Semua artikel
Sindrom Psikologi

Impostor Syndrome : Merasa Kurang Terhadap Semua Prestasi yang Didapatkan

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Banyak orang yang berbangga diri dengan pencapaian atau prestasi yang mereka dapatkan. Bagaimana tidak, prestasi tersebut tidak jarang akan mengorbankan banyak waktu, tenaga, pikiran, dan juga materi. Maka dari itu, rasanya tidak heran jika beberapa dari mereka memberikan apresiasi terhadap setiap pencapaian yang mereka dapatkan.

Namun, ada saja orang-orang yang selalu merasa kurang akan setiap prestasi yang mereka dapatkan. Mereka merasa tidak pantas untuk mendapatkan prestasi tersebut, dan justru menganggap bahwa dirinya adalah seorang penipu yang tidak berhak akan prestasi yang didapatkan. Kondisi semacam ini dikenal dengan istilah impostor syndrome.

Lantas seperti apa impostor syndrome itu? Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai hal tersebut. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis.

Jika kamu atau orang sekitar mengalami masalah dengan kesehatan mental atau perilaku menyimpang, maka segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Berikut pembahasan mengenai impostor syndrome.

Pengertian Impostor Syndrome

Impostor adalah julukkan yang diberikan kepada seseorang yang memiliki identitas palsu untuk tujuan penipuan. Hal ini sedikit mirip dengan impostor syndrome, dimana penderita impostor syndrome memiliki pandangan bahwa mereka tidak pantas atas pencapaian yang didapatkan. Mereka menganggap dirinya adalah seorang penipu sehingga bisa mendapatkan pencapaian tersebut. Walau pada dasarnya, apa yang didapatkan merupakan hasil dari kerja keras mereka.

Impostor syndrome adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan tidak pantas mencapai kesuksesan. Impostor syndrome pertama kali dikemukakan oleh seorang Psikolog bernama Pauline Clance dan rekannya bernama Suzzane Imes, pada tahun 1970-an. Selain dikenal dengan istilah impostor syndrome, kondisi ini juga dikenal dengan nama lain seperti sindrom penipu (fraud syndrome), dan imposter syndrome.

Pada dasarnya impostor syndrome ini belum masuk dalam kategori gangguan mental. Artinya, impostor syndrome tidak tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5) yang merupakan panduan diagnosis psikologi bagi Psikolog dan Psikiater seluruh dunia, ataupun dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ). Meski demikian, kasus impostor syndrome sudah cukup sering dijumpai, dan bisa disertai dengan kondisi gangguan mental seperti depresi atau gangguan kecemasan.

Baca juga : Control Freak : Keinginan Untuk Mengatur Orang Lain

Ciri-Ciri Impostor Syndrome

Impostor syndrome bisa dibilang cukup unik karena sindrom yang satu ini biasa dialami oleh orang-orang ambisius dan memiliki standar tinggi dalam hidupnya. Artinya, penderita impostor syndrome justru bukan orang yang terlihat memiliki masalah dengan kondisi mentalnya.

Sayangnya, orang-orang yang mengalami impostor syndrome justru sering kali tidak menyadari bahwa apa yang dialaminya bisa menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupannya. Untuk itu, pengtinya bagi kita memahami apa saja ciri-ciri penderita impostor syndrome berikut:

Meragukan kemampuan yang dimiliki

Ciri utama dari orang dengan impostor syndrome adalah sering meragukan kemampuan yang mereka miliki. Walaupun kemampuannya sudah membuahkan hasil, namun mereka masih merasa kurang, dan justru hasil tersebut seringkali dianggap keberuntungan semata, atau hasil dari tipu daya yang mereka lakukan.

Menganggap kesuksesan bukan hasil dari usaha

Orang-orang yang mengalami impostor syndrome sering kali mengaitkan kesuksesan yang mereka dapatkan dengan faktor-faktor eksternal. Misalnya, seseorang yang berhasil mendapatkan peringkat pertama menganggap bahwa itu dikarenakan kemurahan hati guru atau dukungan dari orang-orang sekitarnya.

Tidak mampu menilai kompetensi dan keterampilan diri

Seorang penderita impostor syndrome juga tidak mampu untuk menilai potensi dan keterampilan yang mereka miliki. Hal ini karena mereka selalu merasa kurang dengan potensi dan keterampilannya tersebut. Dengan demikian, penilaian mereka sering kali tidak objektif.

Takut akan kegagalan

Perasaan kurang akan kemampuan yang mereka miliki membuat penderita impostor syndrome justru semakin takut akan kegagalan. Walaupun hal ini sering kali menjadi alasan untuk mereka lebih baik, namun tidak jarang membuat mereka justru memaksakan diri.

Perasaan kecewa berlebihan jika tidak mampu memenuhi standar

Tidak hanya takut akan kegagalan, penderita impostor syndrome juga bisa merasa sangat kecewa jika tidak mampu memenuhi standar yang ada. Walaupun mereka sering merasa kurang akan prestasinya, namun bukan berarti mereka akan senang jika tidak mendapatkan prestasi. Hal ini justru akan membuat mereka sangat terpuruk.

Perfeksionis

Seperti yang sudah dibahas di awal, kondisi impostor syndrome ini sering kali dialami oleh orang-orang yang perfeksionis. Maka tidak heran jika mereka selalu mengharapkan kesempurnaan, dan anti akan kegagalan.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai impostor syndrome. Intinya, impostor syndrome adalah kondisi dimana seseorang selalu tidak merasa puas dengan setiap pencapaian yang mereka dapatkan, dan justru menganggap diri sebagai penipu karena bisa mencapai hal tersebut. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Avoidant Personality Disorder : Gangguan Kepribadian Menghindar

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Impostor Syndrome : Merasa Kurang Terhadap Semua Prestasi yang Didapatkan — DeepTalk