Semua artikel
Gangguan Kecemasan

Hypervigilance : Rasa Takut yang Tidak Rasional

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Setiap orang tentu memiliki rasa takunya masing-masing. Namun ada beberapa orang yang memiliki rasa takut yang bisa terbilang tidak rasional. Rasa takut yang dialami membuat tubuh merespon stimulus secara berlebihan. Kondisi semacam ini dikenal dengan istilah hypervigilance.

Untuk mengenal kondisi hypervigilance lebih dalam, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel kali ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, segera lakukan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Berikut pembahasannya.

Pengertian Hypervigilance

Pada dasarnya otak manusia memang dirancang untuk selalu waspada terhadap hal-hal yang dapat membahayakan diri sendiri. Contohnya kita akan berlari dengan sangat kencang saat sedang dikejar oleh anjing. Namun hal tersebut menjadi sedikit lebih sensitif terhadap orang-orang yang mengalami hypervigilance. Bahkan mereka bisa selalu waspada walau tidak mendapatkan ancaman yang serius.

Hypervigilance merupakan kondisi dimana seseorang mengalami kewaspadaan yang sangat tinggi dan bersikap siaga untuk mencegah hal-hal yang dianggap berbahaya. Kondisi semacam ini biasanya dialami untuk merespon rasa takut yang tidak rasional.

Orang-orang yang mengalami hypervigilance akan menjadi sangat peka terhadap situasi yang dirasa bisa mengancam dirinya. Walaupun bagi orang-orang hal tersebut bukanlah sesuatu yang perlu untuk dikhawatirkan. Kondisi tersebut membuat mereka memiliki kewaspadaan yang tinggi, walaupun bahaya tersebut hanya ada dalam pikiran mereka.

Kondisi hypervigilance ini juga sering kali disalah artikan sebagai paranoid. Walaupun hypervigilance dan paranoid memiliki tingkat kewaspadaan yang sama-sama tinggi, namun keduanya merupakan kondisi yang berbeda.

Orang yang mengalami paranoid umumnya memiliki kewaspadaan yang berhubungan dengan delusi, yaitu kepercayaan akan hal-hal yang tidak nyata. Berbeda dengan orang yang mengalami hypervigilance, dimana kewaspadaan mereka berdasarkan pada kenyataan yang terjadi pada dirinya.

Selain itu, orang yang mengalami paranoid juga cenderung memiliki keyakinan akan terjadinya hal-hal buruk yang akan menimpa dirinya dan membuatnya seakan terancam. Sedangkan penderita hypervigilance cenderung meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

Baca juga : Hyperarousal : Menjadi Lebih Siaga Setelah Trauma

Penyebab Hypervigilance

Kondisi hypervigilance itu sendiri umumnya disebabkan oleh beberapa kondisi kesehatan mental, seperti:

Gangguan kecemasan

Penyebab umum seseorang mengalami hypervigilance adalah gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan sendiri merupakan gangguan mental yang ditandai dengan adanya kecemasan dan rasa takut berlebih.

Orang-orang yang memiliki gangguan kecemasan sosial memiliki kecenderungan hypervigilance saat harus berinteraksi dengan orang lain, terutama orang yang baru mereka kenal. Kondisi semacam itu akan meningkatkan kewaspadaan mereka.

Post traumatic stress disorder (PTSD)

Gangguan lain yang menyebabkan hypervigilance adalah gangguan stress pasca trauma atau yang biasa disingkat dengan PTSD. Orang yang mengalami PTSD cenderung takut akan hal-hal yang berhubungan dengan kejadian traumatisnya. Kondisi tersebut membuat mereka meningkatkan kewaspadaan atau hypervigilance.

Skizofrenia

Penderita skizofrenia juga beresiko mengalami hypervigilance. Orang-orang yang mengalami skizofrenia cenderung putus asa dalam membedakan kenyataan dan imajinasi mereka. Hal tersebut akhirnya memicu hypervigilance. Justru, kondisi hypervigilance pada penderita skizofrenia bisa semakin parah dengan adanya halusinasi dan paranoid.

Gejala Hypervigilance

Untuk dapat mengetahui seseorang mengalami hypervigilance atau tidak, tentu diperlukan diagnosis lebih lanjut oleh Psikolog atau Psikiater. Namun, kamu bisa mengidentifikasi dari beberapa gejala hypervigilance berikut, sebelum akhirnya memutuskan untuk mendapatkan diagnosis dari ahlinya.

Gejala fisik

Orang yang mengalami hypervigilance akan menunjukkan gejala fisik saat sedang meningkatkan kewaspadaan mereka. Gejala fisiknya berupa pupil mata melebar, pernapasan yang tidak teratur, merasa gelisah, keringat berlebih, hingga detak jantung yang tidak beraturan.

Gejala perilaku

Selain gejala fisik, kondisi hypervigilance juga dapat diidentifikasi dari perilaku mereka. Adapun gejala perilaku yang ditunjukkan oleh penderita hypervigilance bisa berupa mudah terkejut, selalu curiga kepada orang lain, sering mengecek lingkungannya, peka terhadap suara, overthinking, bereaksi berlebihan, dan lain sebagainya.

Gejala emosional (mental)

Kondisi hypervigilance juga bisa diidentifikasi dari gela-gela mental yang ditunjukkan seperti kesulitan untuk tidur, rasa cemas dan takut yang berlebih terhadap hal-hal yang tidak rasional, dan tidak bisa merasa tenang.

Itu dia beberapa gejala yang ditunjukkan oleh penderita hypervigilance. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala di atas, maka segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater. Terlebih lagi kondisi hypervigilance bisa memiliki komplikasi dengan beberapa kondisi gangguan mental yang lebih serius. Dengan melakukan pemeriksaan dengan ahlinya, kamu akan mendapatkan diagnosis yang tepat. Dari diagnosis tersebut baru akan ditentukan penanganan apa yang cocok untuk pasien.

Itu dia penjelasan singkat mengenai kondisi hypervigilance. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Ternyata Pesimis Tidak Selamanya Buruk! Ini Dia Dampak Positif dan Negatif Dari Sifat Pesimis

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait