Semua artikel
Sindrom Psikologi

Imposter Syndrome di Kalangan Gen Z: Mengapa Kita Merasa Tidak Pernah Cukup

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Gen z adalah generasi yang lahir pada rentan usia 1997-2012. Artinya, saat artikel ini dibuat gen z sudah berusia sekitar 13-28 tahun. Usia tersebut, membuat para gen z masuk pada usia-usia produktif. Mereka akan memiliki lingkungan sosial yang lebih luas, menempuh pendidikan, bahkan beberapa sudah aktif bekerja.

Bisa dikatakan bahwa masa gen z saat ini adalah masa untuk mengejar ambisi dan mimpi-mimpi mereka. Namun, beberapa orang mengalami gangguan pada masa tersebut. Gangguan itu biasanya berupa perasaan tidak cukup akan dirinya dan apa yang diperbuat. Perasaan tidak cukup ini dikenal dengan istilah imposter syndrome.Lantas, bagaimana perasaan itu bisa mengganggu gen z di usia produktifnya?

Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang imposter syndrome pada gen z, dan penyebab dari timbulnya imposter syndrome itu. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami beberapa gejala imposter syndrome dan terganggu akan kondisi tersebut. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pengertian Imposter Syndrome

Contrasting Emotions Expressed by Young Woman With Backpack

Imposter syndrome adalah kondisi dimana seseorang meragukan pencapaian mereka dan merasa tidak pantas akan pencapaian tersebut. Orang dengan kondisi imposter syndrome merasa bahwa apa yang telah didapatkan serta-merta karena keberuntungan atau bantuan orang lain. Walaupun pada kenyataannya, pencapaian tersebut didapatkan karena kerja keras, kemampuan, usaha, dan konsestensi yang mereka miliki.

Istilah imposter syndrome sendiri pertama kali dikenalkan pada tahun 1987, oleh psikolog klinis bernama Pauline R. Clance dan Suzanne A. Imes. Istilah imposter syndrome didasarkan oleh pengamatan terhadap banyaknya wanita yang pada saat itu yang merasa tidak layak akan prestasi atau mencapaian. Bahkan, banyak wanita itu yang merasa takut atau dianggap sebagai penipu akan pencapaian yang mereka dapatkan dari kerja keras mereka sendiri. Dari pengamatan tersebut Imes dan Clance memperkenalkan kondisi imposter syndrome yang kita kenal hingga saat ini.

Mirisnya, kondisi imposter syndrome sering kali dialami oleh mereka yang sedang masuk dalam usia-usia produktif. Seperti yang kita ketahui, gen z saat ini sedang mamsuki usia produktif. Walaupun sekilas imposter syndrome tampak tidak berbahaya. Namun jika diperhatikan secara seksama, kondisi imposter syndrome ini akan menurunkan rasa percaya diri, meningkatkan stress dan kecemasan, penurunan kinerja kerja, hingga depresi. Maka dari itu, penting untuk mengenal kemungkinan adanya gejala imposter syndrome sedini mungkin. Gunanya adalah untuk mengantisipasi, atau setidaknya memberikan penanganan awal agar proses pemulihan bisa lebih mudah dan efisien.

Baca juga: Mengapa Gen Z Rentan terhadap Prokrastinasi? Faktor Psikologis dan Sosialnya

Penyebab Imposter Syndrome

Asian young woman showcases contrasting emotions by smiling on one side while displaying distress

Pada dasarnya hingga saat ini belum bisa diketahui secara pasti mengapa seseorang mengalami kondisi imposter syndrome. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang dipercaya mampu membuat seseorang rentan mengalami imposter syndrome. Berikut beberapa faktor pemicu imposter syndrome yang umumnya dialami oleh para gen z:

Memiliki self efficacy yang rendah

Self efficacy merupakan keyakinan dalam diri seseorang bahwa dirinya mampu untuk mengerjakan sesuatu atau menyelesaikan sesuatu dan berhasil akan hal tersebut. Seseorang dengan self efficacy rendah akan merasa bahwa dirinya tidak layak akan pencapaian yang didapatkan. Dengan demikian, seseorang dengan self efficacy yang rendah ini umumnya akan beresiko lebih besar mengalami imposter syndrome dibandingkan dengan mereka yang memiliki self efficacy yang tinggi.

Pola asuh protektif dan kontrol yang berlebihan

Banyak gen z yang mendapatkan pola asuh protektif dan kontrol berlebihan dari orang tua mereka. Beberapa orang tua beranggapan bahwa pola asuh semacam ini akan melindungi anak mereka dari banyaknya bahaya yang ada di masa itu. Namun, pada beberapa anak kondisi ini justru membuat mereka beresiko mengalami imposter syndrome. Rupanya, pola asuh orang tua yang terlalu protektif dan mengontrol ini membuat anak kehilangan rasa percaya diri dan meragukan kemampuan yang dimiliki.

Lingkungan yang kompetitif

Gen z tumbuh di era perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Banyak orang yang mampu mendapatkan akses terhadap informasi atau kemampuan-kemampuan baru yang dibutuhkan. Artinya, banyak sekali saingan yang ada, termasuk bersaing dengan teknologi yang sudah semakin canggih. Buktinya, banyak sekali pekerjaan yang pada akhirnya digantikan oleh teknologi. Walaupun beberapa orang beranggapan lingkungan kompetitif akan melahirkan semangat baru. Namun beberapa orang lainnya kondisi tersebut justru akan menurunkan rasa percaya diri, tidak layak, dan meragukan kemampuan yang dimiliki.

Itu dia sedikit penjelasan terkait pengertian dan penyebab imposter syndrome, khususnya dikalangan gen z. Jika kamu mengalami imposter syndrome dan terganggu akan hal tersebut, cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id dan berkonsultasi dengan psikolog yang ada di sana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Menunda atau Tertekan? Dampak Prokrastinasi terhadap Kesehatan Mental Gen Z

 

Sumber:

Sindrom penyamar. Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Sindrom_penyamar?.com. Diakses pada 25 Maret 2025

Hardianto, G., Erlamsyah, E., & Nurfahanah, N. (2016). Hubungan Antara Self-Efficacy Akademik dengan Hasil Belajar Siswa. Konselor, 3(1), 22-28.

Rahman, S. (2023). Mengenal Bahaya Impostor Syndrome bagi Kinerja Organisasi. Kementerian Keuangan. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-banjarmasin/baca-artikel/16513/Mengenal-Bahaya-Impostor-Syndrome-bagi-Kinerja-Organisasi.html?.com. Diakses pada 25 Maret 2025.

Mengenal Imposter Syndrome dan 8 Tips Jika Kamu Merasakannya. (2023). Karir Lab. https://karirlab.co/article/success-in-work/mengenal-imposter-syndrome-dan-8-tips-jika-kamu-merasakannya?.com. Diakses pada 25 Maret 2025.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Imposter Syndrome di Kalangan Gen Z: Mengapa Kita Merasa Tidak Pernah Cukup — DeepTalk