Deeptalk.co.id – Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah positive vibes. Istilah tersebut sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, istilah positive vibes kembali populer seiring dengan berkembangnya pengetahuan di bidang psikologi, khususnya tentang psikologi positif atau positive psychology. Istilah positive vibes sendiri merujuk pada suasana atau energi emosional yang positif, seperti kebahagiaan, menyenangkan, penuh optimisme, dan mampu mendukung kesejahteraan emosional.
Kamu mungkin pernah mendengar seruan untuk memiliki lingkungan yang positif, atau bertemanlah dengan mereka yang memiliki positive vibes. Seruan itu ada karena pada kenyataannya positive vibes bisa menular. Artinya, jika kita memiliki lingkungan dengan positive vibes, maka kita bisa menjadi bagian dari orang yang memiliki positive vibes. Dengan demikian, selain positive vibes itu bermanfaat untuk kesehatan mental kita, positive vibes juga bisa bermanfaat bagi orang disekitar kita.
Lantas, bagaimana positive vibes bisa menular? Artikel kali ini akan membahas topik tersebut dalam prespektif psikologis. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis atau penanganan gangguan mental. Jika kamu mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog agar mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Positive vibes dalam perspektif psikologis sering digambarkan sebagai emotional contagion atau penularan emosi. Artinya, menjadi sosok yang positif bisa menularkan emosi atau energi positifnya kepada orang-orang disekitar. Berikut penjelasan mengapa positive vibes bisa menular:
Penularan Emosional (Emotional Contagion)

Penularan emosional atau emotional contagion adalah proses dimana seseorang menyebarkan emosinya ke orang lain, baik itu dengan atau tanpa disengaja. Penularan emosi ini melibatkan ekspresi wajah, nada bicara, bahasa tubuh, dan juga suasana hati. Dalam konteks positive vibes, penularan emosi yang dimaksud dalam konteks positif. Misalnya menularkan kebahagiaan, rasa syukur, motivasi, ketenangan, dan masih banyak lagi.
Penularan emosional ini pada dasarnya sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun tidak semua penularan emosional itu kita sadari. Misalnya, saat berkomunikasi dengan orang yang penuh semangat atau ceria, kita akan menyambut komunikasi tersebut dengan perasaan-perasaan positif juga. Hal tersebut dapat terjadi karena pada dasarnya manusia memang di setting untuk merespon emosi orang lain sebagai bagian dari mekanisme adaptasi sosial.
Baca juga: Menyelami Positive Vibes: Antara Emosi Positif dan Kesehatan Mental
Peran Neuron Cermin (Mirror Neurons)

Rupanya, penularan emosi dalam hal ini emosi positif atau positive vibes juga secara tidak langsung diatur dalam neuron atau otak manusia. Kita mengenal istilah tersebut dengan neuron cermin atau mirror neuron.
Dalam beberapa pembahasan neuron cermin memang seringkali berkaitan dengan tindakan. Artinya saat seseorang melakukan suatu tindakan, secara tidak langsung orang lain akan melakukan tindakan serupa. Rupanya beberapa penelitian juga menunjukan bagaimana neuron cermin ini tidak hanya merespon tindakan, melainkan juga merespon emosi seseorang.
Dengan atau tanpa kita sadari, saat melihat orang lain tersenyum kita juga akan ikut tersenyum. Otak kita secara tidak langsung menginstruksikan ke tubuh kita untuk merasakan dan mengekspresikan emosi dari orang lain tersebut.
Teori Empati dan Resonansi Emosional

Penularan positive vibes juga bisa dijelaskan dengan teori empati dan resonansi emosional. Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain, dengan menempatkan diri sebagai orang tersebut, atau menggunakan sudut pandang orang lain. Artinya, saat kita memiliki empati terhadap orang lain, kita bisa mengadopsi emosi positif atau dalam hal ini positive vibes untuk diri kita pribadi.
Sedangkan resonansi emosional adalah respon otomatis dan spontan ketika menangkap atau merasakan emosi orang lain, dengan seolah-olah kita memiliki emosi yang sama. Berbeda dengan empati yang terjadi berdasarkan proses kognitif dan afektif, resonansi emosional lebih kepada reaksi emosional yang spontan. Dengan adanya resonansi emosional ini, besar kemungkinan ketika kita berinteraksi dengan lingkungan yang positive vibes, maka kita juga akan merasakan atau mengadopsi emosi positif tersebut.
Lingkungan Sosial dan Norma Emosional

Penjelasan lain tentang bagaimana positive vibes bisa dilihat dari perspektif lingkungan sosial dan norma emosional. Dalam ilmu psikologi sosial, manusia memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan norma emosional dari lingkungan atau orang-orang disekitarnya. Artinya, jika kita berada dalam lingkungan yang positif, maka kita akan mengadopsi emosi positif tersebut. Dalam hal ini kita ikut mengadopsi atau tertular oleh positive vibes dari lingkungan kita untuk bisa diterima oleh lingkungan tersebut.
Itu dia beberapa penjelasan mengenai bagaimana positive vibes bisa menular dalam perspektif psikologi. Jika kamu mengalami kesulitan untuk menjadi pribadi yang positif, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Gratitude Journaling: Teknik Psikologis untuk Menumbuhkan Pikiran Positif
Sumber:
Hatfield, E., Cacioppo, J. T., & Rapson, R. L. (1994). Emotional Contagion. Cambridge University Press.
Rizzolatti, G., & Craighero, L. (2004). The Mirror-Neuron System. Annual Review of Neuroscience, 27, 169–192.
Decety, J., & Jackson, P. L. (2006). A social–neuroscience perspective on empathy. Current Directions in Psychological Science, 15(2), 54–58.
Chartrand, T. L., & Bargh, J. A. (1999). The Chameleon Effect: The Perception–Behavior Link And Social Interaction. Journal of Personality and Social Psychology, 76(6), 893–910.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



