Semua artikel
Sosial

Isolasi Sosial pada Remaja: Implikasi Psikososial dan Perkembangan Identitas

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Usia remaja adalah usia dimana seseorang memiliki koneksi sosial yang cukup luas. Pergaulan di kalangan remaja juga cukup beragam. Biasanya di usia ini anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dibandingkan orang tua tau keluarganya. Tapi tenang saja, itu adalah hal yang normal. Pasalnya, usia remaja adalah usia peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Dimana pada usia dewasa kehidupan sosial bisa jauh lebih beragam lagi.

Lalu, bagaimana jika remaja justru mengalami isolasi sosial yang membuat lingkup sosialnya menjadi lebih minim? Apakah hal tersebut akan mempengaruhi perkembangan identitas dan psikososial anak? Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai topik tersebut.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental, atau isolasi sosial. Cobalah untuk berkonsultasi bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa dan jenis penanganan yang cocok untuk mengatasi kondisinya.

Situasi Isolasi Sosial Pada Remaja

Potret, Kaca, Neon, Cermin, Jendela

Isolasi sosial pada remaja bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Pasalnya, di usia remaja individu seharusnya mulai membangun kehidupan sosial yang lebih luas. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa faktor memang mampu memicu isolasi sosial pada remaja, diantaranya:

  • Penolakan dari teman sebayanya, bisa karena perbedaan, lingkungan yang baru, dan masih banyak lagi.
  • Bullying atau perundungan, dimana hal ini memang tidak hanya memicu isolasi sosial, melainkan banyak dampak negatif terhadap kesehatan mental.
  • Memiliki masalah keluarga, seperti perceraian orang tua, korban kekerasan dalam rumah tangga, neglect atau ditelantarkan oleh keluarga.
  • Masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan sosial, dan kondisi mental lain yang membuat remaja menarik diri dari lingkungan sosial.
  • Penggunaan media sosial yang berlebihan, namun minim interaksi dengan orang-orang di dunia nyata.

Menurut Erikson yang merupakan ahli psikologis, masa remaja merupakan masa krusial dalam pembentukan identitas diri. Dimana interaksi sosial dengan teman sebaya merupakan hal penting untuk menunjang proses pembentukan identitas diri tersebut. Maka dari itu secara tidak langsung, isolasi sosial pada remaja bisa menghambat pemaksimalan pembentukan identitas diri.

Baca juga: Mekanisme Koping Individu dalam Menghadapi Isolasi Sosial

Dampak Isolasi Sosial Terhadap Psikososial Remaja

Wanita, Model, Kacamata, Anak Muda

Seperti yang sudah dipaparkan pada poin sebelumnya, kondisi isolasi sosial pada remaja memang bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan psikologis dan sosialnya. Berikut beberapa dampak isolasi sosial terhadap psikososial remaja:

Mengganggu kesehatan mental remaja

Dalam skala besar, isolasi sosial pada remaja bisa memperbesar kemungkinan remaja mengalami gangguan mental, seperti depresi, kecemasan, dan perasaan kesepian yang kronis. Selain itu, isolasi sosial juga bisa membuat remaja tidak pantas untuk dihargai atau dicintai. Tidak jarang remaja dengan kondisi isolasi sosial juga memiliki pikiran-pikiran untuk menyakiti diri, bahkan bunuh diri.

Kesulitan dalam berelasi

Isolasi sosial yang dialami remaja bisa membuat remaja kesulitan dalam menjalin relasi, termasuk dalam mempertahankan hubungan yang sehat. Mereka juga kesulitan dalam membaca ekspresi atau memahami norma sosial yang berlaku. Seperti yang banyak terjadi pada penderita isolasi sosial, mereka juga memiliki kecenderungan untuk menarik diri, dan menghindari aktivitas sosial.

Terhambatnya perkembangan empati dan keterampilan sosial

Tanpa adanya interaksi sosial yang cukup, remaja bisa mengalami hambatan dalam pengenalan dan perkembangan empati, kerjasama, dan resolusi terhadap konflik yang mungkin akan terjadi di kemudian hari.

Baca juga: Isolasi Sosial dan Kesehatan Mental: Antara Kesepian dan Gangguan Psikologis

Dampak Isolasi Sosial Terhadap Perkembangan Identitas Remaja

Wanita, Mode, Model, Potret, Pemodelan

Tidak hanya berdampak buruk terhadap kesehatan psikososial remaja, isolasi sosial juga berdampak pada perkembangan identitas remaja, misalnya:

  • Kesulitan menemukan jati diri, karena minimnya interaksi sosial yang menghambat eksplorasi identitas. Selain itu, remaja juga jadi tidak mendapat konfirmasi atau tantangan atas pemikiran maupun perilakunya dari orang lain.
  • Kebingungan peran dan identitas yang lemah, karena tanpa adanya dukungan sosial remaja bisa merasa tidak yakin akan dirinya yang sebenarnya, termasuk terhadap jalan hidup yang akan ditempuh.
  • Rentan terhadap identitas negatif, masih karena kurangnya dukungan dan validasi sosial remaja jadi mudah terpengaruh oleh kelompok-kelompok negatif untuk mendapatkan rasa memiliki. Misalnya dengan bergabung bersama geng, ekstremisme, atau melakukan perilaku menyimpang.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai kondisi isolasi sosial yang terjadi di kehidupan remaja. Jika kamu atau orang terdekat mengalami kondisi tersebut, cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Strategi Mengatasi Confirmation Bias: Melatih Pikiran Kritis dan Kesadaran Diri

 

Sumber:

Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. New York: W. W. Norton & Company.
Santini, Z. I., Jose, P. E., Cornwell, E. Y., Koyanagi, A., Nielsen, L., Hinrichsen, C., ... & Koushede, V. (2020). Social disconnectedness, perceived isolation, and symptoms of depression and anxiety among adolescents in Denmark: A nationwide cross-sectional study. The Lancet Child & Adolescent Health, 4(12), 756–764.
Kroger, J. (2007). Identity development: Adolescence through adulthood. Sage Publications.
Rubin, K. H., Bukowski, W. M., & Laursen, B. (2011). Handbook of peer interactions, relationships, and groups. Guilford Press.
Larson, R. W. (2000). Toward a psychology of positive youth development. American Psychologist, 55(1), 170–183.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Isolasi Sosial pada Remaja: Implikasi Psikososial dan Perkembangan Identitas — DeepTalk