Deeptalk.co.id – Gaslighting merupakan bentuk kekerasan atau pelecehan emosional. Pelaku gaslighting akan memanipulasi kondisi emosional korbannya, dan membuat korbannya meragukan memori, kemampuan, pengalaman, dan persepsinya.
Gaslighting bisa dialami dimana saja, namun memang lebih umum kasus gaslighting terhadap pasangan. Terlepas dari itu, gaslighting pada gen z bisa dialami di rumah maupun sekolah. Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai gaslighting di rumah dan sekolah, dan bagaimana gen z seharusnya menanggapi para pelaku gaslighting tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat menjadi korban gaslighting, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Pasalnya, gaslighting memang bisa mempengaruhi kondisi mental seseorang, dan kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Gaslighting di Rumah

Kasus gaslighting di rumah merupakan kasus yang cukup rumit. Pasalnya, rumah seharusnya menjadi tempat aman dan berlindung bagi setiap anggota keluarga. Sayangnya, adanya pelaku gaslighting dalam sebuah rumah tangga akan membuat rumah itu tidak nyaman lagi. Justru, bisa menjadi ancaman bagi para korban gaslighting.
Bentuk gaslighting di rumah pada dasarnya bisa dalam berbagai bentuk. Semua anggota keluarga bisa berpotensi menjadi pelaku, maupun korban gaslighting. Berikut beberapa bentuk gaslighting yang terjadi di rumah:
Gaslighting oleh orang tua
Orang tua memang seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anaknya. Namun, tidak semua orang bisa bertanggung jawab seperti itu. Beberapa orang tua justru dengan tega melakukan manipulasi emosional terhadap anaknya. Misalnya dengan membuat anak meragukan kemampuan, atau memori mereka sendiri.
Gaslighting oleh pasangan
Tidak hanya orang tua, gaslighting dalam rumah tangga juga bisa dilakukan oleh pasangan. Perilaku gaslighting oleh pasangan ini mungkin sudah tidak asing lagi. Mengingat banyaknya korban gaslighting oleh pasangannya. Perilaku gaslighting oleh pasangan tidak jarang membuat korban jauh dari anggota keluarga lain, dan berdampak pada kesulitan keluar dari kondisi tersebut.
Baca juga: Gen Z dan Overgeneralisasi: Bagaimana Stereotip Mempengaruhi Kesehatan Mental
Gaslighting di Sekolah

Beberapa gen z masih menempuh pendidikan. Baik itu di sekolah, maupun di tingkat sekolah tinggi atau universitas. Tanpa kita sadari, gaslighting juga bisa dialami di sekolah. Kondisi semacam ini tentu akan mempengaruhi kualitas pendidikan, atau prestasi penderitanya.
Bentuk gaslighting di sekolah juga bisa dalam berbagai bentuk. Sama halnya dengan gaslighting di rumah, pelaku gaslighting di sekolah juga bisa siapa saja yang berkontribusi dalam sekolah tersebut. Berikut beberapa bentuk gaslighting di sekolah:
Gaslighting oleh guru
Bentuk gaslighting yang satu ini memang cukup disayangkan. Guru seharusnya bisa membuat siswanya menjadi lebih termotivasi lagi. Namun, guru yang melakukan gaslighting justru membuat korbannya meragukan kemampuan, persepsi, atau memori yang dimiliki. Dimana hal tersebut bisa menurunkan rasa percaya diri siswa.
Gaslighting oleh teman
Selain guru, gaslighting di sekolah juga bisa dilakukan oleh teman. Pada dasarnya gaslighting yang satu ini dilakukan oleh siswa ke siswa yang lain, terlepas dari segala bentuk motif yang dimiliki. Namun, pada kasus ini juga bisa membuat korban meragukan kemampuan, persepsi, atau memori yang dimiliki.
Tips Menghadapi Pelaku Gaslighting Untuk Gen Z

Kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu dengan para pelaku gaslighting. Buktinya, gaslighting bisa dialami dimana saja, dalam sektor apapun. Jika bisa, kita memang perlu menghindari pelaku gaslighting. Namun jika harus menghadapinya, sebagai seorang gen z yang cerdas dan peduli akan kesehatan mental, kamu bisa melakukan beberapa tips berikut:
Mencari dukungan
Pelaku gaslighting umumnya memang akan membuat korbannya jauh dari teman, keluarga, maupun kerabat terdekat. Namun, kamu jangan sampai terpengaruh oleh mereka. Sebisa mungkin kamu memiliki beberapa teman dekat yang bisa memberikan dukungan secara emosional. Percayalah, dukungan secara emosional ini yang akan menguatkan kamu untuk tidak lagi menjadi korban gaslighting.
Mengembangkan kesadaran
Cara lainnya bisa dengan mengembangkan kesadaran. Saat kamu melakukan cara yang satu ini, kamu akan tahu apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki. Selain itu, kamu tahu kalau orang lain berbuat tidak baik terhadapmu. Kamu juga perlu tahu seperti apa itu gaslighting, dan bagaimana ciri-cirinya. Dengan begitu, kamu bisa membaca sinyal yang tak tersirat jika itu terjadi padamu.
Mengembangkan strategi coping
Cara berikutnya untuk menghadapi pelaku gaslighting adalah dengan mengembangkan strategi coping. Cara yang satu ini akan sangat membantu mengatasi stress dan kecemasan yang ditimbulkan oleh gaslighting.
Itu dia beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi pelaku gaslighting. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua hal bisa kamu hadapi sendiri. Ada waktunya kamu membutuhkan bantuan profesional. Terutama jika perilaku gaslighting sudah mempengaruhi kondisi mentalmu. Untuk itu, jangan ragu mendapatkan pemeriksaan dan penanganan psikologis dari psikolog atau psikiater. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk bertemu dengan para profesional di bidang kesehatan mental. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mengatasi Prokrastinasi pada Gen Z: Strategi dan Tips yang Efektif
Sumber:
Baker, A. J. (2017). Gaslighting: A form of psychological manipulation. Journal of Clinical Psychology, 73(1), 15-25.
Hartup, W. W. (1999). Friendships and adaptation in the life course. Psychological Bulletin, 125(6), 727-753.
Kohlberg, L. (1981). The meaning and measurement of moral development. Clark University Press.
Stark, E. (2019). Gaslighting: How to drive your partner crazy. Journal of Couple & Relationship Therapy, 18(1), 34-51.
Stern, R. (2018). The gaslight effect: How to spot and survive the manipulation tactics people use to control others. Harmony Books.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



