Deeptalk.co.id – Istilah FOMO tentu sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Lalu, bagaimana dengan JOMO? Beberapa orang mungkin tidak familiar dengan istilah tersebut. Walaupun sekilas FOMO dan JOMO tampak mirip, namun keduanya merupakan dua kondisi yang berbeda.
FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, rasa takut akan ketertinggalan. Sedangkan JOMO adalah singkatan dari Joy of Missing Out, yaitu perasaan lega saat mengalami ketertinggalan. Dari pengertian keduanya tentu sudah bisa dilihat bagaimana FOMO dan JOMO merupakan kondisi yang saling bertolak belakang. Namun, untuk mengenal lebih jauh tentang FOMO dan JOMO, artikel kali ini akan secara khusus membahas perbedaan keduanya secara lebih spesifik, dan dampaknya terhadap kesehatan mental.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Perbedaan FOMO dan JOMO

Dari pengertian di atas kita sudah bisa melihat betapa besar perbedaan antara FOMO dan JOMO. FOMO pada dasarnya berhubungan dengan rasa takut dan kecemasan. sedangkan JOMO berhubungan dengan perasaan lega dan bahagia. Selain itu, FOMO akan memicu perasaan tertekan dan tidak cukup. Sedangkan JOMO bisa membantu untuk lebih santai dan puas. Untuk lebih spesifi, berikut berbedaan FOMO dan JOMO:
Perbedaan pengertian
FOMO adalah kondisi dimana seseorang mengalami rasa takut atau kecemasan berlebih saat melewatkan sesuatu yang dirasa penting, menyenangkan, atau berharga yang sedang dialami oleh orang lain. Sedangkan JOMO adalah kondisi dimana seseorang merasakan kelegaan atau bahagia ketika memutuskan untuk tertinggal atau melewatkan sesuatu yang tidak penting atau tidak menyenangkan bagi diri sendiri. Walaupun sama-sama berhubungan dengan ketertinggalan, namun FOMO lebih pada perasaan takut dan cemas. Sedangkan JOMO lebih memilih untuk lega dan bahagia. Selain itu, FOMO juga lebih melihat apa yang orang lain rasakan, sedangkan JOMO lebih peduli terhadap perasaan sendiri.
Perbedaan dampak
Selain dari pengertian, perbedaan FOMO dan JOMO juga bisa dilihat dari dampak yang diberikan terhadap diri sendiri. FOMO menyebabkan perasaan tidak cukup, tertekan, dan ketergantungan terhadap sosial media untuk mendapatkan informasi terkini. Sedangkan JOMO dapat membantu mengurangi stress yang dipicu oleh FOMO.
Perbedaan pengaruh terhadap kesehatan mental
Perbedaan FOMO dan JOMO juga bisa dilihat dari pengaruhnya terhadap kesehatan mental. FOMO bisa memicu stress, kecemasan, bahkan depresi. Jika dibiarkan begitu saja, maka bisa berdampak fatal. Sedangkan JOMO bisa meningkatkan rasa bahagia, kepuasan, dan juga keseimbangan hidup.
Baca juga: Dampak Positif dan Negatif FOMO Bagi Gen Z
Dampak FOMO dan JOMO Terhadap Kesehatan Mental

Baik FOMO maupun JOMO, keduanya memiliki dampak terhadap kondisi kesehatan mental. Berikut dampak FOMO dan JOMO terhadap kesehatan mental:
Dampak FOMO terhadap kesehatan mental
FOMO bisa memicu berbagai kondisi kesehatan mental bagi para penderitanya. Adapun macam-macam dampak FOMO terhadap kesehatan mental adalah sebagai berikut:
· Memicu stress dan kecemasan berlebih, khususnya saat penderita melewatkan trend atau sesuatu yang dianggap penting bagi banyak orang.
· Memicu depresi, karena selalu ada perasaan kurang terhadap segala hal yang dikerjakan. Terlepas dari berhasil atau tidaknya mereka mengikuti trend yang ada.
· Mengalami gangguan tidur, akibat obsesi mereka untuk terus update dengan trend-trend terbaru. Hal ini juga berhubungan dengan keterikatan mereka dengan media sosial.
· Mengalami penurunan kualitas hidup, karena merasa memiliki keharusan untuk selalu terhubung dengan sosial media dan trend terbaru. Hal tersebut membuatnya memiliki sedikit waktu untuk aktivitas yang lebih bermanfaat.
Dampak JOMO terhadap kesehatan mental
Selain FOMO, JOMO juga memiliki dampak terhadap kesehatan mental, yaitu:
· Mengalami peningkatkan kualitas hidup. Pasalnya, mereka tidak perlu selalu mengikuti trend yang ada. Alhasil, banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat.
· Penurunan stress dan kecemasan. JOMO tidak memiliki keharusan untuk mengikuti trend yang ada. Mereka juga lebih fokus terhadap apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Kondisi semacam inilah yang mendatangkan ketenangan, dan tentunya jauh dari stress maupun kecemasan berlebih.
· Peningkatan rasa bahagia, karena JOMO cenderung melakukan hal-hal yang mereka senangi daripada mengikuti trend yang ada.
· Penurunan ketergantungan terhadap sosial media, karena orang dengan JOMO merasa tidak perlu mendapatkan informasi terbaru, dan tidak takut ketinggalan informasi tersebut.
· Peningkatan keseimbangan hidup, karena orang dengan JOMO bisa melakukan banyak hal yang lebih bermakna dan tentunya memberikan nilai plus untuk kehidupan mereka.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai perbedaan FOMO dan JOMO, serta dampaknya terhadap kesehatan mental. Jika kamu mengalami FOMO dan merasa kondisi mentalmu terganggu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan para profesional. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk bertemu dengan para profesional di bidang kesehatan mental.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: 8 Tips Mengatasi FOMO Untuk Gen Z
Sumber:
American Psychological Association. (2020). FOMO (Fear of Missing Out).
MindTools. (n.d.). FOMO (Fear of Missing Out).
Journal of Adolescent Health. (2019). FOMO and Social Media Use Among Adolescents.
Journal of Youth and Adolescence. (2018). FOMO and Mental Health in Young Adults.
Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking. (2017). FOMO and Social Media Addiction.
Computers in Human Behavior. (2016). FOMO and Social Media Use.
Kircaburun, K., & Griffiths, M. D. (2018). Problematic social media use and FOMO in young adults. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 21(10), 661-666.
Best, P., Manktelow, K., & Taylor, B. (2016). Online risk and resilience in adolescence: A study of the relationship between FOMO, social media use, and online risk-taking. Computers in Human Behavior, 55, 102-110.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



