengenai kemampuan dan kecerdasan mereka, mereka tentu akan menyatakan bahwa dirinya yang paling hebat dan paling pintar dalam hal apapun. Namun pada kenyataannya, banyak diantara mereka yang memiliki tingkat kecerdasan rata-rata layaknya orang-orang pada umumnya.

Itu dia beberapa mitos terkait narsisme. Jangan mudah mempercayai informasi diera kemudahan mengakses informasi ini. Terlebih lagi jika informasi tersebut membuat kamu salah menilai orang lain. Jangan ragu untuk berkonsultasi langsung dengan para ahli jika kamu mengalami beberapa masalah dengan kondisi kesehatan mentalmu. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Mitos dan Fakta Tentang Kepribadian Introvert

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Mengenal Mitos Tentang Narsisme — DeepTalk