Semua artikel
Pikiran

Kenali 12 Jenis-Jenis Distorsi Kognitif

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Seiring berjalannya waktu, semua orang pernah atau akan merasakan stres dan kecemasan. Kita jatuh, bangkit, dan belajar dari segala yang terjadi dalam hidup kita. Tapi, bagaimana jika terasa ada hal yang berlebihan dari pikiran kita? Sesuatu yang seolah menahan kita untuk meraih kebahagiaan dan kedamaian batin? Mungkin, tanpa kita sadari, kita menuai apa yang disebut distorsi kognitif dalam benak kita.

Distorsi kognitif, adalah cara pikiran kita yang salah tentang sesuatu yang belum terjadi. Terutama hal-hal yang menjatuhkan diri kita dan memengaruhi mood kita secara negatif. Konsep distorsi kognitif pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Amerika, Albert Ellis dan Aaron T. Beck. Mereka menemukan bahwa pola pikir kita bisa mempengaruhi bagaimana kita merasakan dan bereaksi terhadap hal-hal di sekitar kita. Secara sederhana, distorsi kognitif adalah cara pikiran kita “berbohong” kepada diri kita sendiri.

Zaman sekarang, berbagai penelitian membuktikan bahwa distorsi kognitif memiliki peran penting dalam berbagai kondisi psikologis termasuk stres, depresi, gangguan kecemasan. Mengenali dan mengatasi distorsi kognitif adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup kita sehari-hari. Dalam pembahasan kali ini, kita akan membahas lebih dalam tentang 12 jenis distorsi kognitif yang umum terjadi. Mari kita belajar mengenali mereka satu per satu.

12 Jenis Distorsi Kognitif Yang Umum Terjadi

Terkadang, kita mengalami situasi di mana kita cenderung berpikir secara tidak realistis. Hal ini tidak berdasar tentang kejadian sebenarnya. Inilah yang namanya distorsi kognitif. Berikut beberapa contoh distorsi kognitif dalam kehidupan sehari-hari:

1.     Pemikiran Hitam-Putih (Polarized Thinking)

Jenis distorsi ini merujuk pada kebiasaan berpikir dalam terminologi ekstrem, semuanya baik atau buruk, sukses atau gagal. Contoh kesehariannya: kamu merasa jika tidak mendapatkan nilai A. Maka kamu gagal, tanpa melihat nilai-nilai lain yang mungkin kamu dapat.

Baca juga: Bagaimana Cara Mengatasi Pola Pikir yang Salah atau Distorsi Kognitif

2.     Penyaringan (Filtering)

Ini adalah kebiasaan untuk hanya melihat aspek negatif dari suatu hal dan mengabaikan aspek positifnya. Contohnya, kamu hanya melihat komentar negatif yang kamu terima pada postingan Instagram, sementara mengabaikan berkomentar positif.

3.     Generalisasi Berlebihan (Overgeneralization)

Dalam hal ini, kita mengambil satu kejadian negatif dan menggunakannya untuk menentukan kesimpulan umum. Sebagai contoh, jika kamu gagal dalam satu proyek. Maka kamu bisa merasa seperti kamu akan gagal dalam semua proyek yang akan datang.

4.     Mencapai Kesimpulan Cepat (Jumping to Conclusions)

Ini terjadi ketika kita membuat kesimpulan tanpa bukti yang cukup atau sebelum memiliki semua fakta. Contohnya, kamu menduga bahwa temanmu marah hanya karena dia tidak membalas pesanmu dengan cepat.

5.     Membaca Pikiran (Mind Reading)

Dalam distorsi ini, kita berpikir bahwa kita tahu apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh orang lain. Sebagai contoh, kamu bisa menganggap bahwa seseorang tidak menyukaimu hanya karena dia tidak banyak bicara denganmu.

6.     Meramal (Fortune Telling)

Ini adalah kecenderungan untuk memprediksi hasil negatif tanpa ada bukti atau dasar yang logis. Contohnya, kamu mungkin merasa seolah-olah kamu pasti akan gagal dalam wawancara mendatang, walaupun kamu telah berusaha keras mempersiapkan diri.

7.     Memperbesar dan Meminimalkan (Magnification and Minimization)

Ini terjadi ketika kita membesarkan arti negatif dari suatu hal dan meminimalkan arti positifnya. Misalnya, kamu merasa sangat gagal hanya karena kamu tidak memenangkan perlombaan. Padahal, kamu telah berlatih dan berpartisipasi dengan baik.

8.     Membesarkan Masalah (Catastrophizing)

Ini berarti berpikir bahwa hal terburuk akan selalu terjadi. Contoh: jika temanmu tidak segera membalas pesanmu. Maka kamu merasa bahwa kamu telah menyinggung perasaannya dan bahwa dia tidak akan pernah berbicara denganmu lagi.

9.     Personalisasi (Personalization)

Dalam distorsi ini, kita merasa bahwa kita bertanggung jawab atas semua hal buruk yang terjadi seolah semuanya adalah kesalahan kita. Contohnya, kamu mungkin berpikir bahwa temanmu sedang marah hanya karena kamu, padahal dia sedang menghadapi masalah pribadi.

10.  Pernyataan “Seharusnya” (Should Statements)

Ini adalah sikap yang membuatmu merasa bahwa ada hal-hal yang “seharusnya” kamu lakukan dan apabila tidak tercapai. Maka kamu akan merasa tidak berharga atau kecewa. Contohnya, kamu bertekad bahwa kamu “seharusnya” berolahraga setiap hari. Dan ketika ini tidak tercapai, kamu merasa sangat mengecewakan.

11.  Pemikiran Berdasarkan Emosi (Emotional Reasoning)

Distorsi ini membuatmu merasa bahwa jika kamu merasa suatu cara, maka itu pasti benar. Jika kamu merasa tidak kompeten, maka dalam pikiranmu, kamu tidak kompeten, walaupun tidak ada buktinya.

12.  Labelisasi (Labeling and Mislabeling)

Dalam distorsi ini, kita melekatkan label kepada diri kita atau orang lain berdasarkan perilaku atau keadaan yang mungkin sementara. Misalnya, kamu mungkin menganggap dirimu bodoh hanya karena kamu membuat kesalahan dalam ujian.

Mengenali distorsi kognitif ini bisa membantu kita lebih memahami cara berpikir kita dan menghindari pemikiran yang negatif dan tidak realistis. Dengan lebih menyadari distorsi ini, kita dapat mengambil langkah untuk mengatasinya dengan merubah pemikiran yang lebih sehat dan positif.

Baca juga: Ketahui Jenis Gangguan Mental Dengan Impulsif Sebagai Gejalanya

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Kenali 12 Jenis-Jenis Distorsi Kognitif — DeepTalk