Deeptalk.co.id – Emosi dan makanan memiliki hubungan yang kompleks dan seringkali menggoda. Banyak dari kita mungkin pernah mengalami saat-saat di mana kita merasa cenderung makan lebih banyak atau memilih makanan tertentu sebagai respons terhadap perasaan emosi seperti stres, kesedihan, atau bahkan kebahagiaan. Fenomena ini dikenal sebagai “emotional eating” atau makan berdasarkan emosi.
Artikel ini akan menggali konsep emotional eating dengan lebih mendalam, menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah ini, dan mengidentifikasi berbagai penyebab yang mendasarinya. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang emotional eating dan faktor-faktor yang memicu perilaku ini, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk mengatasi kebiasaan makan berdasarkan emosi dan menjaga hubungan yang sehat antara emosi dan pola makan kita.
Apa itu Emotional Eating?

Adalah hal yang umum bila kebanyakan orang beralih ke makanan untuk mendapatkan kenyamanan sebagai cara untuk mengatasi perasaan yang sulit. Ketika Anda makan sebagai respons terhadap emosi, itulah yang disebut sebagai emotional eating dan semua orang terkadang melakukannya.
Emotional eating adalah perilaku menggunakan makanan untuk membuat diri Anda merasa lebih baik untuk memenuhi kebutuhan emosional, bukan untuk memenuhi kebutuhan perut yang lapar. Perlu diketahui bahwa manusia tidak selalu makan hanya untuk memuaskan rasa lapar secara fisik. Banyak di antaranya yang juga beralih ke makanan untuk mendapatkan kenyamanan, menghilangkan stres atau juga untuk menghadiahi dirinya sendiri.
Namun, ketika melakukan emotional eating, Anda mungkin cenderung mengambil junk food, makanan manis dan makanan lain yang menenangkan tapi tidak sehat. Anda mungkin akan mengambil satu liter es krim saat Anda merasa sedih, memesan pizza saat Anda bosan atau kesepian, atau mampir ke restoran cepat saji setelah seharian bekerja.
Tubuh Anda membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Masuk akal jika makan akan menyalakan sistem penghargaan di otak dan membuat Anda merasa lebih baik. Akan tetapi sayangnya, emotional eating tidak memperbaiki masalah emosional. Bahkan, biasanya membuat Anda merasa lebih buruk. Setelah itu, bukan hanya masalah emosional yang tersisa, tapi Anda juga akan merasa bersalah karena makan berlebihan.
Meskipun mungkin terasa seperti cara untuk mengatasinya pada saat-saat itu, makan tidak mengatasi masalah yang sebenarnya. Jika Anda merasa stres, cemas, bosan, kesepian, sedih, atau lelah, makanan tidak akan memperbaiki perasaan tersebut. Bagi sebagian orang, siklus beralih ke makanan untuk mengatasinya menimbulkan rasa bersalah dan malu atau perasaan yang lebih sulit untuk dihadapi.
Baca juga: Kondisi Otak Dalam Respons Terhadap Kecanduan atau Ketergantungan
Siklus Emotional Eating

Makanan menjadi salah satu pusat dari banyak hal yang Anda lakukan dan ini menjadi bagian dari perayaan Anda. Membuatkan makanan untuk seseorang yang sedang mengalami masa-masa sulit adalah cara yang baik untuk menunjukkan bahwa Anda peduli. Berbagi makanan dengan orang lain juga menjadi cara untuk tetap terhubung. Sehingga ini adalah hal yang alami untuk memiliki hubngan emosional dengan makanan.
Sesekali menggunakan makanan sebagai pengobat rindu, hadiah, atau untuk merayakan sesuatu bukanlah hal yang buruk. Namun, ketika makan adalah mekanisme penanggulangan emosional utama Anda, seperti ketika dorongan pertama Anda adalah membuka kulkas setiap kali Anda stres, kesal, marah, kesepian, kelelahan, atau bosan, Anda berarti telah terjebak dalam siklus yang tidak sehat di mana perasaan atau masalah yang sebenarnya tidak pernah diatasi.
Rasa lapar emosional tidak dapat dipenuhi dengan makanan. Makan mungkin terasa enak pada saat itu, tetapi perasaan yang memicu makan masih ada. Dan Anda sering merasa lebih buruk daripada sebelumnya karena kalori yang tidak perlu yang baru saja Anda konsumsi. Anda menyalahkan diri sendiri karena mengacaukannya dan tidak memiliki tekad yang kuat.
Yang memperparah masalahnya, Anda berhenti belajar cara-cara yang lebih sehat untuk mengatasi emosi Anda, Anda semakin sulit mengendalikan berat badan Anda, dan Anda merasa semakin tidak berdaya atas makanan dan perasaan Anda. Namun, tidak peduli seberapa tidak berdayanya Anda terhadap makanan dan perasaan Anda, Anda masih bisa membuat perubahan positif. Anda bisa mempelajari cara-cara yang lebih sehat untuk mengatasi emosi Anda, menghindari pemicu, menaklukkan keinginan, dan akhirnya menghentikan kebiasaan makan secara emosional.
Penyebab Emotional Eating

Hampir semua hal dapat memicu keinginan untuk makan, baik secara eksternal maupun internal. Untuk alasan eksternal yang umum untuk penyebab seseorang mengalami emotional eating ialah seperti stres kerja, kehawatiran keuangan, masalah kesehatan, perjuangan dalam hubungan, hingga diet ketat atau memiliki riwaya diet yang lebih mungkin untuk makan secara emosional.
Sedangkan penyebab internal potensial lainnya untuk emotional eating yakni seperti:
- kurangnya kesadaran mawas diri (menyadari apa yang Anda rasakan)
- alexithymia (kurangnya kemampuan untuk memahami, memproses, atau menggambarkan emosi)
- disregulasi emosi (ketidakmampuan untuk mengelola emosi)
- sumbu stres hipotalamus hipofisis adrenal hipotalamus (HPA) yang terbalik (respons kortisol yang kurang aktif terhadap stres)
Makan secara emosional sering kali merupakan perilaku otomatis. Semakin sering makanan digunakan untuk mengatasinya, semakin mapan kebiasaan tersebut. Namun, emotional eating sendiri bukanlah gangguan makan. Ini mungkin bisa menjadi tanda gangguan makan, yang dapat mengarah pada gangguan makan.
Menurut Academy of Nutrition and Dietetics, gangguan makan didiagnosis ketika perilaku makan seseorang memenuhi kriteria tertentu. Banyak orang yang memiliki perilaku makan yang tidak teratur tetapi tidak memenuhi kriteria gangguan makan. Anda tidak perlu didiagnosis dengan gangguan makan untuk mencari bantuan. Anda berhak memiliki hubungan yang baik dengan makanan. Jika Anda merasa memiliki perilaku makan yang tidak teratur, bicaralah dengan ahli kesehatan mental atau ahli diet terdaftar.
Baca juga: Cara Ampuh Mengelola Kecenderungan Berpikir Katakstrofik
Sumber:
https://www.healthline.com/health/emotional-eating
https://www.helpguide.org/articles/diets/emotional-eating.htm
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



