Deeptalk.co.id – Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam metode parenting yang diterapkan. Sayangnya, cukup banyak orang tua yang belum sadar bahwa apa yang baik menurut mereka belum tentu baik untuk anak. Hal ini tidak jarang orang tua justru menerapkan toxic parenting dalam mendidik anak.
Toxic parenting sering kali dianggap sebagai metode mendidik anak dengan kekerasan secara fisik saja. Pada kenyataannya, menekan anak secara mental justru akan membawa dampak yang lebih buruk bagi anak di masa depan.
Tidak jarang orang tua justru memandang cara didik yang toxic ini sebagai penguat mental bagi anak. Mental anak akan terbentuk seiring dengan berjalannya waktu. Jika anak diberikan tekanan sebelum mentalnya kuat, anak justru akan merasa trauma.
Orang tua yang terlihat memenuhi kebutuhan anak dengan baik, tidak melukai fisik anak, bahkan tidak pernah membentak anak bukan berarti terbebas dari metode toxic parenting. Bisa saja secara tidak sadar orang tua justru memberi racun untuk merusak mental dan kepribadian anak.
Apa Itu Toxic Parenting?

Toxic parenting merupakan metode atau cara asuh orang tua yang secara tidak sadar dapat merusak kesehatan mental anak. Dalam hal ini, toxic parenting sering kali membawa anak ke dalam banyak kasus gangguan mental.
Umumnya, toxic parent merupakan orang tua yang saat kecil juga mendapatkan pengasuhan yang toxic dari orang tuanya. Jika tidak mendapatkan penanganan dan pembelajaran mengenai hal ini, tentu saja akan banyak generasi yang terus merasakan toxic parenting.
Toxic parenting memang dikenal sebagai pola asuh yang kasar kepada anak. Kasar dalam hal ini bisa berupa pemberian kekerasan verbal, bahkan kekerasan fisik kepada anak. Namun, bukan berarti orang tua yang selalu lembut kepada anak tidak menerapkan toxic parenting dalam pola asuhnya.
Baca juga: Kenalkan Kegiatan Ini untuk Menjaga Kesehatan Mental Anak dan Remaja
Ciri-Ciri Toxic Parenting

Untuk memutus tali generasi toxic parenting, sebagai orang tua atau calon orang tua perlu mengenal ciri-ciri toxic parenting. Jika beberapa ciri-ciri berikut ada dalam pola asuh yang telah atau akan diterapkan, maka bisa hentikan sedini mungkin.
Berikut beberapa ciri-ciri toxic parenting:
Menggantungkan ekspektasi yang tinggi kepada anak
Hal ini tidak mengherankan mengingat setiap orang tua pasti menginginkan masa depan terbaik untuk anak. Sayangnya, terbaik bagi orang tua belum tentu terbaik untuk anak. Hal ini yang seringkali terlupakan oleh orang tua. Orang tua merasa tahu segalanya karena telah hidup lebih lama.
Sebagai contoh, orang tua yang memberikan komentar pedas kepada anak yang minat dalam seni lukis. Orang tua justru mengubur dalam-dalam minat tersebut, dan mengarahkan anak ke bidang lain seperti kedokteran. Tindakan semacam ini akan membuat anak tidak bisa menikmati profesi yang mereka geluti di masa depan.
Melakukan kekerasan fisik dan verbal
Anak yang selalu mendapatkan kekerasan baik secara fisik ataupun secara verbal akan mendatangkan trauma di masa depan. Selain itu, kekerasan yang didapatkan dari orang tua akan membuat anak memiliki kepribadian yang kasar atau bahkan tidak percaya diri.
Kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan orang tua selalu didasari oleh didikan. Pada kenyataannya masih banyak metode pendidikan yang bisa diterapkan tanpa melukai mental anak. Terlebih lagi tindakan ini akan membawa dampak negatif dikemudian hari.
Membahas keburukkan anak
Membahan keburukkan anak akan membuat anak merasa tidak percaya diri. Terlebih lagi jika orang tua sering membahas hal tersebut di depan banyak orang. Anak akan merasa minder dan tumbuh sebagai anak yang pemalu.
Walau niat awal orang tua untuk memberikan peringatan, namun jika terlalu sering dilakukan tentu akan memberikan dampak negatif bagi anak.
Mengontrol anak secara berlebihan
Membebaskan anak secara berlebihan memang tidak baik. Namun, mengontrol atau mengekang anak juga bukan hal yang baik. Anak perlu mendapatkan kebebasan dan kepercayaan untuk menjalankan kehidupan mereka.
Anak yang mendapatkan kontrol penuh dari orang tua cenderung kesulitan dalam mengambil keputusan. Termasuk keputusan sederhana untuk dirinya sendiri. Anak tidak akan selamanya hidup dengan orang tua, maka mendidik anak untuk mandiri juga perlu dilakukan.
Masih banyak lagi ciri-ciri lainnya dari pola asuh yang toxic. Untuk itu, penting bagi orang tua dan calon orang tua mempelajari hal ini. Jika beberapa ciri diatas sudah terlanjur dilakukan, ada baiknya dihentikan sesegera mungkin sebelum anak terganggu secara mental.
Dampak Toxic Parenting

Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, toxic parenting banyak sekali membawa dampak negatif bagi kehidupan anak. Anak yang mendapatkan pola asuh toxic bisa jadi tumbuh sebagai pribadi yang tidak percaya diri, menjadi sosok yang pemarah atau sulit mengendalikan emosi, bahkan mengalami trauma berkepanjangan.
Selain itu, anak akan sulit melihat sisi positif dari kehidupan, cenderung membangkang kepada orang tua, mengalami berbagai gangguan mental seperti gangguan kecemasan dan depresi, merasa tidak pantas untuk bahagia dan dicintai, dan juga selalu menyalahkan diri sendiri.
Dengan demikian, toxic parenting bukanlah hal yang bisa dibiarkan berkepanjangan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Eating Disorder: Kenali Binge Eating Disorder Penyebab Obesitas



