Semua artikel
Sindrom Psikologi

Menganggap Diri Sebagai Mayat Berjalan? Waspada Gejala Sindrom Cotard

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Apakah kamu pernah mendengar kondisi sindrom cotard? Jika belum, maka itu merupakan hal yang wajar. Pasalnya, kondisi ini memang masih terbilang cukup langkah di kalangan masyarakat. Sayangnya karena kondisi ini masih terbilang langkah, maka penanganan pada kasus ini juga tidak memiliki banyak referensi.

Sindrom cotard juga dikenal dengan istilah sindrom mayat berjalan. Artikel ini akan secara khusus membahas mengenai sindrom cotard. Namun perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika pembaca menemukan beberapa kesamaan isi artikel dengan kondisi pribadi atau orang sekitar, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater mengenai kondisi tersebut.

Pengertian Sindrom Cotard

Sindrom cotard merupakan kondisi dimana seseorang beranggapan bahwa terdapat bagian tubuhnya yang mati atau setengah tubuhnya sedang sekarat, namun sebenarnya tidak seperti itu. Seperti yang sudah dikatakan di awal, kondisi ini merupakan situasi yang cukup langkah.

Umumnya sindrom cotard diiringi dengan gangguan neurologis, depresi, dan beberapa kondisi gangguan mental lainnya. Sindrom cotard pertama kali dikemukakan pada tahun 1882, oleh seorang ahli saraf dan Psikiater dari Prancis yang bernama Dr. Jules Cotard.

Penderita sindrom cotard mengalami delusi psikotik yang dimana mereka beranggapan bahwa dirinya sudah mati dan kehilangan organ-organ internalnya. Dalam beberapa kasus, penderita sindrom cotard bahkan beranggapan kalau dirinya tidak pernah ada di dunia ini. Tentu saja hal tersebut tidak benar dan hanya delusi mereka saja.

Penderita sindrom cotard umumnya adalah orang dewasa usia 50 tahunan. Meski demikian, kondisi ini juga bisa terjadi pada anak-anak dan remaja. Diketahui juga bahwa orang dengan usia 25 tahun kebawah yang menderita sindrom cotard umumnya juga mengalami depresi atau bipolar. Wanita juga dianggap lebih besar kemungkinan mengalami sindrom cotard dibandingkan dengan laki-laki.

Penyebab Sindrom Cotard

Sayangnya hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab dari terjadinya sindrom cotard. Meski demikian, para ahli percaya bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami kondisi tersebut. berikut beberapa faktor yang dimaksud:

Usia

Dipercaya bahwa orang dengan usia 50 tahun ke atas akan lebih beresiko mengalami sindrom cotard. Meski demikian, orang dengan usia di bawah 50 tahun juga tidak menuntut kemungkinan mengalami kondisi tersebut.

Jenis kelamin

Berdasarkan jenis kelamin, perempuan dipercaya lebih beresiko mengalami sindrom cotard dibandingkan dengan laki-laki.

Baca juga : Ini Dia Dampak dan Penanganan pada Kasus Dissociative identity disorders (Kepribadian Ganda)

Kondisi kesehatan mental

Beberapa kondisi kesehatan mental dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami sindrom cotard. Adapun kondisi mental yang dimaksud bisa berupa gangguan bipolar, depresi pasca persalinan, katatonia, depresi psikotik, gangguan depersonalisasi, skizofrenia, dan gangguan disosiatif.

Kondisi neurologis

Selain kondisi kesehatan mental, beberapa kondisi neurologis juga dianggap dapat meningkatkan resiko sindrom cotard. Adapun kondisi neurologis yang dimaksud yaitu infeksi otak, tumor otak, demensia, epilepsi, migrain, sklerosis ganda, penyakit parkinson, dan cedera otak traumatis.

Gejala Sindrom Cotard

Seperti pada pengertian sindrom cotard itu sendiri, gejala utama dari kondisi ini adalah adanya perasaan bahwa dirinya tidak nyata atau telah meninggal, dan dalam beberapa kasus mereka bahkan merasa dirinya tidak pernah ada di dunia.

Selain gejala utama tersebut, penderita sindrom cotard juga menunjukkan beberapa gejala lainnya, yaitu:

Nihilisme

Penderita sindrom cotard cenderung mengalami nihilisme atau sebuah kepercayaan dimana tidak ada hal yang benar-benar berarti atau memiliki nilai. Mereka juga percaya bahwa tidak ada yang nyata  di dunia ini.

Ansietas

Selain nihilisme, penderita sindrom cotard juga mengalami ansietas. Ansietas sendiri merupakan respon perasaan yang tidak terkendali. Dengan kata lain, mereka memiliki respon terhadap ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, dan samar-samar.

Halusinasi

Banyak dari penderita sindrom cotard yang juga mengalami halusinasi. Seperti yang sudah diketahui, halusinasi merupakan kondisi dimana seseorang mendengar, merasa, mencium, atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Hipokondria

Penderita sindrom cotard juga mengalami hipokondria. Hipokondria sendiri merupakan salah satu bagian dari gangguan kecemasan yang ditandai dengan adanya kepercayaan bahwa dirinya mengalami penyakit serius yang mengancam nyawa, namun sebenarnya tidak.

Rasa bersalah

Beberapa penderita sindrom cotard juga cenderung mengalami rasa bersalah.

Pre okupasi

Untuk gejala terakhir, penderita sindrom cotard juga mengalami pre okupasi untuk melukai diri sendiri atau kematian. Pre okupasi sendiri merupakan salah satu jenis gangguan pikiran yang ditandai dengan terfokusnya pikiran terhadap suatu hal dalam waktu lama. Dalam kasus ini pikiran terfokuskan kepada melukai diri sendiri atau kematian.

Seperti itulah gejala dari sindrom cotard. Meski demikian, penderita sindrom cotard bisa jadi mengalami gejala yang berbeda-beda dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda pula. Untuk itu, agar mengetahui secara pasti kondisi kesehatan mental seseorang, sebaiknya segera konsultasikan dengan Psikolog atau Psikiater.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Kenali Gejala Dissociative Identity Disorders

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Menganggap Diri Sebagai Mayat Berjalan? Waspada Gejala Sindrom Cotard — DeepTalk