Semua artikel
Gangguan Psikologi

Emosi Naik Turun Pasca Melahirkan? Berikut Penjelasannya

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Setelah melahirkan bukanlah waktu yang mudah, terlebih lagi bagi mereka yang baru menjadi seorang Ibu. Banyak perubahan yang dialami, mulai dari perubahan fisik hingga perubahan rutinitas. Hal ini sering kali mengakibatkan emosi menjadi tidak terkendali.

Banyak pihak yang terkadang tidak memberikan perhatian lebih kepada Ibu yang baru melahirkan. Hal ini sering kali disebabkan karena segala perhatian hanya diberikan kepada sang anak. Padahal, Ibu juga perlu mendapatkan perhatian lebih.

Tahukah kamu, Ibu yang mengalami gangguan emosi pasca melahirkan bisa masuk ke dalam berbagai jenis gangguan mental. Untuk itu, penting bagi suami dan orang-orang disekitar memastikan Ibu dalam kondisi mental yang sehat.

Berikut beberapa jenis gangguan mental yang rentan dialami oleh Ibu pasca melahirkan:

Baby Blues Syndrome

Gangguan yang satu ini tentu sudah tidak asing lagi. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap remeh gangguan ini. Baby blues juga sering dianggap bukan kondisi gangguan mental. Padahal, kondisi ini dapat membawa berbagai dampak negatif bagi Ibu bahkan orang disekitarnya.

Baby blues syndrome merupakan kondisi dimana seorang Ibu yang baru melahirkan merasa sedih atau murung sementara waktu. Umumnya, kondisi ini akan berlangsung selama dua minggu sejak kelahiran bayi dan akan meredah seiring dengan berjalannya waktu.

Baby blues bahkan dialami oleh 80% wanita yang baru melahirkan. Baby blues memang merupakan kondisi yang lebih ringan dibandingkan dengan gangguan pasca melahirkan yang lain. Meski demikian, kondisi ini tetap jangan sampai diabaikan.

Saat mengalami baby blues Ibu akan merasa cemas tanpa sebab yang jelas, mudah tersinggung, tiba-tiba menangis tanpa sebab, menjadi tidak sabar, tidak percaya diri terhadap kemampuannya menjadi seorang ibu, menjadi lebih sensitive, dan merasa khawatir berlebih dengan keadaan bayinya.

Kondisi ini juga akan berdampak pada pola kehidupan Ibu, dimana Ibu akan mengalami kesulitan tidur, gangguan nafsu makan, tidak memperhatikan anak, bahkan dalam kondisi yang cukup parah Ibu akan merasa takut untuk menyentuh anak.

Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, baby blues dapat bekembang menjadi gangguan pasca melahirkan yang lebih berat. Hal ini juga bisa berdampak pada tumbuh kembang anak, dan memperkeruh hubungan Ibu dengan orang-orang disekitarnya.

Dengan demikian, walaupun kondisi ini umumnya terjadi hanya sesaat, namun tetap perlu menjadi perhatian. Terutama oleh suami dan keluarga. Kondisi Ibu setelah melahirkan bukanlah kondisi yang mudah. Untuk itu, bantulah Ibu untuk beradaptasi dengan kondisi baru tersebut.

Baca juga: Ini Dia Faktor yang Meningkatkan Resiko Gangguan Autis 

Post Partum Major Depression

Kondisi post partum major depression merupakan kondisi yang setingkat lebih parah dibandingkan dengan baby blues, namun masih lebih ringan dibandingkan dengan post partum psychosis depression.

Secara umum gejala yang ditunjukkan oleh penderita post partum major depression sama dengan gejala pada penderita baby blues, yang membedakan adalah waktu terjadinya depresi. Pada post partum major depression gejala yang dimunculkan akan berlangsung lebih dari dua minggu setelah melahirkan. Tidak hanya itu, gejala yang muncul juga akan lebih berat dibandingkan dengan gejala pada baby blues.

Ibu yang mengalami post partum major depression biasanya akan berbicara tidak jelas dan tidak mampu untuk mengurus anak. Ibu akan merasa ketakutan jika diminta sekedar memegang atau menggendong anaknya. Dalam kasus yang cukup berat, Ibu akan memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Tidak hanya gejala psikologis saja, Ibu yang mengalami post partum major depression juga menunjukkan gejala fisik seperti menunjukkan raut wajah yang lelah, kulit yang lebih kering dari biasanya, dan cenderung sensitif terhadap dingin.

Post Partum Psychosis Depression

Gangguan pasca melahirkan terakhir adalah post partum psychosis depression yang juga merupakan gangguan terparah dibandingkan dengan dua gangguan pasca melahirkan yang sudah dituliskan sebelumnya.

Yang membedakan kondisi post partum psychosis depression dengan post major psychosis depression adalah munculnya halusinasi pada penderita. Misalnya, Ibu akan mendapatkan bisikkan untuk mencelakai bayinya.

Kondisi ini sering disalah artikan sebagai kemasukkan roh halus. Padahal, adanya halusinasi yang dirasakan Ibu merupakan bentuk dari tingginya tingkat stress yang dialami Ibu setelah melahirkan bayinya.

Ibu yang mengalami post partum psychosis depression akan menunjukkan perubahan suasana hati yang cukup ekstrim. Mereka bahkan tidak tertarik kepada bayi yang baru saja dilahirkan.

Walaupun kondisi-kondisi di atas cenderung dialami oleh para Ibu, namun Ayah juga berpeluang mengalami gangguan yang sama. Gangguan pada Ayah umumnya akan berlangsung 3-6 bulan setelah bayi dilahirkan. Ayah akan berpeluang mengalami gangguan tersebut saat Istrinya juga mengalami gangguan yang sama.

Setelah mengetahui beragam kondisi gangguan mental yang terjadi pasca melahirkan, ada baiknya bagi kita memberikan perhatian lebih kepada orang tua yang baru saja memiliki anak. Sebagai Ibu, menjaga kesehatan mental dan fisik setelah melahirkan tidak kalah penting dengan saat mengandung.

Baik Ibu maupun Ayah, jika merasa gejala-gejala gangguan di atas, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikolog untuk mendapatkan penaganan yang tepat. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Anxiety Disorder: Seberapa Serius Gangguan Agoraphobia?

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Emosi Naik Turun Pasca Melahirkan? Berikut Penjelasannya — DeepTalk