Deeptalk.co.id – Apakah kamu tim yang percaya akan pencapaian merupakan hasil kerja kerasmu? Atau lebih kepada pencapaian merupakan keberuntungan yang kamu dapatkan? Walaupun sama-sama tentang pencapaian, namun keduanya cukup bertolak belakang. Tahukah kamu bahwa setiap pencapaian yang kamu dapatkan memiliki kontribusi dari diri sendiri. Maka dari itu, yakinlah akan kemampuan yang kamu miliki.
Namun, tidak menuntut kemungkinan bahwa beberapa orang beranggapan apa yang didapatkan hanya sekedar keberuntungan saja. Kondisi ini cukup banyak dialami oleh orang-orang yang sedang dalam usia produktif. Untuk saat ini mereka merupakan gen z, atau generasi yang lahir pada rentan tahun 1997-2012.
Menjadi salah satu fenomena yang tidak asing lagi bagaimana beberapa gen z justru meragukan diri sendiri. Terlepas dari seberapa besar usaha yang mereka lakukan untuk mencapai impiannya. Kondisi semacam itu dikenal dengan istilah imposter syndrome. Walaupun sekilas imposter syndrome ini tampak biasa saja, namun pada kenyataannya hal tersebut justru bisa mempengaruhi karir, bahkan memicu berbagai masalah kesehatan mental, seperti stress, kecemasan, atau depresi. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas bagaimana cara mengatasi imposter syndrome.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami gejala imposter syndrome dan merasa terganggu akan kondisi tersebut. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Apa Itu Imposter Syndrome?

Sebelum kita masuk lebih jauh mengenai cara mengatasi imposter syndrome. Kita akan bahas dulu tentang apa sebenarnya imposter syndrome itu. Istilah imposter syndrome pertama kali dikenalkan oleh psikolog klinis bernama Pauline R. Clance dan rekannya Suzanne A. Imes, dalam makalah mereka yang berjudul “The Impostor Phenomenon in High Achieving Women: Dynamics and Therapeutic Intervention”, pada tahun 1978.
Clance dan Imes mengamati perilaku wanita berprestasi tinggi pada saat itu. Dimana kebanyak dari mereka justru merasa tidak pantas akan pencapaian yang didapatkan. Bahkan, mereka merasa ketakutan akan dianggap sebagai seorang “penipu” karena berhasil mencapai apa yang didapatkan kala itu. Walaupun pada kenyataannya, pencapaian mereka didasarkan oleh kerja keras, dan kemampuan yang dimiliki.
Walaupun pada awalnya fenomena imposter syndrome ini khusus ditujukan kepada wanita berprestasi tinggi, namun seiring dengan berjalannya waktu rupanya tidak sedikit orang dengan kategori berbeda merasakan perasaan serupa. Istilah imposter syndrome ini pada akhirnya berkembang dan dikenal oleh banyak orang.
Imposter syndrome sendiri merupakan kondisi psikologis dimana seseorang meragukan pencapaian, dan merasa tidak pantas akan pencapaian tersebut. Seseorang dengan kondisi imposter syndrome justru merasa pencapaiannya didapatkan atas dasar keberuntungan atau bantuan orang lain. Walaupun pada kenyataannya pencapaian itu memang didapatkan dari kerja keras, usaha, dan kemampuan yang dimiliki.
Baca juga: Imposter Syndrome di Kalangan Gen Z: Mengapa Kita Merasa Tidak Pernah Cukup?
Cara Mengatasi Imposter Syndrome

Imposter syndrome pada dasarnya tidak termasuk dalam kategori gangguan mental. Meski demikian jika dibiarkan begitu saja, kondisi tersebut bisa memicu berbagai gangguan mental, misalnya gangguan kecemasan hingga depresi. Maka dari itu jika kamu mengalami gejala imposter syndrome, cobalah untuk mencari metode penanganan yang tepat untuk kondisi tersebut.
Jika memang dirasa bisa untuk dilakukan penanganan mandiri, kamu bisa coba mulai dari mengenali dan mengakui keberadaan kondisi tersebut. Selain itu, jangan ragu untuk mendiskusikan kondisi tersebut dengan orang lain. Coba juga mulai mencatat pencapaian yang kamu miliki, untuk sekedar mengingat betapa besar perjuanganmu sebelumnya. Buat tujuan yang realistis, dan yang paling penting hindari membandingkan dirimu dengan orang lain.
Jika kamu merasa penanganan secara mandiri kurang memberikan dampak yang signifikan, cobalah untuk mendapatkan bantuan dari para profesional. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk berkonsultasi dengan psikolog yang sudah berpengalaman. Secara umum, penanganan psikologis terkait kondisi imposter syndrome bisa dilakukan dengan jenis-jenis terapi psikologis berikut:
· Terapi perilaku kognitif (CBT), yang akan membantu seseorang untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif terhadap diri sendiri.
· Mindfulness-based stress reduction (MBSR), yang membantu seseorang untuk mengenali dan mengatasi perasaan tidak cukup baik dengan cara yang lebih adaptif.
· Terapi kelompok, yang membantu mengurangi perasaan terisolasi dan memberikan dukungan sosial untuk membantu proses pemulihan.
Itu dia beberapa jenis terapi psikologis yang umumnya digunakan untuk membantu mengatasi imposter syndrome. Terlepas dari itu, metode penanganan setiap orang bisa saja berbeda-beda tergantung pada hasil pemeriksaan dan kebutuhan penderita. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mengapa Gen Z Rentan terhadap Prokrastinasi? Faktor Psikologis dan Sosialnya
Sumber:
Mak, K. K., Kleitman, S., & Abbott, M. J. (2019). Impostor Phenomenon Measurement Scales: A Systematic Review. Frontiers in psychology, 10, 671.
Walker, D. L., & Saklofske, D. H. (2023). Development, Factor Structure, And Psychometric Validation Of The Impostor Phenomenon Assessment: A Novel Assessment Of Impostor Phenomenon. Assessment, 30(7), 2162-2183.
Top Therapy Tips to Overcome Imposter Syndrome. (2024). Bay Area CBT Center. https://bayareacbtcenter.com/top-therapy-tips-to-overcome-imposter-syndrome/?.com. Diakses Pada 25 Maret 2025.
Impostor Syndrome. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Impostor_syndrome?.com. Diakses Pada 25 Maret 2025.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



