Deeptalk.co.id – Kalau kamu masih asing dengan istilah hustle culture, kamu mungkin tidak asing lagi dengan istilah workaholic atau gila kerja. Ketiganya merupakan satu perilaku yang sama untuk menggambarkan orang-orang yang meletakkan pekerjaan sebagai sebuah prioritas utama dalam hidupnya.
Walaupun bekerja memiliki hubungan yang baik dengan produktivitas, namun bukan berarti hustle culture juga baik untuk diri sendiri. Untuk itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai hustle culture.
Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala serupa seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi lebih lanjut kepada Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai hustle culture.
Pengertian Hustle Culture

Istilah hustle culture diberikan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang gila akan pekerjaan mereka, atau yang juga kita kenal dengan istilah workaholic atau kecanduan bekerja. Dari julukkan kecanduan bekerja saja sudah terdapat kalimat negatif, yaitu candu yang artinya dorongan berlebih dalam tubuh untuk melakukan atau mengkonsumsi suatu hal tertentu secara terus menerus. Dimana kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan berdampak kepada kesehatan fisik dan mental penderitanya.
Pada dasarnya bekerja akan meningkatkan produktivitas seseorang. Disisi lain, bekerja juga penting untuk membangun relasi dan tentu saja mendapatkan penghasilan untuk menunjang kehidupan. Sayangnya beberapa orang justru terjebak dalam hustle culture.
Banyak orang yang salah artikan istilah hustle culture untuk orang-orang yang pekerja keras. Padahal, antara hustle culture dan pekerja keras memiliki gap yang sangat besar. Dimana seorang pekerja keras mencintai pekerjaannya, dan tetap mempertimbangkan kehidupan lain di luar pekerjaannya. Sedangkan kondisi hustle culture membuat penderitanya terobsesi dengan pekerjaan, sehingga cenderung mengesampingkan hal-hal diluar pekerjaan.
Penyebab Hustle Culture

Kondisi hustle culture tidak terbentuk begitu saja, melainkan terdapat beberapa faktor pemicu yang menyebabkan kondisi tersebut. Berikut beberapa faktor pemicu hustle culture:
Toxic positivity
Istilah toxic positivity mungkin terdengar cukup aneh. Pada dasarnya positif yang berlebihan juga tidak baik untuk diri sendiri. Toxic positivity adalah sebuah paham yang mengharuskan segala sesuatu harus bersifat positif, seberapa sulit kondisi orang tersebut. Alih-alih membuat kondisi menjadi lebih baik, justru emosi negatif yang terpendam akan menjadi sampah psikologis dalam tubuh dan bisa meledak sewaktu-waktu.
Tidak mengenal diri sendiri
Orang-orang yang sudah mengenal dirinya sendiri akan tahu apa yang menjadi tujuan mereka di masa depan. Tentu saja hal ini akan membuatnya bekerja sesuai dengan porsi yang seharusnya, dan tidak mengikuti standar yang dimiliki oleh orang lain.
Baca juga : Mansplaining : Sikap Laki-Laki yang Merendahkan Perempuan
Perkembangan teknologi
Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kita hidup di era perkembangan teknologi yang cukup pesat. Hal ini tidak hanya mempermudah pekerjaan seseorang, namun juga membuat seseorang bekerja tanpa mengenal waktu. Sebagai contoh bekerja dari rumah yang biasanya hanya berlangsung 8 jam bisa menjadi lebih panjang.
Ciri-Ciri Hustle Culture

Beberapa orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang terjebak dalam kondisi hustle culture. Kondisi tersebut baru disadari saat dampak yang dirasakan sudah semakin berat. Untuk itu, penting bagi kita membekali diri mengenai informasi mengenai ciri-ciri dari hustle culture berikut:
Selalu memikirkan pekerjaan
Ciri utama dari seorang yang terjebak dalam hustle culture ini adalah selalu memikirkan pekerjaan dimanapun dan kapanpun. Tugas dalam pekerjaan memang merupakan kewajiban yang harus dikerjakan. Namun setiap pekerjaan memiliki porsinya masing-masing. Bagi seorang hustle culture pekerjaan tersebut selalu ada dalam pikirannya, dan mengganggu aktivitas lain diluar bekerja, termasuk quality time bersama keluarga dan kerabat terdekat.
Perasaan bersalah saat tidak bekerja
Saking gilanya dengan pekerjaan mereka, seorang hustle culture akan merasa bersalah saat tidak bekerja. Waktu-waktu yang digunakan untuk istirahat dianggap sebagai kegiatan yang percuma atau membuang-buang waktu. Padahal mereka lupa bahwa istirahat merupakan hal penting untuk menjaga diri agar tetap fokus dan mempertahankan performa kerja.
Memiliki target yang tidak realistis
Sebenarnya hal yang satu ini tidak akan terjadi saat orang tersebut sudah mengenali diri mereka sendiri, termasuk kemampuan yang mereka miliki. Namun sayangnya seorang hustle culture tidak memahami hal tersebut. Akhirnya mereka akan dengan mudah menetapkan target yang terlalu tinggi dan memaksanya bekerja diluar kapasitas yang mereka miliki. Tidak jarang juga hal ini akan mengganggu rekan kerja dan relasi-relasi yang dimiliki.
Tidak puas dengan hasil kerja
Seberapa kuat mereka bekerja, seorang hustle culture tetap saja akan merasa kurang. Mereka cenderung tidak mengapresiasi tenaga dan pikiran yang mereka keluarkan untuk bekerja. Hal ini juga sering kali memicu burnout atau kelelahan dalam bekerja.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai hustle culture. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Withdrawal Syndrome : Gejala Putus Obat
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



