Semua artikel
Perilaku

Mengatasi Prokrastinasi pada Gen Z: Strategi dan Tips yang Efektif

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Menunda pekerjaan sudah menjadi hal lumrah di era sekarang. Banyaknya distraksi yang dipicu oleh perkembangan teknologi membuat para gen z menunda banyak hal penting dalam hidupnya. Sebagai contoh, tidak sedikit gen z menunda untuk mengerjakan tugas sekolah untuk bermain sosial media. Selain itu, para gen z yang sudah bekerja juga tidak jarang menunda pekerjaan di depan mata untuk bermain sosial media. Perilaku menunda pekerjaan seperti itu dikenal dengan istilah prokrastinasi.

Prokrastinasi tidak hanya sekedar menunda pekerjaan karena dipicu oleh distraksi sosial media. Beberapa orang melakukan prokrastinasi karena merasa lebih lancar mengerjakan sesuatu saat waktu mepet. Beberapa lainnya menunda pekerjaan karena tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Kasus mengenai prokrastinasi ini pada dasarnya merupakan hal yang sangat sering kita jumpai. Meski demikian, bukan alasan bagi kita untuk membiarkan perilaku prokrastinasi. Banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan dari prokrastinasi. Maka dari itu, artikel ini akan secara khusus membahas mengenai dampak prokrastinasi, dan cara mengatasi prokrastinasi. Khususnya untuk para gen z.

Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami masalah mental akibat prokrastinasi atau hal lainnya. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Dampak Prokrastinasi Pada Gen Z

Events concept illustration

Prokrastinasi memberikan banyak sekali dampak negatif pada gen z. Salah satu dampak yang cukup serius adalah mampu mempengaruhi kondisi mental para gen z. Berikut dampak prokrastinasi terhadap kesehatan mental yang bisa dialami oleh gen z:

Stress dan kecemasan berlebih

Perlu diingat bahwa baik stress maupun perasaan cemas merupakan kondisi normal yang bisa dialami oleh siapa saja. Namun, tentunya stress maupun kecemasan tersebut tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, dan tidak dengan intensitas yang sering. Kebiasaan prokrastinasi justru bisa terus memicu stress maupun kecemasan. Pasalnya, saat sudah mendekati waktu pengumpulan tugas, akan ada rasa tidak tenang yang bisa memicu stress maupun kecemasan tersebut. Terutama jika tugas itu sangat penting. Sebuah jurnal yang diterbitkan oleh American Psychological Association pada tahun 2020 juga mengemukakan bahwa gen z yang tidak mampu menyelesaikan tugas juga bisa mengalami stress dan kecemasan.

Rendah diri

Dampak kedua dari prokrastinasi adalah bisa membuat seseorang menjadi rendah diri. Perasaan rendah diri ini dipicu oleh penyesalan akibat tidak mampu mengerjakan tugas, atau tidak mampu menyelesaikan tugas sesuai deadline yang diberikan.

Depresi

Dampak ketiga dari prokrastinasi adalah bisa memicu depresi. Depresi adalah jenis gangguan mental yang cukup serius, dan ditandai dengan timbulnya rasa sedih mendalam. Prokrastinasi bisa memicu depresi pada gen z karena ketidakmampuan mereka dalam mengontrol hidupnya.

Ketergantungan terhadap teknologi

Prokrastinasi juga bisa membuat para gen z mengalami kecanduan atau ketergantungan terhadap teknologi. Pasalnya, teknologi seperti handphone dan sosial media memang sering memicu distraksi, dan membuat gen z tidak fokus. Pada akhirnya berdampak pada perilaku prokrastinasi yang berulang.

Baca juga: Mengapa Gen Z Begitu Sulit Menghindari Prokrastinasi?

Tips Mengatasi Prokrastinasi Pada Gen Z

Website designer concept illustration

Dampak prokrastinasi pada dasarnya tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental. Melainkan juga mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan kita. Termasuk karir, prestasi akademik, dan sosial. Maka dari itu, sebagai gen z yang mulai mengembangkan karir, menyusun prestasi akademik yang baik, dan memasuki lingkungan sosial yang lebih dalam. Sangat perlu untuk mengatasi prokrastinasi ini. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengatasi prokrastinasi:

Membuat rencana yang spesifik

Rencana spesifik akan membantu kamu melakukan segala sesuatu dengan lebih terarah. Kamu jadi tahu apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Dengan begitu, kemungkinan prokrastinasi akan menjadi lebih kecil. Cara yang satu ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association pada tahun 2020.

Hindari multitasking

Beberapa orang mungkin menjadi sangat efektif bekerja dengan melakukan multitasking. Namun, beberapa orang justru keteteran jika melakukan hal yang sama. Maka dari itu, kalau kamu bukan orang yang bisa melakukan dua atau lebih pekerjaan sekaligus. Cobalah untuk mengerjakan tugas satu per satu. Tindakan ini juga akan lebih efektif bagi beberapa orang, dan setiap tugas yang dikerjakan bisa lebih fokus dan maksimal. Cara yang satu ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ophir, Nass, & Wagner pada tahun 2009.

Cari dukungan dari teman dan keluarga

Mendapatkan dukungan dari orang terdekat, seperti teman dan keluarga, merupakan hal baik terutama untuk kondisi mental kita. Dukungan tersebut bisa meningkatkan semangat untuk mengerjakan tugas, dan meminimalisir prokrastinasi. Cara yang satu ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Wohl, Pychyl, & Bennett pada tahun 2010.

Minta bantuan profesional

Tidak hanya penderita gangguan mental yang perlu mendapatkan bantuan dari profesional. Jika kamu mengalami masalah dengan perilaku, atau sekedar butuh tempat bercerita. Jangan ragu untuk mendapatkan bantuan dari psikolog atau psikiater. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk bertemu dengan para profesional di bidang kesehatan mental.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai dampak dan cara mengatasi prokrastinasi pada gen z. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Gen Z dan Gaslighting: Cara Menghadapi Manipulasi Emosional dalam Hubungan

 

Sumber:

Wohl, M. J. A., Pychyl, T. A., & Bennett, S. H. (2010). I won't do it: Why people procrastinate and how to overcome it.

Ophir, E., Nass, C. I., & Wagner, A. D. (2009). Cognitive control in media multitaskers. Proceedings of the National Academy of Sciences, 106(37), 15583-15587

American Psychological Association. (2020). Procrastination.

Klingsberg, T. (2014). The effects of task segmentation on procrastination. Journal of Applied Developmental Psychology, 35, 101-106.

Kuss, D. J., & Griffiths, M. D. (2011). Online social networking and addiction—a review of the psychological literature. International Journal of Environmental Research and Public Health, 8(9), 3528-3552.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Mengatasi Prokrastinasi pada Gen Z: Strategi dan Tips yang Efektif — DeepTalk