Semua artikel
Sindrom Psikologi

Menderita Saat Melihat Karya Seni yang Indah? Waspada Sindrom Stendhal

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Apakah kamu pernah merasakan jantung berdebar tak karuan saat sedang menyaksikan sebuah patung atau lukisan yang sangat indah? Jika pernah, bisa jadi kamu mengalami kondisi sindrom stendhal. Kondisi ini merupakan situasi dimana seseorang merasa cemas bahkan menjadi pusing saat melihat sebuah karya seni. Walaupun kondisi ini bisa dibilang cukup jarang dialami, namun kenyataannya tidak sedikit dari wisatawan asing yang mengalami hal tersebut.

Pada tahun 1989 seorang Psikiater bernama dari Rumah Sakit Santa Maria Nuova Florence yang bernama Graziella Magherini menyatakan bahwa kondisi sindrom stendhal merupakan bagian dari gangguan kesehatan mental. Dimana pada saat itu Magherini mendapatkan bahwa 106 turis yang melihat patung Michelangelo dan lukisan karya seniman Botticelli mengalami pusing, jantung berdebar, halusinasi, dan depersonalisasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa turis-turis tersebut mengalami serangan panik saat menyaksikan karya seni yang indah di perjalanan mereka, yang akhirnya dikenal dengan istilah sindrom stendhal.

Sindrom stendhal dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah sindrom florence. Istilah tersebut diambil dari sebuah buku yang ditulis oleh Marie Henri Beyle yang berjudul “Naples and Florence: A Journey from Milan to Reggio”. Dimana dalam buku tersebut, Beyle menggambarkan sensasi psikosomatis sebagaimana gejala dari sindrom stendhal yang Ia rasakan saat mengunjungi Kota Florence dan Italia.

Dengan demikian, sindrom stendhal ini merupakan kondisi dimana seseorang merasa terganggu secara fisik dan mental saat sedang menikmati karya seni yang mereka jumpai saat sedang bepergian ke luar kota atau luar negeri. Untuk penjelasan lebih detailnya, artikel ini akan membahas secara khusus mengenai kondisi ini. Namun perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi. Jika pembaca menemukan kondisi serupa dalam kehidupan atau orang-orang sekitar, jangan ragu untuk berkonsultasi mengenai kondisi tersebut dengan Psikolog atau Psikiater agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Penyebab Sindrom Stendhal

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, seseorang mengalami sensasi dari sindrom stendhal saat sedang menikmati sebuah karya seni yang indah. Dalam hal ini, karya seni yang dimaksud bisa berupa lukisan, patung, musik, ukiran, dan lain sebagainya. Penderita umumnya akan merenungki atau memandangi karya seni tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama dan akhirnya merasakan gangguan baik secara mental maupun fisik.

Selain itu, kondisi sindrom stendhal ini sering dikaitkan dengan perjalanan ke kota-kota bersejarah dengan keindahan seni yang sangat luar biasa. Beberapa ahli beranggapan bahwa situasi sindrom stendhal ini bisa jadi diakibatkan oleh harapan-harapan turis yang luar biasa akan tempat yang akan mereka kunjungi. Saat tiba di tempat ternyata keindahan yang didapatkan justru jauh lebih indah dari harapan-harapan yang mereka ciptakan. Dengan demikian turis akan merasa terkejut dan terlalu senang.

Namun, jika perasaan terkejut dan kesenangan tersebut sudah terlalu sering dialami, maka lambat laun mereka akan terbiasa dengan hal-hal tersebut. Karena itu pula kondisi sindrom stendhal hanya dialami oleh para turis atau orang asing, dan bukan pada mereka yang benar-benar mendalami tentang karya seni.

Baca juga : Tips Merawat Lansia dengan Sindrom Diogenes

Gejala Sindrom Stendhal

Penderita sindrom stendhal umumnya akan menunjukkan gejala yang berbeda-beda satu sama lain. Meski demikian, umumnya penderita akan mengalami beberapa gejala fisik dan psikologis berikut:

Gejala fisik

Saat berhadapan dengan sebuah karya seni yang sangat indah, penderita akan mengalami sensasi tenggelam, nyeri pada dada, jantung berdebar tidak karuan, keringat berlebih, vertigo, pusing, dan merasa kelelahan.

Gejala psikologis

Adapun gejala psikologis yang dialami bisa berupa kebingungan, disorientasi, halusinasi, dan euforia hingga kesedihan. Selain itu, Dr. Magherini juga mengungkapkan bahwa 66% pasien mengalami gejala gangguan berpikir, 29% mengalami gejala gangguan suasana hati, dan 5% mengalami gejala gangguan kecemasan.

Namun yang perlu diketahui bahwa gejala-gejala dirasakan dalam waktu yang cukup singkat. Dengan demikian, penderita tidak mengalami gangguan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Selain itu, kondisi ini juga bukan gangguan mental yang spesifik karena belum diakui oleh American Psychiatric Association (APA) atau oleh World Health Organization (WHO). Meski demikian kondisi ini cukup familiar karena pernah menjadi bahan dalam sebuah film yang tayang pada tahun 1996 dengan judul “The Stendhal Syndrome”.

Pencegahan Sindrom Stendhal

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa gejala dari sindrom stendhal yang berlangsung dalam waktu yang cukup singkat, maka penanganan pada kondisi ini bisa dilakukan seorang diri. Namun alih-alih untuk menangani kondisi tersebut, pencegahan merupakan langkah yang lebih bijak untuk dilakukan.

Untuk menghindari kondisi sindrom stendhal, terutama saat mengunjungi negara atau kota-kota bersejarah, sebaiknya pastikan diri dalam kondisi yang prima, memiliki waktu istirahat yang cukup, jaga diri agar selalu terhidrasi dengan baik, makan makanan yang bergizi, dan gunakan pelindung terhadap sinar matahari.

Namun jika kamu membutuhkan bantuan secara medis, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater mengenai kondisi yang kamu alami. Seperti itulah penjelasan singkat mengenai sindrom stendhal. Semoga artikel ini dapat membantu.

Baca juga : Waspada Sindrom Diogenes Pada Lansia!

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Menderita Saat Melihat Karya Seni yang Indah? Waspada Sindrom Stendhal — DeepTalk