Semua artikel
Kesehatan Mental

Gen Z dan Tren Self Diagnosis: Bahaya atau Kesadaran?

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Banyak diantara kita yang langsung browsing terkait gejala permasalahan mental maupun fisik di internet. Misalnya mencari di internet tentang penyebab jantung berdebar-debar saat hendak presentasi di depan kelas, atau penyebab timbulnya rasa sedih secara tiba-tiba. Tahukah kamu bahwa perilaku tersebut merupakan langkah awal self diagnosis.

Gen z adalah generasi yang sangat familiar dengan penggunaan internet. Maka tidak heran jika hampir segala sesuatu dalam hidupnya dicari di internet. Termasuk kondisi mental yang dianggap sedang tidak baik-baik saja. Namun tahukah kamu bahwa hal tersebut bisa memicu self diagnosis yang bisa berdampak untuk kedepannya.

Self diagnosis adalah upaya untuk menilai dan mendiagnosis kondisi kesehatan mental maupun fisik berdasarkan informasi yang didapatkan dari internet, media sosial, teman, atau sumber non profesional lainnya. Hal tersebut menjadi marak terjadi seiring dengan perkembangan teknologi dan kemudahan informasi yang bisa kita akses.

Pada dasarnya self diagnosis merupakan langkah yang sangat tidak disarankan. Pasalnya hal tersebut bisa memperburuk kondisi, atau bahkan memunculkan masalah baru. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas terkait fenomena self diagnosis yang marak dilakukan oleh para gen z.

Penyebab Gen Z Melakukan Self Diagnosis

Medium shot smiley woman holding phone

Self diagnosis sebenarnya sudah cukup sering dilakukan oleh generasi sebelumnya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa fenomena self diagnosis ini menjadi lebih sering terjadi di era para gen z. Han tersebut tentu tidak tanpa alasan. Berikut beberapa penyebab yang membuat gen z sering melakukan self diagnosis:

Akses informasi yang luas

Gen z adalah generasi yang tumbuh di era perkembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan teknologi ini membuat penyebaran informasi menjadi lebih cepat dan tidak terkendali. Banyak orang bisa dengan mudah membagikan serta mengakses informasi yang dibutuhkan. Salah satunya informasi terkait kesehatan mental.

Kemudahan mengakses informasi ini membuat para gen z sangat mungkin mencari gejala gangguan mental. Dari mengetahui gejala itu akan berlanjut pada self diagnosis tanpa adanya kontribusi dari para profesional.

Peningkatan kesadaran akan kesehatan mental

Gen z adalah generasi yang sangat peduli akan kesehatan mental. Bahkan mayoritas diantara mereka merasa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Satu sisi pemahaman ini merupakan hal yang baik. Banyak gen z yang mulai menyuarakan tentang pentingnya kesehatan mental. Namun di sisi lain kesedaran akan kesehatan mental yang tidak diimbangi dengan pemahaman yang tepat justru bisa mendorong mereka untuk melakukan self diagnosis.

Pengaruh media sosial

Saat ini media sosial menjadi media penyebaran informasi yang sangat mudah dan cepat. Banyak orang yang mengakses media sosial setiap harinya. Para gen z yang sangat peka akan kesehatan mental ini tidak ragu untuk membagikan pengetahuan mereka melalui media sosial tersebut. Namun perlu diingat bahwa tidak semua orang mampu menyampaikan informasi yang tepat. Kesalahan dalam penyampaian informasi inilah yang bisa menjurus pada dampak negatif dari self diagnosis.

Baca juga: Tanda dan Cara Mengatasi Quarter Life Crisis

Dampak Negatif Self Diagnosis

Medium shot woman with copy space

Self diagnosis merupakan hal yang perlu untuk dihindari. Pasalnya, dampak negatif dari self diagnosis bisa sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Berikut beberapa dampak negatif dari self diagnosis:

Kesalahan diagnosis

Perlu diketahui bahwa seorang profesional sekalipun membutuhkan serangkaian pemeriksaan untuk bisa memberikan diagnosa. Lantas, bagaimana kamu bisa meyakini adanya suatu gangguan tertentu hanya dengan menerka-nerka yang dilandaskan dari informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya itu. Maka dari itu, self diagnosis sangat rawan berujung pada kesalahan diagnosis. Kesalahan diagnosis bukan hal yang bisa dianggap remeh. Pasalnya, dari kesalahan diagnosis ini bisa berujung pada kesalahan penanganan, dan menimbulkan masalah baru.

Kecemasan berlebih

Dampak negatif lainnya dari self diagnosis tentu bisa memicu kecemasan berlebih. Belum tentu hasil dari self diagnosis yang kamu lakukan itu benar adanya. Justru, bisa jadi hasil self diagnosis itu di lebih-lebihkan sehingga memicu kecemasan berlebih. Bisa saja timbul rasa khawatir akan kondisi mental, yang padahal kondisi tersebut tidak separah yang dibayangkan.

Menghindari bantuan profesional

Dampak yang sangat disayangkan dari self diagnosis ini adalah membuat seseorang menghindari bantuan dari profesional. Beberapa orang menganggap bahwa mereka lebih memahami apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Padahal, para profesional ini memiliki ilmu dan pemahaman yang dibutuhkan untuk melakukan diagnosis dan penanganan psikologis. Selain itu, diagnosis dari para ahli ini nantinya akan membantu menentukan jenis penanganan apa yang paling cocok sesuai dengan kondisi yang dialami.

Itu dia sedikit penjelasan terkait self diagnosis yang sedang marak terjadi dikalangan para gen z. Perlu diingat kembali bahwa self diagnosis bisa memberikan dampak yang sangat fatal untuk kondisi mental kita. Untuk itu jangan ragu melakukan konsultasi dan pemeriksaan psikologis dengan psikolog maupun psikiater. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk berkonsultasi dengan para profesional di bidang kesehatan mental. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Quarter Life Crisis: Ketidakpastian Masa Depan dan Kecemasan Gen Z

 

Sumber:

“Fenomena Self-Diagnosis di Kalangan Gen Z”. (2025). Rumah Sakit Elizabeth. https://rselizabeth.ihc.id/artikel-detail-1049-Fenomena-Self-Diagnosis-di-Kalangan-Gen-Z.html?.com. Diakses pada 25 Februari 2025.

“Why Teens Are Using TikTok to Self-Diagnose Mental Health Conditions”. (2024). Parents. https://www.parents.com/teens-are-turning-tiktok-to-self-diagnose-mental-health-8728399?.com. Diakses pada 25 Februari 2025.

“Self Diagnose di Era Digitial : Mengapa Gen Z harus Berhenti mendiagnosis diri sendiri”. (2024). Binus University. https://binus.ac.id/bekasi/2024/11/self-diagnose-di-era-digitial-mengapa-gen-z-harus-berhenti-mendiagnosis-diri-sendiri/?.com. Diakses pada 25 Februari 2025.

Annury, U. A., Yuliana, F., Suhadi, V. A. Z., & Karlina, C. S. A. (2022). Dampak self diagnose pada kondisi mental health mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. In Prosiding Seminar Nasional Ilmu Ilmu Sosial (SNIIS) (Vol. 1, pp. 481-486).

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Gen Z dan Tren Self Diagnosis: Bahaya atau Kesadaran? — DeepTalk