Semua artikel
Emosi

Kecerdasan Emosional dan Regulasi Diri: Pendekatan Psikologi Positif

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Beberapa diantara kita mungkin tidak asing lagi dengan istilah psikologi positif, yaitu cabang ilmu psikologi yang fokus pada perilaku dan proses kejiwaan manusia. Berbeda dengan ilmu psikologi pada umumnya yang fokus pada gangguan mental manusia.

Istilah psikologi positif sendiri sebenarnya sudah dikemukakan pada tahun 1954 oleh Abraham Maslow. Namun, ilmu tentang psikologi positif ini baru didalami pada tahun 1998, oleh seorang profesor psikologi dari University of Pennsylvania, Amerika Serikat yang bernama Martin Seligman. Barulah di awal tahun 2000-an pengetahuan tentang psikologi positif mulai berkembang pesat, khususnya di Indonesia.

Kepopuleran ilmu psikologi positif ini mendorong banyak sekali gebrakan di dunia psikologi. Salah dua diantaranya adalah mengangkat kembali tentang pentingnya kecerdasan emosional dan regulasi diri bagi manusia. Namun, kecerdasan emosional dan regulasi diri seringkali disamakan. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang kecerdasan emosional, regulasi diri, dan perbedaan dari keduanya.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami masalah dengan kondisi emosional. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pengertian Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengenali, memahami, mengelola, dan memanfaatkan emosi diri sendiri dan orang lain secara efektif. Kecerdasan emosional menjadi topik yang cukup populer beberapa tahun belakangan. Pasalnya, orang-orang tidak lagi hanya mengagungkan kecerdasan intelektual, melainkan mulai mempertimbangkan kecerdasan emosional dalam banyak konteks.

Sebagai contoh, kecerdasan emosional sudah mulai dijadikan syarat dalam proses rekrutmen karyawan, penerimaan universitas, dan masih banyak lagi. Itu artinya, kecerdasan emosional sudah mulai dianggap penting di masyarakat.

Kecerdasan emosional sendiri mencakup lima komponen utama, diantaranya:

·         Kesadaran diri (self awareness), yaitu kondisi dimana seseorang mampu memahami dirinya dengan baik, mencakup pikiran, evaluasi diri, dan perasaan.

·         Pengelolaan emosi (self regulation), yaitu kemampuan seseorang dalam mengatur target  dan mengevaluasi pencapaian mereka secara bijak.

·         Motivasi diri, yaitu kemampuan untuk mendorong atau memberikan semangat terhadap diri sendiri untuk bisa terus maju terlepas dari seberapa sulit tantangan yang sedang dihadapi.

·         Empati, yaitu kemampuan untuk memahami dan merasakan kondisi orang lain, melihat sesuai sudut pandang orang lain, dan juga membayangkan diri ada di posisi orang lain.

·         Keterampilan sosial, yaitu kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain dalam konteks sosial dengan cara yang bisa diterima oleh masyarakat.

Baca juga: Peran Regulasi Emosi dalam Perkembangan Anak dan Remaja

Pengertian Regulasi Diri

Regulasi diri adalah kemampuan untuk mengontrol pikiran, emosi, dan perilaku agar bisa mencapai tujuan jangka panjang. Pada dasarnya, regulasi emosi merupakan bagian dari kecerdasan emosional. Maka tidak heran jika banyak sekali kesamaan diantara keduanya. Berikut beberapa komponen yang termasuk dalam regulasi diri:

·         Pengendalian impuls, yaitu kemampuan seseorang dalam mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, dan juga tekanan dalam hidup.

·         Pengelolaan emosi negatif, yaitu kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi negatif, seperti rasa sedih, marah, kecewa, dan lain sebagainya.

·         Ketekunan dalam menghadapi masalah, yaitu kemampuan seseorang untuk terus berupaya menghadapi masalah dengan cara-cara yang bijak, serta tidak menyerah akan keadaan yang sulit.

·         Disiplin diri, yaitu kemampuan seseorang dalam melatih diri untuk tetap teratur, tertib, dan tekun dalam mencapai mimpi dan tujuan dalam hidupnya.

Perbedaan Kecerdasan Emosional dan Regulasi Diri

Dari pengertian kecerdasan emosional dan regulasi diri di atas tentu sudah sedikit tersirat perbedaan dari keduanya. Bisa dikatakan bahwa regulasi diri merupakan bagian dari kecerdasan emosional, namun kecerdasan emosional tidak selalu tentang regulasi diri. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa perbedaan kecerdasan emosional dan regulasi diri:

Ruang lingkup

Jika dilihat dari ruang lingkupnya, kecerdasan emosional memiliki ruang lingkup yang lebih luas. Dimana kecerdasan emosional mencakup pengenalan dan pengelolaan emosi diri sendiri dan orang lain. Sedangkan ruang lingkup regulasi diri lebih spesifik, yaitu hanya fokus terhadap pengendalian diri sendiri.

Komponen

Jika dilihat dari komponen pembentuknya, kecerdasan emosional terdiri dari kesadaran diri, pengelolaan emosi, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial. Sedangkan regulasi diri memiliki komponen pengendalian impuls, pengelolaan emosi negatif, ketekunan dalam menghadapi tantangan, dan disiplin diri.

Tujuan

Tujuan dari kecerdasan emosional dan regulasi diri juga berbeda. Kecerdasan emosional bertujuan untuk menjalin hubungan yang sehat dan efektif dengan sesama. Sedangkan regulasi diri bertujuan mencapai tujuan pribadi dan sosial secara disiplin.

Hubungan antar individu

Jika dilihat dari hubungan antar individu, kecerdasan emosional cenderung melibatkan interaksi sosial. Sedangkan regulasi diri lebih ke individu orang itu sendiri.

Itu dia penjelasan tentang kecerdasan emosional, regulasi diri, dan kecerdasan dari keduanya. Dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional merupakan bagian dari regulasi diri. Selain itu, keduanya memiliki peran yang sama pentingnya dalam kehidupan manusia.

Jika kamu mengalami masalah terhadap kecerdasan emosional atau regulasi diri. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Strategi Psikologis dalam Mengelola Emosi

 

Sumber:

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.

Mayer, J. D., & Salovey, P. (1997). What is emotional intelligence? In Salovey, P., & Sluyter, D. (Eds.), Emotional development and emotional intelligence: Educational implications (pp. 3–31). New York: Basic Books.

Baumeister, R. F., & Vohs, K. D. (2004). Handbook of self-regulation: Research, theory, and applications. New York: Guilford Press.

Duckworth, A. L., & Gross, J. J. (2014). Self-control and grit: Related but separable determinants of success. Current Directions in Psychological Science, 23(5), 319–325. https://doi.org/10.1177/0963721414541462

Schunk, D. H., & Zimmerman, B. J. (Eds.). (2008). Motivation and Self-Regulated Learning: Theory, Research, and Applications. Routledge.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Kecerdasan Emosional dan Regulasi Diri: Pendekatan Psikologi Positif — DeepTalk