Deeptalk.co.id – Telah banyak teori dan penjelasan mengenai bagaimana preferensi makanan dapat menyebabkan perilaku makan sehat. Beberapa contoh mencakup penjelasan pengaruh evolusi, perilaku, dan budaya, termasuk perilaku makan secara psikologis.
Setiap manusia memiliki alasan berbeda untuk makan. Hal ini bisa berupa untuk mengisi bahan bakar tubuh, menikmati rasanya, menghilangkan kebosanan, atau dengan cara membatasi. Alasan ini bisa saja berubah setiap hari, namun pola makan inilah yang menjadi perilaku makan setiap individu.
Perilaku makan itu sendiri diartikan sebagai motif dan proses yang berhubungan dengan pola makan dan kebiasaan makan. Penelitian telah menunjukkan peran mekanisme saraf dan hormonal yang terlibat dalam pengendalian kebiasaan makan dan preferensi makanan terkait dnegan perilaku makan sehat. Namun, perilaku makan yang buruk telah dikaitkan dengan gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan masalah terkait pola makan seperti obesitas.
Perilaku Makan Secara Psikologis

Perilaku makan dalam psikologis berkaitan dengan apa yang memotivasi kesukaan, ketidaksukaan dan pola makan manusia. Hal ini bisa disebabkan oleh interaksi antara faktor fisiologis, psikologis, sosial, dan genetik. Selain itu, faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi waktu makan seseorang, jumlah asupan makanan, preferensi makanan dan pemilihan makanan.
Karena perilaku makan mencakup alasan apa, mengapa, seberapa sering, dan sejauh mana seorang individu makan, terdapat banyak contoh perilaku makan. Di bawah ini adalah daftar contoh perilaku makan, yakni:
- Makan hidangan karena budaya keluarga Anda.
- Menghitung kalori secara obsesif.
- Makan makanan karena semua temanmu memakan makanan itu.
- Tidak sarapan untuk mencoba menurunkan berat badan.
- Tidak makan makanan penutup.
- Makan banyak lalu memaksakan diri untuk memuntahkannya.
Banyak orang menggunakan makanan sebagai mekanisme penanggulangan untuk mengatasi perasaan seperti stres, kebosanan atau kecemasan, atau bahkan untuk memperpanjang perasaan gembira. Meskipun hal ini mungkin membantu dalam jangka pendek, makan untuk menenangkan dan meringankan perasaan sering kali menimbulkan penyesalan dan rasa bersalah, dan bahkan dapat meningkatkan perasaan negatif. Anda sebenarnya tidak mengatasi masalah yang menyebabkan stres. Selain itu, citra diri Anda mungkin menurun seiring bertambahnya berat badan, atau Anda mungkin mengalami efek lain yang tidak diinginkan pada kesehatan Anda, seperti peningkatan gula darah, kadar kolesterol, atau tekanan darah.
Apa yang kita makan mempengaruhi perasaan. Makanan seharusnya membuat individu merasa nyaman. Rasanya enak dan menyehatkan tubuh. Namun, jika Anda makan terlalu sedikit atau terlalu banyak, kesehatan dan kualitas hidup Anda dapat terpengaruh. Hal ini dapat menimbulkan perasaan negatif terhadap makanan.
Dengan mempelajari cara membuat pilihan yang lebih sehat dan penuh perhatian, Anda mungkin dapat mengelola pola makan kompulsif, makan berlebihan, dan penambahan berat badan. Dengan mengendalikan nafsu makan, Anda juga bisa mendapatkan perasaan tenang, tingkat energi yang tinggi, dan kewaspadaan dari makanan yang Anda makan.
Baca juga: Terapi Psikologis yang Dapat Membantu Pemulihan Dari Kecanduan
Teori Psikologis Perilaku Makan

Preferensi makan setiap orang yang berbeda-beda beserta perilaku makan nya ternyata juga dijelaskan dalam bidang psikologis. Dalam hal ini, terdapat teori evolusi yang menjelaskan bahwa preferensi makanan berakar pada apa yang dimakan nenek moyang manusia. Teori evolusi juga menyatakan bahwa preferensi makanan adalah bawaan dan tujuannya adalah untuk meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup dan memastikan reproduksi keturunan dengan preferensi makanan yang sukses.
Tak hanya itu, teori evolusi menyatakan bahwa manusia menyukai makanan tertentu karena generasi sebelumnya dalam keluarganya menyukai makanan tersebut. Dengan kata lain, preferensi-preferensi ini diwariskan karena merupakan preferensi orang-orang yang selamat, atau mereka yang ‘paling kuat’.
Ada juga alasan utama lainnya yang membedakan hubungan dengan makanan, yakni melalui budaya. Orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda cenderung mengkonsumsi makanan yang berbeda pula. Ini juga mungkin disebabkan oleh keyakinan agama atau ketersediaan makanan. Misalnya, bagi seseorang yang berasal dari budaya Spanyol, makan siang mungkin merupakan waktu makan terbesarnya dalam sehari, namun bagi seseorang yang berlatar belakang Amerika, waktu makan terbesarnya adalah makan malam.
Sedangkan pada pendekatan perilaku makan dari segi psikologis lainnya adalah pendekatan behavioral. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa nenek moyang atau budaya seseorang mempengaruhi psikologis perilaku makan. Oleh karenanya, alih-alih nenek moyang atau budaya seseorang memengaruhi hubungannya dengan makanan, yang menentukan adalah apa dan siapa orang di sekitar mereka.
Beberapa teori perilaku perilaku makan lainnya yakni:
1) Pengondisian klasik
Individu dapat mengembangkan hubungan antara makanan tertentu dan respons tertentu. Dalam pengkondisian klasik, Anda tidak sadar akan asosiasi yang Anda buat. Biasanya, kita secara klasik dikondisikan untuk merasa lapar saat mencium makanan atau mengeluarkan air liur saat melihat makanan enak. Seseorang mungkin membentuk hubungan antara makan makanan manis/junk food dan perasaan bersalah yang dapat berujung pada hubungan tidak sehat dengan makanan.
2) Pengkondisian operan
Jika orang tua secara positif memberikan penguatan kepada anak-anak mereka ketika mereka makan sesuatu, hal ini meningkatkan kemungkinan mereka akan memakannya lagi. Misalnya, ibu Anda mungkin mengizinkan Anda menonton TV jika Anda makan sayur, sehingga pada akhirnya Anda mengasosiasikan sayur dengan perasaan yang baik.
3) Teori pembelajaran sosial
Seseorang mungkin meniru respons orang lain, seperti respons teman sebayanya terhadap makanan tertentu, yang dapat mencegah atau meningkatkan kemungkinan untuk mengonsumsi makanan tersebut lagi. Teori pembelajaran sosial dapat diterapkan pada orang-orang di luar lingkaran kita, termasuk orang-orang yang kita lihat di media sosial dan media. Pikirkan tentang orang-orang yang Anda temui yang memberikan pengaruh positif dalam hal makanan.
Jika Anda memaparkan diri Anda kepada orang-orang seperti itu, Anda bisa menjaga hubungan yang sehat dengan makanan. Namun, jika Anda hanya berinteraksi dengan akun, situs web, atau teman yang memiliki gangguan makan atau standar tubuh yang tidak realistis, hal ini dapat berdampak negatif secara signifikan.
Baca juga: Makanan Berikut Ini Dapat Mengurangi Agresivitas Saat Marah
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



