Deeptalk.co.id – Pernakah kamu membayangkan perasaan orang tua yang ditinggalkan oleh anak-anak mereka? Misalnya pada orang tua dengan anak yang sudah menikah dan memulai hidup baru dengan keluarga kecilnya, bisa juga anak yang merantau di kota yang berbeda dengan orang tuanya. Atau kamu sedang dalam posisi itu? Sebagai orang tua mungkin akan merasakan kebingungan. Apakah akan senang akan pencapaian anaknya? Atau justru merasa sedih karena harus berpisah dengan anak yang dirawat sekian lama itu?
Tahukah kamu bahwa kondisi tersebut tidak jarang membuat para orang tua merasa kehilangan, hampa, kosong, dan juga sedih. Walaupun kebanyakan dari mereka tetap tampak tegar di hadapan anak. Perasaan-perasaan semacam itu dikenal dengan istilah empty nest syndrome atau sindrom kandang kosong.
Lantas seperti apa sebenarnya empty nest syndrome itu? Untuk mengetahui lebih banyak, artikel kali ini akan secara khusus membahas seputar empty nest syndrome. Namun sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dari pemeriksaan tersebut akan diketahui diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Empty Nest Syndrome

Empty nest syndrome merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan rasa sedih atau hampa pada orang tua setelah anaknya meninggalkan rumah. Bisa karena sang anak menikah dan tinggal terpisah dari orang tuanya, atau anak yang melanjutkan pendidikan atau karir di luar kota.
Walaupun kondisi empty nest syndrome bisa dialami oleh ibu maupun ayah, namun kondisi tersebut lebih sering dijumpai pada ibu. Pasalnya, mayoritas ibu memang menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak daripada ayah. Mulai dari sang anak lahir, hingga akhirnya tumbuh dewasa.
Walaupun melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri merupakan kesenangan sendiri bagi setiap orang tua. Namun tidak dapat dipungkiri hadirnya kekosongan karena anak tidak memiliki banyak waktu lagi bagi orang tuanya. Hal tersebutlah yang membuat banyak orang tua merasa sedih, hampa, kehilangan, dan juga kesepian.
Pada dasarnya rasa sedih ditinggalkan anak merupakan hal normal dirasakan oleh setiap orang tua, karena rasa sedih tersebut memang berdasar. Meski demikian, bukan berarti setiap orang tua terus berlarut-larut dalam kesedihan tersebut. Jika demikian, kondisi tersebut bisa membawa dampak negatif untuk kehidupan orang tua itu.
Empty nest syndrome merupakan kondisi sederhana, namun tetap perlu diperhatikan. Jangan sampai orang tua berlarut dalam kesedihannya. Untuk itu, penting bagi anak dan orang terdekat memberikan dukungan kepada orang tua demi kesejahteraan hidup di masa tuanya.
Kondisi empty nest syndrome ini bisa semakin buruk pada orang tua yang sudah memasuki usia pensiun, sudah tidak memiliki pasangan hidup, menapouse, dan juga tidak memiliki aktivitas menyenangkan dalam mengisi kekosongan waktunya.
Baca juga: Cegah Post Power Syndrome Sebelum Memasuki Usia Pensiun
Tanda-Tanda Empty Nest Syndrome

Banyak orang tua yang tidak sadar bahwa dirinya sedang dalam kondisi empty nest syndrome. Selain karena kurangnya pengetahuan terkait kondisi kesehatan mental, orang tua juga cenderung mengabaikan emosi-emosi negatif dalam dirinya. Maka dari itu penting bagi anak dan orang terdekat untuk lebih perhatian terhadap kondisi orang tua.
Berikut beberapa tanda-tanda empty nest syndrome:
Mengalami languishing
Gejala paling menonjol dan sering dialami oleh orang tua dengan empty nest syndrome adalah mengalami languishing. Languishing sendiri merupakan sekumpulan perasaan yang mencakup rasa gelisah, hampa, perasaan terjebak, kehilangan fokus akan aktivitas sehari-hari, kehilangan semangat hidup, dan juga kurang motivasi.
Frustasi karena merasa kehilangan kontrol akan seseorang atau sesuatu
Setiap orang tua tentu memiliki aturan masing-masing di rumahnya sebagai pedoman bagi anak-anaknya. Sayangnya, saat anak-anak sudah tidak tinggal serumah aturan tersebut seakan tidak berlaku saja. Hal semacam ini tidak jarang membuat orang tua merasa frustasi.
Muncul emosi-emosi negatif
Gejala lain dari empty nest syndrome adalah kemunculan emosi-emosi negatif pada orang tua. Emosi negatif ini cukup beragam, mulai dari perasaan sedih, rasa marah terhadap diri sendiri, khawatir berlebih khususnya mengenai kondisi anak, dan juga merasa frustasi. Dalam banyak kasus, orang tua dengan empty nest syndrome ini justru kesulitan untuk mengontrol emosi-emosi negatif tersebut.
Sulit untuk fokus pada pasangan
Selama kehadiran anak dalam kehidupan orang tua, kebanyakan dari mereka lebih banyak menghabiskan waktu dan pikirannya untuk anak. Kebiasaan tersebutlah yang menciptakan keeratan yang sangat kuat antara orang tua dan anak. Sehingga tidak jarang melupakan fokusnya untuk pasangan. Pada akhirnya, saat satu per satu meninggalkan rumah, orang tua justru kesulitan untuk kembali beradaptasi dengan fokus kepada pasangan.
Itu dia penjelasan singkat mengenai kondisi empty nest syndrome yang sering dialami oleh orang tua. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mengenal Gejala Post Power Syndrome Pada Lansia
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



