Deeptalk.co.id – Ketika marah, banyak dari kita mungkin mencari cara untuk meredakan emosi yang sedang memuncak. Salah satu respons yang umum adalah mencari kenyamanan dalam makanan. Namun, penting untuk diingat bahwa pilihan makanan saat marah dapat memiliki dampak pada kesehatan fisik dan emosi kita.
Artikel ini akan membahas dengan mendalam jenis-jenis makanan yang sebaiknya dihindari ketika marah, serta mengungkapkan alasan ilmiah di balik dampak negatifnya terhadap keadaan emosi kita. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara makanan dan emosi, kita dapat mengambil langkah-langkah yang lebih bijaksana dalam mengelola perasaan marah dan menjaga kesehatan mental kita tetap stabil.
Kaitan Makanan dengan Emosi Marah

Ada satu kata yang bisa menggambarkan perpaduan antara kebutuhan makanan dan rasa lapar dengan kemarahan. Kebanyakan orang menyebutnya sebagai kondisi “hangry”, yakni kondisi ketika Anda lapar hingga Anda menjadi marah. Sesuai dengan pepatah lama yang mengatakan, “Anda adalah apa yang Anda makan” yakni di mana terdapat hubungan antara suasana hati dan makanan.
Banyak penelitian yang telah mendukung keabsahan hubungan antara suasana hati dan makanan. Seperti sebuah uji coba yang dilakukan selama tiga bulan oleh para peneliti di Deakin University di Australia mengikuti 67 peserta yang memiliki pola makan yang buruk dan juga mengalami depresi sedang hingga berat. Pola makan yang buruk dalam hal ini tercermin dari rendahnya asupan buah-buahan, sayuran, dan protein tanpa lemak, tetapi termasuk asupan daging olahan, gula, dan camilan asin dalam jumlah yang signifikan.
Sekitar setengah dari individu-individu tersebut menjalani diet Mediterania yang dimodifikasi dengan konseling nutrisi yang komprehensif, sementara yang lainnya menerima terapi kelompok secara umum namun tidak ada dukungan diet. Mereka yang menjalani diet menunjukkan peningkatan yang signifikan: 32% orang dalam kelompok diet yang dimodifikasi mengalami remisi total dari gejala depresi dibandingkan hanya 8% dari kelompok kontrol.
Selain itu, sebuah studi lainnya juga mengaitkan hubungan antara makanan yang dikonsumsi dengan timbulnya emosi marah. Terdapat beberapa makanan yang dapat berpengaruh langsung pada kondisi mental dan perilaku Anda, termasuk akan timbulnya emosi marah. Yakni studi dari Prosiding National Academy of Sciences menunjukkan bahwa kadar glukosa yang rendah akibat rasa lapar dapat menyebabkan dorongan agresif.
Juga penelitian lain yang berusaha melihat gambawan besarnya akan hubungan antara makanan dan suasana hati yang melibatkan variabel-variabel yang kompleks seperti waktu, komposisi nutrisi makanan, dan riwayat diet. Penelitian oleh Drew Ramsey dari Universitas Oxford ini berfokus pada bagaimana pola makan dapat memengaruhi suasana hati dan perilaku di antara sekelompok narapidana di penjara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan dapat menyebabkan agresi, lekas marah, dan bahkan kecenderungan melakukan kekerasan.
Dr. Ramsey juga mencatat bahwa, kekurangan nutrisi adalah penyebab utama kelainan perilaku. Tanpa nutrisi yang tepat, tubuh tidak dapat memproduksi bahan kimia dan hormon yang diperlukan untuk berpikir jernih dan suasana hati yang sehat, yang pada gilirannya dapat menyebabkan perilaku yang tidak rasional dan bahkan berbahaya. Selama studi penelitian, sekelompok narapidana menerima suplemen vitamin sementara yang lain makan makanan cepat saji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narapidana yang mengonsumsi vitamin jauh lebih tidak agresif dan pemarah dibandingkan dengan mereka yang hanya mengonsumsi makanan cepat saji.
Baca juga: Menggali Akar Psikologis Kecanduan : Apa yang Mendorong Ketergantungan?
Makanan yang Harus Dihindari Saat Marah

Oleh karena terdapat hubungan antara makanan yang Anda konsumsi terhadap perilaku dan emosi yang ditimbulkannya, maka ada beberapa makanan lainnya yang perlu Anda hindari saat marah. Di antaranya yakni makanan yang:
1. Stimulan
Makanan dan minuman yang mengandung stimulan seperti kafein – kopi, minuman berenergi, teh hitam, dan soda tertentu – dapat meningkatkan emosi dan menstimulasi sistem saraf Anda. Hal ini berpotensi meningkatkan perasaan cemas, gelisah, dan mudah tersinggung. Kafein juga dapat mengganggu pola tidur Anda, yang selanjutnya dapat memengaruhi suasana hati Anda.
2. Makanan manis
Makanan bergula tinggi, termasuk permen, cokelat, minuman manis, dan makanan penutup, dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah yang cepat. Hal ini dapat menyebabkan kehabisan energi, perubahan suasana hati, dan perasaan mudah marah. Mengonsumsi gula berlebihan juga dapat berdampak negatif pada kesehatan dan kesejahteraan Anda secara keseluruhan.
3. Makanan olahan atau cepat saji
Jenis makanan ini sering kali mengandung lemak tidak sehat, zat aditif, dan pengawet yang tinggi. Makanan ini dapat menyebabkan peradangan dalam tubuh dan mengganggu keseimbangan neurotransmitter, yang berpotensi memengaruhi suasana hati dan kondisi emosional Anda. Selain itu, mengonsumsi makanan olahan dan makanan cepat saji secara teratur dapat menyebabkan perasaan lesu dan kurang berenergi, yang dapat meningkatkan kemarahan.
4. Alkohol
Meskipun beberapa orang mungkin beralih ke alkohol sebagai cara untuk mengatasi kemarahan atau stres, namun secara umum disarankan untuk menghindarinya. Alkohol adalah depresan yang dapat mengganggu penilaian dan pengambilan keputusan, mengurangi hambatan, dan mengintensifkan emosi negatif. Alkohol juga dapat mengganggu tidur Anda, yang menyebabkan peningkatan iritabilitas dan berkurangnya ketahanan emosional.
5. Makanan pedas
Makanan pedas dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh untuk sementara dan dapat memicu respons fisik yang mirip dengan reaksi “melawan atau lari”. Hal ini berpotensi meningkatkan perasaan marah atau stres pada beberapa individu. Selain itu, makanan pedas dapat menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan, yang selanjutnya dapat berkontribusi pada perasaan frustrasi atau jengkel.
6. Terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat olahan
Makanan tinggi karbohidrat olahan, seperti roti putih, pasta, dan kue-kue, dapat menyebabkan lonjakan dan penurunan kadar gula darah dengan cepat. Hal ini dapat menyebabkan perubahan suasana hati, lekas marah, dan penurunan stabilitas emosi, sehingga memperburuk kemarahan.
Baca juga: Perilaku Impulsif dan Hubungannya dengan Stres
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



