Deeptalk.co.id – Stockholm syndrome adalah salah satu kondisi psikologis yang dialami oleh korban kekerasan dan ditandai dengan timbulnya rasa simpati terhadap pelaku kekerasan. Kondisi stockholm syndrome ini justru merupakan bentuk coping mechanism yang dilakukan oleh korban kekerasan saat menghadapi situasi yang dapat memicu stress.
Para penderita stockholm syndrome mencoba untuk melihat sisi positif dari pelaku kekerasan untuk bisa menerima kondisi yang sedang menimpa mereka. Saat hal tersebut berlangsung cukup lama, alih-alih ingin lepas dari kekerasan yang didapatkan, korban justru merasa memiliki ikatan psikologis dengan pelaku.
Umumnya kondisi stockholm syndrome ini dialami oleh korban penculikan, khususnya anak-anak. Namun dalam beberapa kasus seperti pelecehan anak, pelecehan yang dilakukan pelatih kepada atlet, pelecehan hubungan hingga perdagangan seks juga bisa menimbulkan kondisi stockholm syndrome pada korbannya.
Sayangnya banyak sekali orang yang tidak mengenali gejala dari kondisi stockholm syndrome. Akhirnya penderita justru merasa tidak ada yang salah dengan pemikirannya, dan justru membiarkan kondisi stockholm syndrome menjadi lebih parah. Untuk itu penting bagi kita membekali pengetahuan mengenai gejala dari kondisi stockholm syndrome. Selain itu, kondisi ini juga memiliki beberapa komplikasi dengan masalah kesehatan mental lainnya.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai gejala dan komplikasi dari kondisi stockholm syndrome. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut penjelasan mengenai gejala dan komplikasi pada kondisi stockholm syndrome.
Gejala Stockholm Syndrome

Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami kondisi stockholm syndrome atau tidak, kita bisa melihat dari beberapa gejala berikut:
Pandangan positif terhadap pelaku kekerasan
Para penderita stockholm syndrome umumnya memiliki pandangan positif terhadap pelaku kekerasan. Baik itu dalam kasus penculikan atau kekerasan yang mereka alami. Pandangan positif ini pentu berbanding terbalik dengan perilaku yang pada dasarnya menyimpang. Namun para penderita stockholm syndrome justru dapat melihat sisi baik dari mereka. Misalnya memiliki rasa simpati karena telah memberi mereka makan, terlepas dari segala siksaan yang mereka dapatkan.
Kedekatan emosional terhadap pelaku
Tidak hanya mampu memandang positif terhadap pelaku kekerasan, penderita stockholm syndrome juga merasa memiliki kedekatan emosional dengan pelaku. Kedekatan emosional tersebut akan semakin erat jika kekerasan yang dialami berlangsung cukup lama. Bahkan beberapa penderita justru tidak ingin melepaskan diri dari para pelaku.
Baca juga : Stockholm Syndrome : Ikatan Psikologis Sandera Terhadap Pelaku Kekerasan atau Penculikan
Enggan untuk terbebas dari kondisi yang dialami
Salah satu gejala yang membuat penderita stockholm syndrome sulit untuk terbebas dari sindrom tersebut adalah adanya perasaan enggan atau tidak mau terbebas dari kekerasan atau penculikan yang mereka dapatkan. Mereka cenderung tidak menunjukkan upaya untuk terbebas dari segala siksaan yang didapatkan, dan justru cenderung menikmatinya.
Memandang negatif orang yang hendak menolong mereka
Penderita stockholm syndrome juga cenderung menolak bantuan dari orang lain untuk bisa terbebas dari kekerasan atau penculikan yang mereka alami. Mereka justru merasa polisi, teman, dan keluarga yang berusaha membebaskan mereka adalah pengganggu dan memandang negatif terhadap hal-hal yang bisa memisahkan penderita dengan pelaku.
Itu dia beberapa gejala dari penderita stockholm syndrome. Meski demikian, untuk bisa memastikan apakah seseorang benar-benar mengalami kondisi tersebut, dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh orang-orang yang ahli di bidangnya.
Komplikasi Stockholm Syndrome

Penting bagi penderita stockholm syndrome untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin. Pasalnya kondisi tersebut justru bisa menimbulkan berbagai komplikasi masalah kesehatan lainnya. Adapun komplikasi dari stockholm syndrome adalah sebagai berikut:
Gangguan stress pasca trauma (PTSD)
Seperti yang diketahui bahwa kekerasan atau penculikan yang dialami oleh penderita stockholm syndrome bisa menimbulkan gangguan stress pasca trauma atau PTSD. PTSD sendiri merupakan gangguan mental yang terjadi akibat peristiwa traumatis.
Masalah harga diri
Harga diri atau self esteem adalah penilaian individu terhadap kemampuan pribadi untuk mencapai versi idealnya. Penderita stockholm syndrome bisa saja mengalami masalah pada harga diri mereka, dimana mereka merasa mengalami penurunan harga diri akibat kekerasan yang normalisasi kekerasan yang mereka dapatkan.
Trust issue
Kondisi stockholm syndrome yang dibiarkan begitu saja dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat juga bisa menimbulkan trust issue dalam diri penderitanya. Trust issue sendiri adalah kondisi dimana seseorang tidak mempercayai atau menyimpan rasa curiga terhadap orang-orang disekitarnya. Dimana penderita stockholm syndrome bisa saja tidak mempercayai polisi, teman, atau keluarga yang hendak membantu mereka untuk terlepas dari stockholm syndrome.
Itu dia beberapa penjelasan singkat mengenai gejala dan komplikasi dari kondisi penderita stockholm syndrome. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Histrionic Personality Disorder : Selalu Menginginkan Perhatian
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



